Liputan6.com, Aceh Jaya: Bayi-bayi dan anak bawah lima tahun di beberapa tempat pengungsian di Calang, Aceh Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam, Ahad (16/1), mendapat imunisasi. Para anak-anak ini mendapat imunisasi campak dan cacar. Selain tim medis dari Tanah Air, suntikan kekebalan terhadap kuman ini juga diberikan beberapa dokter dari Prancis.
Memasuki pekan keempat pascagempa dan Tsunami, kondisi kesehatan warga Kota Calang dan sekitarnya yang selamat relatif menurun terutama anak-anak dan orang tua. Hal ini disebabkan karena daerah ini sulit dijangkau melalui jalur darat. Sementara bantuan yang diberikan melalui udara sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan para warga.
Lantaran itulah, selain memberikan pengobatan pada para pengungsi, tim medis juga membagi-bagikan sejumlah obat-obatan dan vitamin pada anak-anak. Langkah ini diambil agar para bocah memiliki daya tahan tubuh kuat dari serangan penyakit seperti kolera, malaria, dan diare.
Sejumlah penyakit kini mulai akrab dengan pengungsi di sejumlah tempat penampungan. Dari hasil pemeriksaan sementara menyebutkan, pada umumnya para pengungsi menderita berbagai penyakit seperti infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA), penyakit kulit, gatal-gatal, diare, trauma, dan gangguan psikologis [baca: Balita Pengungsi Aceh Mulai Divaksinasi Kolera].
Menanggapi kondisi ini, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan, pihaknya sudah menyiapkan stok obat-obatan. Bahkan, persediaan obat-obatan itu cukup untuk setahun mendatang. Begitu juga dengan dokter. Sejauh ini, dokter di Aceh jumlahnya sudah cukup. Namun, yang kurang adalah tenaga medis perawat.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)
Memasuki pekan keempat pascagempa dan Tsunami, kondisi kesehatan warga Kota Calang dan sekitarnya yang selamat relatif menurun terutama anak-anak dan orang tua. Hal ini disebabkan karena daerah ini sulit dijangkau melalui jalur darat. Sementara bantuan yang diberikan melalui udara sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan para warga.
Lantaran itulah, selain memberikan pengobatan pada para pengungsi, tim medis juga membagi-bagikan sejumlah obat-obatan dan vitamin pada anak-anak. Langkah ini diambil agar para bocah memiliki daya tahan tubuh kuat dari serangan penyakit seperti kolera, malaria, dan diare.
Sejumlah penyakit kini mulai akrab dengan pengungsi di sejumlah tempat penampungan. Dari hasil pemeriksaan sementara menyebutkan, pada umumnya para pengungsi menderita berbagai penyakit seperti infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA), penyakit kulit, gatal-gatal, diare, trauma, dan gangguan psikologis [baca: Balita Pengungsi Aceh Mulai Divaksinasi Kolera].
Menanggapi kondisi ini, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan, pihaknya sudah menyiapkan stok obat-obatan. Bahkan, persediaan obat-obatan itu cukup untuk setahun mendatang. Begitu juga dengan dokter. Sejauh ini, dokter di Aceh jumlahnya sudah cukup. Namun, yang kurang adalah tenaga medis perawat.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)