Liputan6.com, London: Harga minyak dunia diperkirakan meningkat dan tak mustahil bisa menyentuh angka US$ 100 per barel. Hal ini mendorong pengembangan teknologi baru yang memungkinkan penggunaan bahan bakar nonminyak sebagai alternatif. Nah, bahan bakar alternatif itu adalah fuel cell yang berbahan dasar hidrogen. Teknologi itu sedang dikembangkan di London, Inggris, baru-baru ini.
Materi hidrogen terbukti bisa menggantikan bahan bakar seperti bensin dan solar. Apalagi, hidrogen tidak menghasilkan gas buang berupa gas karbon melainkan air. Menurut pakar, perpaduan antara meningkatnya permintaan bahan bakar dunia dan kenaikan harga minyak mestinya dapat mendorong pengembangan bisnis energi bebas polusi.
Alternatif lainnya adalah mobil dengan bahan bakar gas. Upaya ini bisa menjadi batu loncatan menuju kendaraan yang benar-benar bebas polusi. Namun, negara yang ingin mengembangkan teknologi itu harus berinvestasi lebih besar untuk membuat kendaraan berbahan bakar nonminyak. Terutama sebelum krisis minyak global terjadi. Pada akhirnya, kalangan dunia usaha akan menanamkan lebih banyak dana pada teknologi ini bila langkah untuk mempromosikan energi yang bersih sudah meluas.
Para penganjur energi bersih juga menyatakan, mulai sekarang pemerintah dan dunia usaha harus bekerja sama mengembangkan suatu infrastruktur energi yang bisa diperbaharui. Infrastruktur itu juga harus tersedia di berbagai belahan dunia.
Gayung pun bersambut. Penggunaan hidrogen pada kendaraan sebelumnya telah terus dikembangkan oleh para produsen otomotif dunia. Salah satunya adalah Asosiasi Hidrogen Nasional Amerika Serikat. Mereka menilai pemakaian hidrogen dianggap lebih ramah lingkungan dan dua kali lebih efisien ketimbang bahan bakar minyak [baca: Mobil Berbahan Bakar Hidrogen Terus Dikembangkan].(AIS/Rcm)
Materi hidrogen terbukti bisa menggantikan bahan bakar seperti bensin dan solar. Apalagi, hidrogen tidak menghasilkan gas buang berupa gas karbon melainkan air. Menurut pakar, perpaduan antara meningkatnya permintaan bahan bakar dunia dan kenaikan harga minyak mestinya dapat mendorong pengembangan bisnis energi bebas polusi.
Alternatif lainnya adalah mobil dengan bahan bakar gas. Upaya ini bisa menjadi batu loncatan menuju kendaraan yang benar-benar bebas polusi. Namun, negara yang ingin mengembangkan teknologi itu harus berinvestasi lebih besar untuk membuat kendaraan berbahan bakar nonminyak. Terutama sebelum krisis minyak global terjadi. Pada akhirnya, kalangan dunia usaha akan menanamkan lebih banyak dana pada teknologi ini bila langkah untuk mempromosikan energi yang bersih sudah meluas.
Para penganjur energi bersih juga menyatakan, mulai sekarang pemerintah dan dunia usaha harus bekerja sama mengembangkan suatu infrastruktur energi yang bisa diperbaharui. Infrastruktur itu juga harus tersedia di berbagai belahan dunia.
Gayung pun bersambut. Penggunaan hidrogen pada kendaraan sebelumnya telah terus dikembangkan oleh para produsen otomotif dunia. Salah satunya adalah Asosiasi Hidrogen Nasional Amerika Serikat. Mereka menilai pemakaian hidrogen dianggap lebih ramah lingkungan dan dua kali lebih efisien ketimbang bahan bakar minyak [baca: Mobil Berbahan Bakar Hidrogen Terus Dikembangkan].(AIS/Rcm)