Keraton Yogyakarta Menggelar Sungkeman

Sungkeman berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, hadir sejumlah bupati anom dan bupati sepuh serta para nayakapraja lainnya, termasuk Sri Paku Alam IX yang mewakili Puro Pakualaman.

oleh Liputan6Diterbitkan 15 November 2004, 09:21 WIB
Liputan6.com, Yogyakarta: Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar ritual ngabekten atau sungkemen bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1425 Hijriah. Acara dilangsungkan di Bangsal Kencana, Kompleks Keraton Yogyakarta, Sabtu (14/11) siang. Dalam ritual, Sultan Hamengku Buwono X menerima sungkem dan doa restu dari seluruh kerabat keraton dan para abdi dalem.

Ritual memberi kesempatan pada sentana dalem, baik pria maupun wanita, wedana sampai darah dalem wayah atau cucu, buyut, dan canggah sujud pada sang raja sebagai tanda bakti. Mereka juga sekaligus mohon maaf dan minta doa restu. Sungkeman diawali dengan laku dhodok atau jalan jongkok. Sujud pada sang raja biasanya dilakukan dengan cara mencium lutut Sri Sultan HB X.

Pelaksanaan ngabekten biasanya dibagi menjadi dua tahap. Hari pertama, diperuntukkan kaum laki-laki. Hari kedua ditujukan bagi kaum perempuan, termasuk sang permaisuri, Gusti Kanjeng Ratu Hemas dan lima putri Sultan HB X. Pada hari pertama, hadir sejumlah bupati anom dan bupati sepuh serta para nayakapraja lainnya. Sri Paku Alam IX yang mewakili Puro Pakualaman juga hadir dalam acara ini.

Tradisi yang lahir pada masa masuknya Islam di Pulau Jawa ini diadopsi dari kebiasaan orang Jawa dalam menghormati orang tua atau yang dituakan, termasuk para pemimpin. Tradisi makin kuat setelah raja pertama Kerajaan Mataram Islam, Panembahan Senopati diangkat sebagai Sayyidina Kalifatullah. Gelar ini bermakna wali atau petinggi agama dengan tugas utama merealisasi pengawasan kehidupan beragama di wilayahnya, termasuk melestarikan tradisi sungkeman.(ICH/Wiwik Susilo dan Ferry Aditri)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya