Liputan6.com, Pandeglang: Lelaki setengah baya itu menyita perhatian warga Kampung Kadudodol, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, Banten. Dalam sebuah pertunjukan pada suatu siang awal November silam, dia berlenggak-lenggok mengikuti alunan rebana. Sekonyong-konyong, bajunya dilepas. Tak lepas dari iringan musik, sebuah paku besar ditusukkan ke sejumlah bagian tubuhnya dengan palu besar.
Ajaib. Tak ada darah mengalir dari tubuh lelaki itu. Mulutnya juga tak mengerang kesakitan. Semua tampak biasa. Ini adalah bagian dari ritual Almadad--sebuah ritual asal daerah Banten yang menjadi cikal bakal atraksi kekebalan yang kerap disebut Debus.
Debus sudah dikenal di wilayah Banten sejak ratusan tahun silam. Atraksi ini semula disebut Almadad. Tepatnya, pada masa awal penyebaran Islam di Banten atau sekitar Abad 16 saat Banten masih di bawah kepemimpinan Sultan Syekh Maulana Hasanuddin. Saat itu, Almadad digunakan sebagai alat untuk menarik minat masyarakat Banten agar memeluk ajaran Islam. Tapi, atraksi yang diperkenalkan ketika itu hanya berupa permainan menancapkan paku ke tubuh seseorang dengan menggunakan pemukul berukuran besar.
Saat itu, Almadad diperagakan para utusan sultan di hadapan khalayak ramai. Jika ada orang lain yang berminat meniru atau mendemonstrasikan kekebalan tubuhnya melalui atraksi ini, para utusan sultan akan memintanya mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dulu. Otomatis, orang yang melafalkan dua kalimat syahadat menjadi Islam seketika. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, Almadad diisi beragam atraksi. Ada mengupas kelapa menggunakan gigi, memecahkan batok kelapanya dengan kepala, malah ada yang menggoreng telur di atas kepala.
Almadad juga tak lagi sekadar memakai paku dan palu besar yang disebut gada. Di Banten, Almadad pada mulanya adalah permainan yang dikembangkan kelompok pelaku tasawuf yang bergabung dalam Tarekat Rifa`iyah. Ajaran tarekat ini dibawa Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makassary al-Bantany dari Aceh. Syekh Yusuf ini tak lain salah satu menantu Sultan Banten yang juga bertugas sebagai penasihat kesultanan. Tak heran, tradisi ini hingga sekarang masih sering diperagakan untuk menyambut datangnya hari-hari besar agama Islam, termasuk malam lailatulkadar, malam penuh berkah yang datang di malam ganjil di antara sepuluh hari terakhir Ramadan.
Di Kampung Kadudodol, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, ada sebuah kelompok Almadad yang dipimpin Haji Surya yang juga bertindak sebagai "syekh" atau pemimpin ritual. Konon, pada masa lampau, ritual Almadad hanya boleh dipimpin seorang syekh yang memiliki otoritas keilmuan di lingkungan Tarekat Rifa`iyah. Tapi, kini peran syekh cukup dilakukan orang yang telah dianggap mampu. Syekh inilah yang nantinya memimpin pembacaan doa untuk mendatangkan sekitar 40 ruh yang dipandang bisa memberikan kekuatan. Di antara ruh-ruh itu, ada nama Syekh Ahmad Rifai, pendiri Tarekat Rifa`iyah dan Syekh Samman, pendiri Tarekat Samaniyah.
Untuk menjadi seorang syekh, ada ritual khusus yang perlu dilakukan, yakni mandi di mata air Cibulakan. Bagi kelompok Almadad pimpinan Haji Surya, mandi di mata air Cibulakan dianggap sebagai proses pengambilan ijazah bagi seseorang yang akan menjadi syekh. Salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh seorang calon syekh adalah orang itu harus berusia di atas 45 tahun. Kebetulan, Haji Surya malam ini akan disahkan menjadi seorang syekh dengan berendam di mata air Cibulakan.
Sesuai dengan fungsinya sebagai salah satu media untuk menyebarkan ajaran Islam, para pemain Almadad haruslah menjauhi berbagai larangan agama. Misalnya, berjudi, menenggak minuman keras, dan berzinah. Jika salah satu pantangan atau larangan ini dilanggar, akan ada peristiwa buruk yang dialami pemainnya. Biasanya, sebelum menjalani ritual, para pemain terlebih dulu harus mensucikan diri dengan berwudu.
Ritual Almadad juga memerlukan parawanten atau sesaji. Biasanya, kaum perempuanlah yang bertugas menyiapkan parawanten untuk ritual Almadad. Parawanten ini nantinya dihidangkan kepada para pemain Almadad. Setelah perlengkapan ritual Almadad, seperti terbang atau rebana dikumpulkan, warga pun bergerak menuju tempat ritual.
Saat ritual Almadad tiba. Haji Surya bersama para pemain sudah tiba di lokasi. Dengan khusyuk, Haji Surya memimpin zikir dan membakar dupa yang kemudian dilanjutkan pembacaan tawasul yang dilantunkan semua hadirin. Ritual penusukan paku ke dalam tubuh mulai dilakukan. Pada ritual ini, lafal Almadad selalu diucapkan setelah menyebut nama-nama wali. Dengan formula doa seperti itu diharapkan ada bantuan dari sang wali agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan akibat atraksi ini. Selain itu, segala luka yang disebabkan penusukan bisa disembuhkan.
Penusukan paku menggunakan palu besar ini dilakukan untuk menguji sejauh mana tingkat kefanaan manusia. Jika kefanaan ini sudah terlewati, para pemain percaya akan datang kekuatan Allah SWT yang maha dahsyat. Kekuatan inilah yang diyakini membuat pemain tak terluka saat dihujami paku dengan pukulan gada.(ORS/R. Satriana Budi dan Bambang Triono)
Ajaib. Tak ada darah mengalir dari tubuh lelaki itu. Mulutnya juga tak mengerang kesakitan. Semua tampak biasa. Ini adalah bagian dari ritual Almadad--sebuah ritual asal daerah Banten yang menjadi cikal bakal atraksi kekebalan yang kerap disebut Debus.
Debus sudah dikenal di wilayah Banten sejak ratusan tahun silam. Atraksi ini semula disebut Almadad. Tepatnya, pada masa awal penyebaran Islam di Banten atau sekitar Abad 16 saat Banten masih di bawah kepemimpinan Sultan Syekh Maulana Hasanuddin. Saat itu, Almadad digunakan sebagai alat untuk menarik minat masyarakat Banten agar memeluk ajaran Islam. Tapi, atraksi yang diperkenalkan ketika itu hanya berupa permainan menancapkan paku ke tubuh seseorang dengan menggunakan pemukul berukuran besar.
Saat itu, Almadad diperagakan para utusan sultan di hadapan khalayak ramai. Jika ada orang lain yang berminat meniru atau mendemonstrasikan kekebalan tubuhnya melalui atraksi ini, para utusan sultan akan memintanya mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dulu. Otomatis, orang yang melafalkan dua kalimat syahadat menjadi Islam seketika. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, Almadad diisi beragam atraksi. Ada mengupas kelapa menggunakan gigi, memecahkan batok kelapanya dengan kepala, malah ada yang menggoreng telur di atas kepala.
Almadad juga tak lagi sekadar memakai paku dan palu besar yang disebut gada. Di Banten, Almadad pada mulanya adalah permainan yang dikembangkan kelompok pelaku tasawuf yang bergabung dalam Tarekat Rifa`iyah. Ajaran tarekat ini dibawa Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makassary al-Bantany dari Aceh. Syekh Yusuf ini tak lain salah satu menantu Sultan Banten yang juga bertugas sebagai penasihat kesultanan. Tak heran, tradisi ini hingga sekarang masih sering diperagakan untuk menyambut datangnya hari-hari besar agama Islam, termasuk malam lailatulkadar, malam penuh berkah yang datang di malam ganjil di antara sepuluh hari terakhir Ramadan.
Di Kampung Kadudodol, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, ada sebuah kelompok Almadad yang dipimpin Haji Surya yang juga bertindak sebagai "syekh" atau pemimpin ritual. Konon, pada masa lampau, ritual Almadad hanya boleh dipimpin seorang syekh yang memiliki otoritas keilmuan di lingkungan Tarekat Rifa`iyah. Tapi, kini peran syekh cukup dilakukan orang yang telah dianggap mampu. Syekh inilah yang nantinya memimpin pembacaan doa untuk mendatangkan sekitar 40 ruh yang dipandang bisa memberikan kekuatan. Di antara ruh-ruh itu, ada nama Syekh Ahmad Rifai, pendiri Tarekat Rifa`iyah dan Syekh Samman, pendiri Tarekat Samaniyah.
Untuk menjadi seorang syekh, ada ritual khusus yang perlu dilakukan, yakni mandi di mata air Cibulakan. Bagi kelompok Almadad pimpinan Haji Surya, mandi di mata air Cibulakan dianggap sebagai proses pengambilan ijazah bagi seseorang yang akan menjadi syekh. Salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh seorang calon syekh adalah orang itu harus berusia di atas 45 tahun. Kebetulan, Haji Surya malam ini akan disahkan menjadi seorang syekh dengan berendam di mata air Cibulakan.
Sesuai dengan fungsinya sebagai salah satu media untuk menyebarkan ajaran Islam, para pemain Almadad haruslah menjauhi berbagai larangan agama. Misalnya, berjudi, menenggak minuman keras, dan berzinah. Jika salah satu pantangan atau larangan ini dilanggar, akan ada peristiwa buruk yang dialami pemainnya. Biasanya, sebelum menjalani ritual, para pemain terlebih dulu harus mensucikan diri dengan berwudu.
Ritual Almadad juga memerlukan parawanten atau sesaji. Biasanya, kaum perempuanlah yang bertugas menyiapkan parawanten untuk ritual Almadad. Parawanten ini nantinya dihidangkan kepada para pemain Almadad. Setelah perlengkapan ritual Almadad, seperti terbang atau rebana dikumpulkan, warga pun bergerak menuju tempat ritual.
Saat ritual Almadad tiba. Haji Surya bersama para pemain sudah tiba di lokasi. Dengan khusyuk, Haji Surya memimpin zikir dan membakar dupa yang kemudian dilanjutkan pembacaan tawasul yang dilantunkan semua hadirin. Ritual penusukan paku ke dalam tubuh mulai dilakukan. Pada ritual ini, lafal Almadad selalu diucapkan setelah menyebut nama-nama wali. Dengan formula doa seperti itu diharapkan ada bantuan dari sang wali agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan akibat atraksi ini. Selain itu, segala luka yang disebabkan penusukan bisa disembuhkan.
Penusukan paku menggunakan palu besar ini dilakukan untuk menguji sejauh mana tingkat kefanaan manusia. Jika kefanaan ini sudah terlewati, para pemain percaya akan datang kekuatan Allah SWT yang maha dahsyat. Kekuatan inilah yang diyakini membuat pemain tak terluka saat dihujami paku dengan pukulan gada.(ORS/R. Satriana Budi dan Bambang Triono)