Meksiko Larang Penggunaan Ponsel di Sekolah Mulai 3 November 2026

Kebijakan larangan penggunaan ponsel di sekolah ini mengikuti langkah serupa yang telah diterapkan di lebih dari 100 negara selama satu dekade terakhir.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 04 November 2026, 14:00 WIB
Seorang siswa memegang buku dan ponsel saat jam istirahat di sela kegiatan permainan yang digelar untuk mendorong siswa mengurangi penggunaan ponsel di Mexico City, Jumat (11/9/2026). (Dok. AP Photo/Fernando Llano)

Liputan6.com, Kota Meksiko - Mulai Selasa (3/11/2026), sekolah-sekolah di Meksiko akan melarang penggunaan ponsel di ruang kelas sebagai bagian dari upaya pemerintah federal membatasi penggunaan perangkat elektronik di kalangan anak-anak dan remaja. 

Kebijakan yang digagas Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum tersebut mendapat dukungan para ahli. Mereka menilai pembatasan penggunaan ponsel dapat membantu mengurangi paparan teknologi di kalangan anak-anak dan remaja, sekaligus menekan risiko gangguan perhatian, stres, dan kecemasan yang ditimbulkannya.

Pemerintah Meksiko tengah menyiapkan aturan lain yang akan diberlakukan pada bulan ini. Aturan tersebut mewajibkan platform digital menghapus unggahan yang mengandung ujaran kebencian, kekerasan, kekerasan seksual, pelecehan, perundungan siber, serta konten ilegal lainnya.

Namun, larangan penggunaan ponsel yang mulai berlaku pada 3 November itu telah menghadapi penolakan di sejumlah wilayah. Sebagian orang tua khawatir tidak dapat berkomunikasi dengan anak-anak mereka di tengah maraknya kekerasan di Meksiko, yang juga mengancam keselamatan anak-anak dan remaja.

Menurut koalisi masyarakat sipil Jaringan Hak Anak di Meksiko (REDIM), sepanjang paruh pertama tahun ini, satu dari setiap 10 anak dan remaja berusia 0 hingga 17 tahun di Meksiko menjadi korban kejahatan yang melibatkan kelompok kriminal terorganisasi.

"Saya rasa para orang tua tidak akan menerima jika anak-anak mereka tidak dibekali sarana komunikasi digital, terutama ketika anak-anak itu ... lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di sekolah," kata Francisco Ortiz, perwakilan Persatuan Orang Tua Nasional di negara bagian Sinaloa.

Ortiz menuding pemerintah mengabaikan suara orang tua dan mengesahkan aturan yang "bertentangan dengan otoritas dan hak orang tua".

Keputusan yang dikeluarkan Sheinbaum melarang penggunaan ponsel dan perangkat elektronik di sekolah dasar serta sekolah menengah pertama sepanjang jam sekolah. Penggunaannya hanya diperbolehkan untuk kegiatan pembelajaran di bawah bimbingan guru, keadaan darurat pribadi, serta kebutuhan terkait disabilitas dan kesehatan.

Meski demikian, siswa tetap diperbolehkan membawa ponsel selama perjalanan menuju sekolah.

Benigno Gomez, seorang ayah asal Reynosa di negara bagian Tamaulipas, Meksiko utara, mengatakan bahwa dirinya memahami alasan otoritas pendidikan ingin mengurangi waktu yang dihabiskan siswa untuk menggunakan ponsel. Namun, ia menilai larangan tersebut "sedikit menyulitkan" apabila anak-anak membutuhkan ponsel untuk menghadapi situasi yang berpotensi membahayakan keselamatan mereka.

Pemerintah Meksiko belum memberikan tanggapan atas kekhawatiran tersebut. Sejauh ini, pemerintah lebih menekankan dampak negatif penggunaan ponsel.

Dalam pernyataannya baru-baru ini di hadapan Majelis Rendah Parlemen Meksiko, Menteri Pendidikan Publik Mario Delgado mengatakan bahwa pemerintahan Sheinbaum berupaya "mencegah kecanduan platform digital dan gangguan yang ditimbulkannya pada anak-anak di bawah umur".

 

 

 

Orang Tua Menginginkan Jaminan Keamanan di Tengah Kekerasan

Pada pagi 22 Oktober, ketika matahari baru mulai terbit, warga Escuinapa, ibu kota wilayah administratif bernama sama di bagian selatan negara bagian Sinaloa, dikejutkan oleh kabar penembakan.

Sebuah bus yang rutin melintasi kota kecil yang perekonomiannya bergantung pada produksi mangga dan udang itu ditembaki seorang pria yang mengendarai sepeda motor.

Saat kejadian, lebih dari selusin siswa sekolah menengah atas berada di dalam bus tersebut.

Sebuah video yang direkam salah satu penumpang kemudian beredar di media sosial. Rekaman itu memperlihatkan sejumlah pelajar tiarap di lantai bus, sementara yang lain bersembunyi di antara kursi. Dalam video tersebut, seorang remaja terdengar bertanya kepada temannya, "Kamu punya pulsa (di ponselmu)?"

Dalam serangan tersebut, sopir bus menjadi satu-satunya korban luka. Ia mengalami luka akibat pecahan kaca yang hancur terkena tembakan.

Setelah mengetahui insiden penembakan itu, seorang warga Escuinapa langsung menghubungi putrinya yang masih remaja. Sang anak telah berangkat lebih awal menuju sekolah menengah atas dengan mobil yang dikemudikan bibinya.

"Mendengar suara putri saya dan mengetahui dia baik-baik saja membuat saya tenang," kata perempuan yang meminta identitasnya dirahasiakan karena takut terhadap para pelaku kejahatan yang meneror wilayah tempat tinggalnya.

Ia mengaku tidak ragu menghubungi putrinya meskipun harus mengganggu kegiatan belajar di kelas demi memastikan keselamatannya.

Ibu tersebut meragukan para orang tua akan mematuhi larangan penggunaan ponsel. Ia khawatir kekerasan yang terjadi di Escuinapa suatu saat dapat merambah lingkungan sekolah.

"Keselamatan anak-anak kami adalah yang utama," tegasnya.

Dukungan terhadap Aturan Pembatasan Ponsel

Bagi Israel Sanchez, Presiden Persatuan Orang Tua Nasional, keputusan pemerintah Meksiko merupakan sebuah kemajuan setelah bertahun-tahun diperjuangkan organisasi masyarakat sipil tersebut.

Organisasi itu menghimpun ratusan orang tua siswa dari sekolah negeri maupun swasta, yang sebagian besar merupakan sekolah Katolik.

Sanchez berpendapat bahwa pemerintah perlu mengadakan kampanye sosialisasi kepada orang tua serta memberikan pelatihan kepada para guru agar aturan tersebut dapat diterapkan secara efektif.

Sementara itu, Dr. Lucia Magis-Weinberg, peneliti perkembangan saraf dari University of Washington yang telah bertahun-tahun mempelajari dampak teknologi terhadap anak-anak dan remaja, menilai Meksiko bergabung dalam gerakan internasional untuk mengatur penggunaan ponsel pada momentum yang sangat tepat.

Magis-Weinberg mengakui bahwa teknologi memberikan manfaat dalam menjalin hubungan sosial dan mengakses informasi. Namun, menurutnya, teknologi juga merupakan "pedang bermata dua".

Ia menekankan perlunya regulasi untuk mencegah gangguan fungsi kognitif atau kemampuan berpikir, konflik di ruang digital, serta berbagai risiko dari platform yang "dirancang untuk mempertahankan dan memaksimalkan perhatian kita".

Berdasarkan data UNESCO, larangan penggunaan ponsel di sekolah telah diterapkan di 114 negara.

Di Eropa, pembatasan penggunaan ponsel semakin luas diterapkan, terutama di Prancis yang memperluas larangan tersebut hingga jenjang sekolah menengah pada Agustus lalu.

Sejumlah negara Amerika Latin, seperti Ekuador, Brasil, Chile, Bolivia, dan Kosta Rika, telah menerapkan kebijakan pembatasan serupa.

Sementara itu, di Amerika Serikat, larangan penggunaan ponsel di sekolah hanya berlaku di sejumlah negara bagian.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya