Liputan6.com, Jakarta: Setelah seharian penuh berpuasa, waktu tenggelamnya matahari menjadi saat yang ditunggu-tunggu. Ketika itulah umat Islam yang berpuasa membatalkan saumnya. Bagi Meutia Farida Hatta Swasono, putri pertama Proklamator Indonesia Mohammad Hatta, saat berbuka puasa adalah saat yang baik untuk bercengkerama dengan keluarga. Menurut Meutia, berkumpul bersama keluarga di meja makan juga ibadah yang menyenangkan.
Tak berbeda dengan ibu rumah tangga lainnya, Meutia juga selalu menyiapkan makanan berbuka puasa bagi sang suami Sri Edi Swasono dan putranya, Tan Sri Zulfikar Yusuf. Beragam hidangan khas Indonesia selalu menyambut anggota keluarga yang berkumpul di meja makan.
Kesibukan Meutia sebagai Deputi Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata serta akademisi di Universitas Indonesia membuatnya jarang berkumpul bersama keluarga. Apalagi suami dan anaknya pun memiliki kesibukan masing-masing. Namun, pada saat Ramadan, keluarga kecil ini jadi kerap berkumpul dan mengisi berbagai kegiatan, di antaranya membaca ayat suci Alquran bersama dan bermain piano.
Diskusi-diskusi kecil juga mewarnai kegiatan keluarga ini saat berkumpul. Edi dan Zulfikar sangat mendukung keberhasilan sang ibu yang belakangan ini disebut-sebut sebagai calon kuat salah satu menteri dalam pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Meutia mengaku bertekad mengembalikan Indonesia pada pemikiran awal para pendiri bangsa, termasuk pemikiran sang ayah. "Negara ini adalah yang disebut negara kesejahteraan sosial atau welfare state. Ini negara hukum, bukan negara kekuasaan," kata dia.
Pemikiran-pemikiran Mohammad Hatta memang kuat tertanam dalam pribadi putri yang pernah mendampingi Bung Hatta saat menjadi Senior Fellow di East-West Center, Honolulu, Hawaii, pada 1968. Bagi Meutia, pemikiran Bapak Koperasi Indonesia ini tidak pernah lekang oleh zaman dan tetap cocok diterapkan di Indonesia hingga kini.(OZI/Wendy Surya dan Yudi Wibowo)
Tak berbeda dengan ibu rumah tangga lainnya, Meutia juga selalu menyiapkan makanan berbuka puasa bagi sang suami Sri Edi Swasono dan putranya, Tan Sri Zulfikar Yusuf. Beragam hidangan khas Indonesia selalu menyambut anggota keluarga yang berkumpul di meja makan.
Kesibukan Meutia sebagai Deputi Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata serta akademisi di Universitas Indonesia membuatnya jarang berkumpul bersama keluarga. Apalagi suami dan anaknya pun memiliki kesibukan masing-masing. Namun, pada saat Ramadan, keluarga kecil ini jadi kerap berkumpul dan mengisi berbagai kegiatan, di antaranya membaca ayat suci Alquran bersama dan bermain piano.
Diskusi-diskusi kecil juga mewarnai kegiatan keluarga ini saat berkumpul. Edi dan Zulfikar sangat mendukung keberhasilan sang ibu yang belakangan ini disebut-sebut sebagai calon kuat salah satu menteri dalam pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Meutia mengaku bertekad mengembalikan Indonesia pada pemikiran awal para pendiri bangsa, termasuk pemikiran sang ayah. "Negara ini adalah yang disebut negara kesejahteraan sosial atau welfare state. Ini negara hukum, bukan negara kekuasaan," kata dia.
Pemikiran-pemikiran Mohammad Hatta memang kuat tertanam dalam pribadi putri yang pernah mendampingi Bung Hatta saat menjadi Senior Fellow di East-West Center, Honolulu, Hawaii, pada 1968. Bagi Meutia, pemikiran Bapak Koperasi Indonesia ini tidak pernah lekang oleh zaman dan tetap cocok diterapkan di Indonesia hingga kini.(OZI/Wendy Surya dan Yudi Wibowo)