23 Usaha Menengah Disiapkan IPO

Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kementerian UMKM meluncurkan Go Public Academy for SME.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 02 November 2026, 12:58 WIB
Fajar Wibhiyadi (Direktur Utama PT. Surveyor Indonesia Persero), Saidu Solihin (Direktur Penilaian Perusahaan PT. Bursa Efek Indonesia/BEI), Jeffrey Hendrik (Direktur Utama BEI), dan Bagus Rachman (Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah/UMKM RI) dalam Seremoni Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BEI dengan Kementerian UMKM, Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BEI dengan Surveyor Indonesia, dan Peluncuran Go Public Academy for SME di Main Hall BEI, Senin (2/11/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kementerian Usaha Menengah Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) meluncurkan Go Public Academy for SME yang disiapkan agar usaha menengah naik kelas dan siap mencatatkan saham di bursa.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, program ini memperkenalkan pasar modal sebagai alternatif pembiayaan.

"Untuk jangka panjangnya, kita harapkan UMKM ini bisa naik kelas. Yang kecil menjadi menengah, yang menengah bisa menjadi besar, dan nanti pada saatnya bisa menjadi bagian dari perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia," ujar Jeffrey di Main Hall BEI, Senin (2/11/2026).

Sementara itu, Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman menyebut program ini sebagai strategi multitahun lanjutan Rise to IPO. Pendampingannya terdiri dari tujuh tahapan, mulai pemahaman pilihan pendanaan hingga persiapan IPO.

"Jangka panjang untuk melakukan pendampingan kepada usaha kecil menengah supaya dia bisa melantai di bursa, makanya program Go Public Academy ini lebih presisi lagi, ada tujuh tahapan supaya nanti akhirnya dia bisa melantai di Bursa," ungkap Bagus.

Menurut dia, sudah terdapat 43 emiten yang tercatat di papan akselerasi per 9 Juli 2025, dan menghimpun pendanaan sekitar Rp 2 triliun dari investor. Satu di antaranya sudah naik ke papan pengembangan. Saat ini, sebanyak 23 usaha menengah mengikuti coaching clinic intensif.

"42 tentunya sustain sampai Rp 2 triliun mendapatkan total semuanya, dan ini kita maintain juga, dan kita tambah lagi yang sekarang sedang intensif 23. Jadi sekarang sekitar 65 yang akan menjadi emiten, khususnya di papan akselerasi," kata Bagus.

 

 

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Optimistis Peserta Coaching Clinic IPO 2027

Jeffrey Hendrik (Direktur Utama Bursa Efek Indonesia/BEI) dalam Seremoni Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BEI dengan Kementerian UMKM, Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BEI dengan Surveyor Indonesia, dan Peluncuran Go Public Academy for SME di Main Hall BEI, Senin (2/11/2026).

Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, optimistis peserta coaching clinic segera siap. "Rasanya hampir seluruhnya, dalam tahun depan harusnya sudah siap," ujarnya.

Namun, ia menegaskan IPO bukan satu-satunya tujuan. "IPO itu adalah pilihan. Yang kita kejar adalah kualitas dari perusahaan yang memang siap IPO atau ready untuk akses terhadap pasar modal," ujar Saidu.

Bagi dia, kesiapan itu juga mencakup masa setelah melantai. "Setelah menjadi perusahaan publik, mereka siap untuk menanggung kewajiban-kewajiban sebagai perusahaan publik," ujarnya.

Karena tersebar di seluruh Indonesia, BEI menggandeng perguruan tinggi untuk pendampingan.

Dalam kriteria BEI, usaha kecil beraset hingga Rp 50 miliar dan untuk usaha menengah Rp 50 miliar–Rp250 miliar. Secara sektoral, emiten terbanyak berasal dari Food and Beverage (FnB) sebesar 30-40%, fashion sekitar 20%, dan sisanya merupakan sektor lain.

Soal aturan pencatatan, Jeffrey menegaskan ketentuannya tidak dibedakan. "Peraturan pencatatan sudah kita berlakukan, dan tentu itu berlaku untuk semua," ujarnya.

"Oleh karena itu, yang kita kedepankan adalah bagaimana UMKM mengenal dulu pasar modal, kemudian paham mempersiapkan diri, kemudian pada saatnya mampu memenuhi seluruh persyaratan," ia menambahkan.

Bagus menambahkan, peserta nantinya memiliki laporan keuangan teraudit dan prospektus yang disusun underwriter dari bank Himbara, yakni Bank Mandiri, BRI, dan BNI. Menurutnya, status terbuka juga mendorong penerapan good corporate governance yang lebih baik.

"Kita juga ada nota kesepahaman antara Kementerian UMKM dengan Bursa Efek, yang kita perkuat lagi."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya