Kospi Anjlok 8%, Bursa Korea Selatan Hentikan Perdagangan Saham 20 Menit

Aksi jual saham teknologi di wall street berdampak terhadap pergerakan saham di indeks Kospi Korea Selatan.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 06 November 2026, 08:48 WIB
Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Operator bursa Korea Selatan pada Jumat, (6/11/2026) mengaktifkan circuit break untuk indeks saham Kospi. Hal ini terjadi di tengah aksi jual berkelanjutan sektor saham teknologi.

Mengutip Korea Timers, perdagangan saham yang tercatat di Kospi dihentikan selama 20 menit mulau pukul 09.03 waktu setempat setelah indeks itu anjlok lebih dari 8% dibandingkan penutupan sesi sebelumnya.

Indeks acuan ini mengalami tekanan jual yang berat menyusul kemerosotan saham teknologi di Wall Street, yang dipicu oleh kekhawatiran bahwa kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm) di Amerika Serikat dapat memperlambat laju pembangunan pusat data untuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Peristiwa ini menandai ke-10 kali sepanjang tahun ini pihak bursa Korea (KRX) mengaktifkan circuit breaker.

Harga saham Samsung Electronics dan SKY Hynix anjlok hampir 10%. Hingga pukul 10.30 waktu setempat, saham SK Hynix telah merosot 10,28%. Saham Samsung Electronics susut 7,99%.

Indeks acuan KOSPI dibuka melemah 2,24 persen di level 5.263,26, sebelum memicu circuit breaker hanya tiga menit setelah sesi perdagangan dimulai. Mekanisme ini menghentikan perdagangan untuk sementara selama 20 menit ketika pergerakan pasar menjadi terlalu volatil dan melampaui ambang batas tertentu.

Bursa Saham Asia

Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Sebelumnya, bursa saham Asia Pasifik melemah tajam pada perdagangan saham Jumat, (6/11/2026) mengikuti wall street. Hal ini seiring aksi jual saham teknologi telah mendorong indeks Nasdaq ke zona koreksi.

Mengutip CNBC, di bursa saham Asia, Korea Selatan mencatat penurunan terdalam. Indeks Kospi anjlok lebih dari 8% hingga turun di bawah level 5.000. Indeks Nikkei 225 di Jepang merosot lebih dari 6%, dan memasuki zona pasar bearish. Indeks ASX 200 di Australia melemah 0,9%.

Pergerakan ini terjadi setelah aksi jual masif selama sesi perdagangan reguler Wall Street pada Kamis, yang menyebabkan ketiga indeks utama mencatatkan kinerja harian terburuk sejak April 2025.

Indeks Nasdaq Composite anjlok 5,5%, ditutup lebih dari 10% di bawah level tertinggi terbarunya dan masuk ke zona koreksi. Indeks S&P 500 yang mencakup pasar luas turun 4,4%, sementara Dow anjlok lebih dari 1.800 poin atau 3,4%.

Meskipun ke-11 sektor dalam S&P 500 ditutup melemah, saham perusahaan yang terkait dengan pengembangan kecerdasan buatan (AI) mengalami tekanan paling berat.

Kemenangan besar Partai Demokrat di DPR dan Senat, serta perolehan posisi gubernur di negara bagian penting seperti Texas, memicu kekhawatiran para pelaku pasar akan potensi perlambatan dalam pembangunan pusat data (data center).

 

Gerak Saham

Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Saham Micron Technology dan Advanced Micro Devices masing-masing anjlok 17%, sementara perusahaan cloud CoreWeave turun 10%. Bahkan kelompok saham teknologi raksasa yang dikenal sebagai "Magnificent Seven" pun tidak luput. Saham Nvidia jatuh 9%, membuat kinerjanya menjadi negatif untuk 2026 dan secara keseluruhan, kelompok raksasa teknologi ini kehilangan lebih dari US$ 1 triliun atau Rp 18.073 triliun dalam nilai kapitalisasi pasar gabungan.

Ketiga indeks utama diperkirakan mencatat penurunan mingguan, dengan Nasdaq turun 4,4% dan S&P 500 melemah hampir 3% dalam periode tersebut. Indeks Dow yang terdiri dari 30 saham berkinerja relatif lebih baik dibandingkan dua indeks lainnya, dengan penurunan hanya 0,5% sepanjang minggu ini.

CIO G Squared Private Wealth, Victoria Greene mengatakan kepada CNBC pada Kamis kalau koreksi ini justru menciptakan peluang untuk membeli. "Menurut pendapat saya, tren investasi AI belum berakhir," ujarnya, seraya menambahkan bahwa kondisi ini merupakan "diskon yang menarik,” ujar dia.

Ia menyoroti saham-saham sektor memori, merujuk pada pernyataan berbagai manajemen perusahaan sepanjang musim laporan laba ini mengenai kendala kapasitas. "Membeli saat harga turun di tengah volatilitas cenderung menjadi langkah yang baik, selama kita belum memasuki masa resesi," tutur dia.

Katalis pasar lainnya menanti para investor pada Jumat pagi, yakni laporan ketenagakerjaan (payrolls) pada Oktober. Konsensus pasar memperkirakan penambahan 59.000 lapangan kerja pada bulan lalu, dengan tingkat pengangguran yang diprediksi tetap stabil di 4,2%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya