Liputan6.com, Cileungsi: Lama sudah keberadaan komunitas Tionghoa di kawasan Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Namun, tak jelas betul, kapan waktunya mereka mulai menempati kawasan itu. Berkaca pada sebuah rumah berusia lebih seabad yang dihuni Gouw Lin Cun, komunitas Tionghoa mesti sudah ratusan tahun mendiami kawasan ini.
Diduga, rumah Gouw Lin Cun yang juga menjadi salah satu tetua di daerah ini, sebagai rumah tertua di Pecinan Cileungsi. Barang-barang yang ada dalam rumah membantu memperlihatkan tuanya usia rumah ini. Menurut Gow, ia tak mengetahui secara pasti sejarah tempat tinggalnya. Dulunya, rumah ini milik kakek mertuanya.
Banyak ornamen khas Cina menghiasi rumah ini. Di depan pintu rumah terukir huruf Cina yang berarti pemilik rumah dan tamu harus saling menghormati. Cat dindingnya yang putih telah memudar. Dua pintu panjang kecoklatan model lama tampak mencolok. Rumah itu juga memiliki altar sembahyang seperti rumah keluarga Tionghoa lainnya.
Menyambut Imlek, 9 Februari nanti, ia tak melakukan persiapan khusus. Pria yang telah ditinggal wafat istrinya beberapa tahun silam hanya menunggu keempat anak dan tujuh cucunya berkumpul bersama di rumah ini.(MAK/Ariyo Ardi dan Budi Sukmadianto)
Diduga, rumah Gouw Lin Cun yang juga menjadi salah satu tetua di daerah ini, sebagai rumah tertua di Pecinan Cileungsi. Barang-barang yang ada dalam rumah membantu memperlihatkan tuanya usia rumah ini. Menurut Gow, ia tak mengetahui secara pasti sejarah tempat tinggalnya. Dulunya, rumah ini milik kakek mertuanya.
Banyak ornamen khas Cina menghiasi rumah ini. Di depan pintu rumah terukir huruf Cina yang berarti pemilik rumah dan tamu harus saling menghormati. Cat dindingnya yang putih telah memudar. Dua pintu panjang kecoklatan model lama tampak mencolok. Rumah itu juga memiliki altar sembahyang seperti rumah keluarga Tionghoa lainnya.
Menyambut Imlek, 9 Februari nanti, ia tak melakukan persiapan khusus. Pria yang telah ditinggal wafat istrinya beberapa tahun silam hanya menunggu keempat anak dan tujuh cucunya berkumpul bersama di rumah ini.(MAK/Ariyo Ardi dan Budi Sukmadianto)