Liputan6.com, Yogyakarta: Budayawan, sastrawan, dan sejarawan, Prof. Dr. Kuntowijoyo meninggal dunia di Rumah Sakit dr Sardjito, Yogyakarta, Selasa (22/2) sekitar pukul 16.00 WIB. Kuntowijoyo meninggal dalam usia 61 tahun akibat komplikasi penyakit sesak napas, diare, dan ginjal yang diderita setelah untuk beberapa tahun mengalami serangan virus meningo enchepalitis. Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua anak.
Menurut pihak keluarga, Kuntowijoyo masuk rumah sakit sejak Senin pagi. Namun, pada malam harinya kondisi pria kelahiran Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943 ini terus memburuk dan tekanan darahnya menurun sehingga sempat dipindahkan ke ruang perawatan intensif (ICU). Baru sehari kemudian Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada ini mengembuskan napas terakhir. Rencananya, pagi ini jenazah Kuntowijoyo disemayamkan di Balairung UGM. Selanjutnya jenazah dimakamkan di Pemakaman Keluarga Besar UGM di Sawitsari, Depok, Sleman, Yogyakarta.
Semasa hidupnya, pria yang juga mengajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini banyak menulis buku tentang sejarah, budaya, filsafat, dan sastra. Beberapa karyanya yang terkenal adalah Mantra Pejinak Ular, Isyarat, Khotbah di Atas Bukit, dan Impian Amerika. Almarhum juga aktif menulis cerita pendek dan esai di surat kabar.
Atas prestasinya, pria yang pernah mengenyam pendidikan di University of Connecticut, Amerika Serikat, kerap mendapat banyak penghargaan. Di antaranya penghargaan sastra dari Pusat Bahasa atas kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1994), ASEAN (1997), Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia (1999), dan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) atas novel Mantra Pejinak Ular (2001).(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut pihak keluarga, Kuntowijoyo masuk rumah sakit sejak Senin pagi. Namun, pada malam harinya kondisi pria kelahiran Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943 ini terus memburuk dan tekanan darahnya menurun sehingga sempat dipindahkan ke ruang perawatan intensif (ICU). Baru sehari kemudian Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada ini mengembuskan napas terakhir. Rencananya, pagi ini jenazah Kuntowijoyo disemayamkan di Balairung UGM. Selanjutnya jenazah dimakamkan di Pemakaman Keluarga Besar UGM di Sawitsari, Depok, Sleman, Yogyakarta.
Semasa hidupnya, pria yang juga mengajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini banyak menulis buku tentang sejarah, budaya, filsafat, dan sastra. Beberapa karyanya yang terkenal adalah Mantra Pejinak Ular, Isyarat, Khotbah di Atas Bukit, dan Impian Amerika. Almarhum juga aktif menulis cerita pendek dan esai di surat kabar.
Atas prestasinya, pria yang pernah mengenyam pendidikan di University of Connecticut, Amerika Serikat, kerap mendapat banyak penghargaan. Di antaranya penghargaan sastra dari Pusat Bahasa atas kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1994), ASEAN (1997), Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia (1999), dan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) atas novel Mantra Pejinak Ular (2001).(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)