Liputan6.com, Cilegon: Lenggak-lenggok peragawati mewarnai pergelaran pameran peragaan busana batik di Cilegon, Banten, baru-baru ini. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya dua belas motif batik Banten dipamerkan. Motif yang dipertunjukkan kepada publik merupakan bagian dari 75 motif hias fragmen kreweng--bentuk gerabah yang ditemukan sejumlah arkeolog di situs Kerajaan Banten Lama.
Menurut Arkeolog Hasan Muarif Ambary, motif dasar fragmen kreweng ditemukan para arkeolog di situs Banten Lama pada 1976. Ke-75 ragam hias fragmen tersebut secara bertahap didesain dalam bentuk batik. Untuk tahap pertama telah selesai sebanyak 12 desain motif yang diberi nama sesuai sejumlah nama desa kuno di situs Banten Lama, nama gelar, dan nama ruang keraton. Kesemuanya itu antara lain Banten Pasulaman (kampung perajin sulam); Pamaranggen; Pancaniti; Mandalika (putra Sultan Maulana Yusuf--Sultan Banten II, Arya Mandalika); dan Kapurban.
Kelak, batik Banten akan dijadikan batik budaya yang digunakan untuk pakaian adat dan seragam pegawai. Meski demikian, beberapa kalangan sempat memprotes pembuatan batik Banten. Sebab, mereka menilai motif hiasan dalam pecahan tembikar tidak relevan dibuat dalam bentuk kreasi batik. Lagi pula tradisi batik tidak dikenal dalam masa Kesultanan Banten.(AIS/Agus Faisal Karim)
Menurut Arkeolog Hasan Muarif Ambary, motif dasar fragmen kreweng ditemukan para arkeolog di situs Banten Lama pada 1976. Ke-75 ragam hias fragmen tersebut secara bertahap didesain dalam bentuk batik. Untuk tahap pertama telah selesai sebanyak 12 desain motif yang diberi nama sesuai sejumlah nama desa kuno di situs Banten Lama, nama gelar, dan nama ruang keraton. Kesemuanya itu antara lain Banten Pasulaman (kampung perajin sulam); Pamaranggen; Pancaniti; Mandalika (putra Sultan Maulana Yusuf--Sultan Banten II, Arya Mandalika); dan Kapurban.
Kelak, batik Banten akan dijadikan batik budaya yang digunakan untuk pakaian adat dan seragam pegawai. Meski demikian, beberapa kalangan sempat memprotes pembuatan batik Banten. Sebab, mereka menilai motif hiasan dalam pecahan tembikar tidak relevan dibuat dalam bentuk kreasi batik. Lagi pula tradisi batik tidak dikenal dalam masa Kesultanan Banten.(AIS/Agus Faisal Karim)