Arsen Menutup Rapat Mulut Munir Selamanya

Acara yang digelar Imparsial adalah pertemuan terakhir Munir sebelum ajal menjemput. Munir tewas di atas pesawat Garuda GA-974 tujuan Belanda. Dia meninggal dunia dengan tubuh terdapat racun arsenik.

oleh Liputan6Diterbitkan 03 Desember 2004, 02:19 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Suara tawa dan canda akrab terdengar jelas di Kantor Imparsial, Jalan Diponegoro Nomor 9, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (3/10) malam. Di antara undangan yang duduk bersila, terlihat sosok kecil berkumis merah. Munir namanya. Pejuang hak asasi manusia itu terlihat santai menanggapi lelucon yang dilontarkan kepadanya. Tak ada kesedihan dalam acara yang digelar Imparsial untuk melepas Munir ke Belanda. Memang, pada 7 September, Munir akan melanjutkan studi master (S2) bidang Hukum di Universitas Utrecht, Belanda. Namun takdir berkata lain. Pria yang dikenal tak mempunyai rasa takut itu meninggal dalam pesawat Garuda. Dia diracun.

Kematian Munir masih menyisakan sejumlah teka-teki. Tetapi keterangan saksi mestinya bisa menuntun polisi ke arah tersangka yang meracun suami dari Suciwati itu. Kesaksian Hendardi, misalnya. Direktur Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) itu menyebut seorang pilot pesawat Garuda Pollycarpus Budihari Priyanto pernah mendekatinya. Hendardi mengaku beberapa kali ditawari tiket gratis oleh Pollycarpus dengan tujuan Papua. Kabarnya, Polly juga pernah menelepon Suciwati, istri Munir, pada 3 Maret silam, menanyakan keberangkatan Munir ke Belanda.

Hubungan antara Pollycarpus dan kematian Munir memang menarik. Pasalnya, dia juga yang mengajak Munir saat berada dalam pesawat untuk pindah duduk ke bangku nomor 3 K di kelas bisnis. Padahal sebelumnya, Munir terdaftar di kelas ekonomi dengan nomor tempat duduk 40 G. Menurut Pollycarpus, Munir tampak sehat saat itu. Namun, Polly yang termasuk 40 orang saksi yang ditanyai polisi enggan namanya dikaitkan dengan kematian pria kelahiran Malang, 8 Desember 1965.

Teka-teki lain yang menyelimuti kematian Munir adalah kapan racun arsenik itu masuk ke dalam tubuhnya. Seperti diketahui, Munir terbang dengan pesawat Garuda GA-974 tujuan Jakarta-Amsterdam via Singapura. Sekitar pukul 22.55 waktu Singapura, dia tiba di Bandara Changi. Munir memilih menunggu di ruang tunggu ketika istirahat selama 55 menit. Dia juga sempat makan mie goreng dan minum jus jeruk. Sekitar 2,5 jam setelah lepas landas dari Bandara Changi, Munir mulai muntah-muntah. Selanjutnya, Kapten Pantun Matondang memerintahkan pramugari meminta bantuan dokter Tarmizi Hakim yang duduk di kursi 1 J. Tarmizi kemudian memberi Munir obat penenang [baca: Dokter Sepesawat dengan Munir Diperiksa].

Setelah mendapat pengobatan dari dokter, tempat duduk Munir dipindahkan berdekatan dengan tempat duduk dokter Tarmizi. Saat itu, Munir mulai tenang dan beristirahat. Namun sekitar dua jam pesawat akan mendarat di Bandara Schipol, Belanda, Munir sudah meninggal dunia. Sekitar pukul 14.10 waktu setempat, pesawat mendarat di Bandara Schipol. Sesuai dengan ketentuan otoritas Bandara Schipol, pihak bandara memeriksa jenazah Munir. Sementara pihak Garuda berkoordinasi dengan Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag. Belakangan diketahui, tim forensik dari Lembaga Forensik Netherland menyatakan Munir tewas karena racun arsenik. Namun kapan tepatnya racun itu masuk ke tubuh Munir, belum dapat dipastikan.

Mulai dari situ, pengungkapan kasus Munir seakan ditutupi pemerintah Indonesia. Suciwati mengeluhkan kelambanan Departemen Luar Negeri dan Polri menyikapi hasil otopsi jenazah Munir. Suciwati mengaku langsung mengontak Deplu ketika pertama kali mendengar hasil otopsi telah dikirim ke Indonesia pada akhir Oktober silam. Telepon Suciwati diterima Juru Bicara Deplu Yuri Thamrin. Dia kemudian dihubungkan dengan Marty Natalegawa yang juga jubir Deplu. "Dari situ, saya diberitahu bahwa mereka [Deplu] harus berkoordinasi dengan Menkopolkam Widodo A.S.," kata Suciwati.

Tak puas dengan jawaban dari Deplu, Suciwati lantas mendatangi Komisi III DPR. Suciwati didampingi Todung Mulya Lubis dan Adnan Buyung Nasution dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, M.M. Billah dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, serta Rachlan Nashidik dan Ikrar Nusa Bhakti dari Imparsial. Di DPR, Suciwati mengadukan kelambanan Deplu dan Polri [baca: Keluarga Munir Berdialog dengan Komisi III DPR].

Kelambanan Polri dan Deplu juga disayangkan sejumlah kalangan, termasuk Usman Hamid. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) itu mengatakan, Polri tampak kurang serius menyelesaikan kasus Munir. Buktinya, sampai tiga bulan sejak kematian Munir, penyelidikan masih jalan di tempat. Padahal sudah jelas, Munir tewas diracun. &quotTim forensik yang tergabung dalam Lembaga Forensik Netherland menegaskan, bahwa kematian Munir disebabkan oleh racun arsenikum yang bekerja secara cepat, dalam hitungan jam." kata Usman.

Pendapat senada juga dilontarkan ahli forensik Mu`in Idris. Menurut Mu`in, keracunan yang dialami Munir terbilang akut, bukan kronis. Hal itu terlihat dari gejala yang dialami Munir sebelum meninggal. Di antaranya adalah mengalami gangguan pencernaan seperti mual-mual, muntah-muntah, perut keram, dan diare. Sementara keracunan kronis biasanya masuk ke dalam tubuh secara bertahap. "Nanti dalam badan, terdapat perubahan. Pertama orangnya merasa lemah sekali, kemudian ada kelainan pada kulit, pigmentasi, telapak tangan kasar, kemudian rambut-rambutnya rontok," tambah Mu`in.

Menanggapi tuduhan kelambatan itu, Kepala Bagian Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Polisi Suyitno Landung beralasan, pihaknya harus mendapat keterangan yang jelas. Selain memeriksa lebih dari 40 saksi, Polri juga mengirim tim ke Belanda. "Kita dalami lagi [keterangan] saksi dan kru supaya kita mendapat kejelasan, sambil menunggu hasil diskusi analisa tim yang ke Belanda," tambah Suyitno.

Kematian Munir yang tak wajar seakan menutup serangkaian teror yang selama ini menghantuinya. Jalan hidup yang ditempuh Munir memang mengharuskan ia berseberangan dengan militer di Indonesia. Sepak terjang Munir mulai membuat kuping militer merah ketika dia masih menjadi mahasiswa S1 di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, pada 1989. Saat itu, dia menjadi salah satu relawan LBH Pos Malang yang sering memberikan bantuan hukum kepada masyarakat tertindas.

Kariernya semakin menonjol dalam memperjuangkan HAM dan hukum setelah ia ditunjuk sebagai Kepala LBH Surabaya pada 1991-1993. Karena kiprahnya yang cemerlang, dia menjadi Direktur LBH Semarang pada 1995. Setelah itu, langkah Munir untuk melabrak ketidakadilan seakan tak terbendung. Pada 1996, dia diangkat menjadi Direktur Operasional LBH Jakarta, Wakil Ketua Bidang Operasional Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (1997).

Munir kemudian menjadi Koordinator Badan Pekerja Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) pada 1996. Di lembaga inilah sosok Munir semakin ditakuti pelanggar HAM. Dia juga berjuang demi korban-korban penculikan yang dilakukan oleh Pasukan Mawar Komado Pasukan Khusus. Buntut dari kasus ini adalah pencabutan Panglima Komando Cadangan Strategi TNI Angkatan Darat Jenderal Prabowo Subianto sebagai Komandan Jenderal Kopassus [baca: Prabowo: Ada yang Ingin Mendiskreditkan Saya].

Berbarengan dengan langkahnya yang fenomenal dalam mengobrak-abrik institusi TNI, sejumlah teror terus menghantuinya. Di antaranya ketika puluhan orang berseragam Pemuda Pancamarga merusak kantor Kontras di Jalan Mendut, Jakarta Pusat, pada 26 Mei 2003. Massa yang beringas sempat memukuli staf Kontras. Mereka menuduh Munir antikesatuan RI. Alasannya, Munir kerap melontarkan kritik tajam kepada TNI saat penerapan darurat militer di Aceh.

Penyerangan yang dilakukan Pemuda Pancamarga menambah panjang serangkaian kekerasan yang dialamatkan kepada Munir. Setahun sebelumnya (Maret 2002), ratusan orang yang menamakan diri Solidaritas Keluarga Korban HAM Cawang, mendatangi kantor Kontras. Massa merusak kantor, menjarah sejumlah peralatan, dan makanan. Mereka juga memaki-maki Munir yang saat itu tak ada di lokasi karena mendatangkan para korban Tri Sakti ke rumah Wiranto.

Teror yang dialamatkan kepada Munir juga masih terus berlangsung walaupun penegak HAM itu telah meninggal. Suciwati dan Imparsial diteror dengan bingkisan bangkai ayam yang dilampiri dengan tulisan: Awas!!!!! Jangan libatkan TNI dalam kematian Munir. Mau menyusul seperti ini? [baca: SBY: Investigasi Kematian Munir Harus Transparan].

Namun Suciwati dan rekan-rekan Munir tak kenal takut. Munir yang secara harfiah berarti "cahaya yang menerangi" itu keberaniannya telah mengalir dalam darah mereka. Sejumlah langkah telah ditempuh untuk mengungkap kematian pria bertubuh kecil namun bernyali raksasa itu. Mulai dari mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga meminta bantuan Kedutaan Besar Amerika Serikat telah ditempuh Suciwati dan rekan-rekan almarhum. Mereka berharap kematian si "Cahaya" tak seperti kasus terdahulu, dipeti-eskan.(YAN)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya