Borok Pengiriman TKI Itu Bernama Kerancuan Identitas

Tak hanya jati diri TKW yang diubah seenaknya. Identitas PJTKI yang mengirimkan ribuan pahlawan devisa juga rancu. Tidak jarang mereka pulang kampung tanpa membawa gaji karena kerancuan identitas.

oleh Liputan6Diterbitkan 06 Oktober 2004, 19:59 WIB
Liputan6.com, Indramayu: Kerancuan jati diri tenaga kerja wanita yang disandera di Irak menguak borok lain di bisnis pengiriman tenaga kerja di Indonesia. Parahnya, masalah perubahan identitas seperti ganti nama adalah hal yang lumrah di kalangan perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI). Padahal tindakan itu mempersulit TKW. Tidak jarang majikan enggan membayar uang gaji karena identitas TKW berbeda dengan dokumen yang dimiliki.

Salah satu pahlawan devisa yang mengalami hal itu adalah Sri Jayanti. Tetangga Casingkem--TKW yang disandera di Tentara Islam di Irak--mengaku pernah mengalami penggantian nama. Sri tidak bisa berbuat apa-apa karena yang berkuasa adalah PJTKI. "Udah banyak kali, contohnya," kata Sri di Desa Bongas, Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Selasa (5/10).

Menurut Sri, penggantian identitas itu dilakukan pihak PJTKI di luar negeri tanpa alasan jelas. Padahal kondisi itu menyulitkan TKW, terutama dalam hal kontrak kerja dan pembayaran gaji. Menurut dia, dalam sebuah pesawat yang membawa mereka pulang, sedikitnya 10 hingga 15 TKW yang tidak mengantongi upah. Untuk memberantas hal itu, Sri menyarankan TKW untuk berani protes.

Kerancuan ternyata tidak hanya terdapat dalam jati diri TKW. PJTKI yang mengirimkan para tenaga kerja pun mengalami hal yang sama. Salah satunya dilakukan oleh PT Sabrina Paramitha yang memberangkatkan Istiqomah ke Yordania [baca: Sugianto: Sandera Itu Istri Saya].

Nama Sabrina ternyata digunakan lebih dari satu PJTKI. PT Sabrina yang menurut Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea dicabut izinnya, ternyata berada di Palembang, Sumatra Selatan. Sementara PT Sabrina yang diakui Sugianto--suami Istiqomah--beralamat di Condet, Jaktim, sudah tidak ada. Alamat yang dimaksud sudah menjadi toko mebel bernama GM Furniture.

Berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia, hanya ada satu nama PT Sabrina Paramitha. Namun pihak PJTKI yang berkantor di Jalan Asem Baris, Jakarta Selatan, itu bersikukuh tidak pernah mengirimkan TKW bernama Istiqomah maupun Casingkem [baca: TKI Dibebaskan dalam Kondisi Sehat].

Lain lagi dengan keterangan Departemen Luar Negeri. Departemen pimpinan Hassan Wirajuda itu menyatakan, Istiqomah dan Casingkem dikirim ke Irak oleh PT Akbar Insan Prima (AIP). Rencananya pihak Depnakertrans bakal memanggil perwakilan PT AIP, Kamis besok.

Bola panas yang digulirkan Deplu tentu ditolak mentah-mentah oleh PT AIP. Direktur PT AIP Hasan Saleh Alwi menyatakan, tidak kenal dengan kedua TKW yang disandera di Irak. Hasan juga mengaku tidak pernah mengirim TKI ke wilayah Timur Tengah. Selama ini PT AIP hanya mengirim TKI ke wilayah Asia Pasifik.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya