Pergantian Pelatih di Tengah Musim: Bukan Sekadar Penyelamat, Justru Berbuah Trofi

Manchester United sudah merasakan efek positif mengganti pelatih di tengah musim. Sementara beberapa klub lain justru merebut trofi dari kebijakan tersebut.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 02 November 2026, 19:00 WIB
Manajer Manchester United (MU), Michael Carrick, menyaksikan jalannya pertandingan Liga Inggris antara Chelsea dan Manchester United di Stadion Stamford Bridge, London, Sabtu (31/10/2026). (Glyn Kirk/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Manchester United sudah merasakan efek positif pergantian manajer di tengah musim. Catatan itu bisa membuat manajemen tergoda menempuh langkah serupa pada 2026/2027.

Kursi Michael Carrick sedang panas karena gagal mempersembahkan kemenangan pada sembilan pertandingan terakhir di seluruh kompetisi. Sejauh ini manajemen masih menahan diri, meski waktu Carrick semakin habis. Dia dilaporkan hanya punya dua laga untuk memutar keadaan.

Sejak pandemi Covid-19, Setan Merah menendang manajer di tengah kampanye karena serangkaian hasil buruk. Jumlah tersebut bertambah satu jika menghitung keputusan menunjuk Ole Gunnar Solskjaer sebagai suksesor Jose Mourinho pada 2018/2019.

Seluruh pergantian itu mayoritas berbuah peningkatan posisi klasemen di Liga Inggris, walau tidak ada yang berbuah gelar.


Efek Positif Pelatih Pengganti Tengah Musim

Pelatih interim Manchester United, Michael Carrick, meninggalkan lapangan bersama Kobbie Mainoo dari Manchester United di akhir pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Liverpool di Manchester, Inggris, Minggu, 3 Mei 2026. (Foto AP/Dave Thompson)

MU berada di urutan 6 ketika Mourinho ditendang pada Desember 2018. Solskjaer datang dan sempat membawa tim ke peringkat 4, sebelum akhirnya finis posisi 6 setelah statusnya berubah dari caretaker menjadi permanen pada Maret 2019.

Dua tahun berselang, Solskjaer dipecat ketika MU menempati peringkat 7. Ralf Rangnick ditunjuk dan mengangkat tim naik satu tingkat di akhir 2021/2022.

Pada 2024/2025, Erik ten Hag dilepas karena MU berada di posisi 14. Kehadiran suksesornya Ruben Amorim lalu membuat Setan Merah turut satu tingkat. Namun, pengaruhnya diakui karena MU mencapai final Liga Europa.

Musim lalu, Amorim dipecat saat MU menempati peringkat 6. Carrick masuk dan mengangkat Bruno Fernandes dan kawan-kawan lolos Liga Champions dengan finis posisi 3.


Pergantian Berbuah Trofi

Zinedine Zidane. Ia ditunjuk Real Madrid menggantikan posisi Rafael Benitez pada tengah musim 2015/2016. Zidane sukses mempersembahkan trofi Liga Champions usai mengalahkan Atletico Madrid via adu penalti pada 28 Mei 2016 dan sukses merebutnya kembali 2 musim berturut-turut. (AFP/Filippo Monteforte)

Sejarah mencatat sejumlah pelatih mencicipi kesuksesan besar ketika nakhoda anyar dan langsung mempersembahkan trofi. Zinedine Zidane melakukannya bagi Real Madrid pada 2015/2016. Dia memperbaiki disharmonisasi kamar ganti sepeninggal Rafael Benitez dan menjuarai Liga Champions.

Zidane mengikuti jejak Vicente del Bosque yang melakukannya setelah menggantikan John Toshack di paruh 1999/2000.

Dari Jerman, Hansi Flick menorehkan prestasi lebih spektakuler. Menggantikan Niko Kovac pada paruh 2019/2020, dia membawa Bayern Munchen menjadi treble winners dengan memenangkan Bundesliga, DFB Pokal, plus Liga Champions.

Sementara di Inggris, Chelsea dua kali menjadi juara Liga Champions berkat pelatih pengganti tengah musim. Adalah Roberto Di Matteo (2011/2012) dan Thomas Tuchel (2020/2021) yang melakukannya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya