Prediksi Harga Bitcoin November 2026: Bertahan di US$ 75.000 atau Jatuh?

Harga Bitcoin terkoreksi ke kisaran US$ 76.000 pada 5 November 2026 seiring aksi jual saham teknologi AS. Simak analisis dan prediksi harganya.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 07 November 2026, 18:15 WIB
Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin (BTC) tertekan pada awal November 2026. Setelah sempat melaju di atas US$ 81.000, BTC terkoreksi ke kisaran US$ 76.000 pada 5 November 2026 di tengah aksi jual saham teknologi Amerika Serikat (AS).

Pelaku pasar kini mencermati dampak pemilu sela AS, arus dana ETF, dan level teknikal penting yang akan menentukan arah harga sepanjang November.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai tekanan terhadap Bitcoin perlu dilihat dalam konteks pasar yang lebih luas. Anjloknya saham teknologi AS, terutama sektor semikonduktor, menandakan investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

“Salah satu sentimen yang memengaruhi pasar adalah kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Sela AS, yang memunculkan kekhawatiran mengenai potensi regulasi dan pembatasan lebih ketat terhadap pengembangan teknologi AI, termasuk super AI,” ungkap Yudho, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu (7/11/2026).

Mengutip data CoinMarketCap, harga Bitcoin yang merupakan kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar turun 0,54% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan ini, harga bitcoin merosot 2,02%.

Kini, harga bitcoin berada di posisi US$ 75.805,90 atau Rp 1,37 miliar (asumsi kurs Rp 18.108 per dolar AS).

Hasil Pemilu Paruh Waktu AS

Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Pelemahan saham teknologi menjadi salah satu penekan utama harga Bitcoin. Pada penutupan perdagangan Jumat, indeks Nasdaq melonjak 1,09% menjadi 24.579,42. Indeks S&P 500 menguat 0,31% menjadi 7.376,86. Indeks Dow Jones melemah 237,33 poin atau 0,46% menjadi 51.285,73.

“Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan sentimen di pasar saham dapat merembet ke pasar kripto. Ketika investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, Bitcoin dan aset digital lainnya berpotensi ikut mengalami tekanan jual,” jelas Yudho.

Selain itu, pemilu sela AS pada 3 November 2026 patut dicermati karena berpotensi memengaruhi ekspektasi investor terhadap kebijakan ekonomi, regulasi industri kripto, dan arah pasar keuangan global.

Dari sisi arus dana, ETF Bitcoin spot di AS masih bergerak fluktuatif. Produk ini mencatat arus keluar bersih US$ 115,6 juta pada 3 November, dan total penarikan melampaui US$ 1,15 miliar dalam tiga sesi perdagangan. Pada 4 November, arus masuk bersih sebesar US$ 74,6 juta kembali tercatat.

Menurut Yudho, arus masuk tersebut belum cukup untuk memastikan harga pulih secara berkelanjutan.

 

Analisis Teknikal

Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Tekanan juga terlihat di pasar derivatif. Data CoinGlass mencatat total likuidasi pasar kripto sekitar US$ 1,08 miliar dalam 24 jam, dengan US$ 954,38 juta berasal dari posisi long. Banyak trader yang bertaruh harga naik justru terjepit saat Bitcoin terkoreksi.

Secara teknikal, grafik harian TradingView pada 5 November 2026 menunjukkan BTC masih bergerak dalam pola descending channel atau kanal menurun. Indikator Bollinger Bands menempatkan US$ 80.139 sebagai rata-rata pergerakan 20 hari sekaligus resistensi awal.

Jika BTC kembali di atas US$ 80.000, peluang menuju US$ 81.000–US$ 82.000 terbuka, dan penembusan area itu bisa membawa harga menguji US$ 85.000. Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut, area US$ 75.000–US$ 76.000 menjadi support penting. Bila level itu jebol, BTC berpotensi turun ke kisaran US$ 73.000.

Yudho menilai Bitcoin masih berada dalam fase pergerakan tidak menentu atau chop zone, dengan batas penting di US$ 75.000 dan US$ 90.000.

“Pergerakan Bitcoin sepanjang November 2026 diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas. Kondisi saham teknologi AS, perkembangan kebijakan pasca pemilu, arus dana ETF, serta sentimen investor akan menjadi sejumlah faktor yang mempengaruhi arah harga BTC,” tuturnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya