Liputan6.com, Bekasi: Suasana duka menyelimuti keluarga Munir di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (7/9). Pasalnya, aktivis hak asasi manusia itu meninggal dunia pagi tadi. Saat ini, jenazah masih berada di Amsterdam, Belanda. Suciwati, istri almarhum, berencana terbang ke Amsterdam untuk menjemput jasad sang suami.
Senin silam, Munir berangkat ke Amsterdam untuk melanjutkan studi S-2 di Universitas Utrecht Jurusan Hukum Humaniter dengan pesawat Garuda Indonesia. Namun, ia meninggal dalam pesawat yang menuju Belanda. Menurut seorang staf Imparsial, Munir meninggal dunia tiga jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam [baca: Munir Meninggal].
Belum bisa dipastikan penyebab meninggalnya pejuang hak asasi manusia ini. Kuat dugaan, ia terkena serangan jantung. Untuk memastikannya, pihak Garuda Indonesia memutuskan almarhum diotopsi di Amsterdam. Munir yang awal Desember besok genap berusia 39 tahun memang diketahui mengidap lever. Setiap tiga pekan sekali, Munir rutin memeriksakan diri ke dokter. Namun, karena kesibukannya sebagai aktivis, Munir kerap melupakan rutinitasnya ini.
Sementara itu suasana duka juga meyelubungi rumah keluarga besar Munir di Jalan Diponegoro Nomor 169, Kota Batu, Jawa Timur. Jamilah, ibunda almarhum, mengaku sangat terpukul dengan kematian anaknya. Duka yang sama juga dirasakan Jamal, adik Munir. Jamal, bahkan sempat menerima short message service (SMS) dari sang kakak, tiga jam sebelum keberangkatannya ke Belanda. SMS berisi pesan almarhum yang meminta pihak keluarga di Batu menjaga anak dan istrinya.
Salah seorang keluarga almarhum mengatakan, sebelum wafat, Munir tidak mengeluhkan sakit apapun. keluarga di Batu juga mengaku belum menerima kabar pasti tentang meninggalnya Munir. Kepastian kabar justru didapat setelah salah satu stasiun televisi menyiarkan berita meninggalnya Munir. Hingga kini pihak keluarga di Batu belum mempersiapkan apa pun terkait pemakaman Munir. Pasalnya, kerabat dan keluarga di Batu masih menunggu kabar dari keluarga Munir di Bekasi.
Semasa hidup, sejumlah penghargaan mengiringi karier Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia (Imparsial) ini. Pria kelahiran 8 Desember 1965 ini pernah menerima penghargaan Yap Thiam Hien pada 1998. Dia juga dinobatkan majalah Asiaweek sebagai salah satu dari 20 pemimpin politik muda Asia era milenium (Young Leader for the Millennium in Asia). Pria berambut agak merah itu juga pernah mendapat Right Livelihood Award 2000 dari The Right Livelihood Award Jakob von Uexkull, Stockholm, Swedia di bidang pemajuan HAM dan kontrol sipil terhadap militer di Indonesia.(OZI/Nastiti Lestari dan Herhudi Lestari)
Senin silam, Munir berangkat ke Amsterdam untuk melanjutkan studi S-2 di Universitas Utrecht Jurusan Hukum Humaniter dengan pesawat Garuda Indonesia. Namun, ia meninggal dalam pesawat yang menuju Belanda. Menurut seorang staf Imparsial, Munir meninggal dunia tiga jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam [baca: Munir Meninggal].
Belum bisa dipastikan penyebab meninggalnya pejuang hak asasi manusia ini. Kuat dugaan, ia terkena serangan jantung. Untuk memastikannya, pihak Garuda Indonesia memutuskan almarhum diotopsi di Amsterdam. Munir yang awal Desember besok genap berusia 39 tahun memang diketahui mengidap lever. Setiap tiga pekan sekali, Munir rutin memeriksakan diri ke dokter. Namun, karena kesibukannya sebagai aktivis, Munir kerap melupakan rutinitasnya ini.
Sementara itu suasana duka juga meyelubungi rumah keluarga besar Munir di Jalan Diponegoro Nomor 169, Kota Batu, Jawa Timur. Jamilah, ibunda almarhum, mengaku sangat terpukul dengan kematian anaknya. Duka yang sama juga dirasakan Jamal, adik Munir. Jamal, bahkan sempat menerima short message service (SMS) dari sang kakak, tiga jam sebelum keberangkatannya ke Belanda. SMS berisi pesan almarhum yang meminta pihak keluarga di Batu menjaga anak dan istrinya.
Salah seorang keluarga almarhum mengatakan, sebelum wafat, Munir tidak mengeluhkan sakit apapun. keluarga di Batu juga mengaku belum menerima kabar pasti tentang meninggalnya Munir. Kepastian kabar justru didapat setelah salah satu stasiun televisi menyiarkan berita meninggalnya Munir. Hingga kini pihak keluarga di Batu belum mempersiapkan apa pun terkait pemakaman Munir. Pasalnya, kerabat dan keluarga di Batu masih menunggu kabar dari keluarga Munir di Bekasi.
Semasa hidup, sejumlah penghargaan mengiringi karier Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia (Imparsial) ini. Pria kelahiran 8 Desember 1965 ini pernah menerima penghargaan Yap Thiam Hien pada 1998. Dia juga dinobatkan majalah Asiaweek sebagai salah satu dari 20 pemimpin politik muda Asia era milenium (Young Leader for the Millennium in Asia). Pria berambut agak merah itu juga pernah mendapat Right Livelihood Award 2000 dari The Right Livelihood Award Jakob von Uexkull, Stockholm, Swedia di bidang pemajuan HAM dan kontrol sipil terhadap militer di Indonesia.(OZI/Nastiti Lestari dan Herhudi Lestari)