Liputan6.com, Semarang: Ratusan petani tembakau di wilayah Provinsi Jawa Tengah mengeluhkan hujan yang terjadi menjelang musim panen. Kondisi ini menurut para petani yang ditemui SCTV, baru-baru ini, dapat merusak daun tembakau siap panen, menurunkan rendemen hingga 50 persen, dan mutu tembakau yang telah dipotong.
Rencananya, panen raya akan dilakukan Agustus hingga awal Oktober mendatang. Ribuan hektare tanaman tembakau yang tersebar di delapan sentra produksi seperti Temanggung, Kendal, dan Demak yang mulai tanam Mei dan Juni saat ini memasuki usia siap petik.
Hampir seluruh petani merisaukan cuaca yang hingga kini masih sering turun hujan. Bila terkena air hujan daun tembakau yang siap panen akan rusak dan berubah warna kuning kecoklatan. Akibatnya, mutu tembakau merosot dan harganya jatuh. Selain itu, daun matang yang terkena hujan tingkat rendemannya juga turun. Tingkat rendemen yang baik adalah 20 hingga 25 persen atau satu kuintal daun basah menjadi 20 hingga 25 kilogram tembakau rajangan kering.
Toyib Hadiwinoto, petani tembakau di Desa Sumberejo, Kecamatan Mranggen, Demak, menyebutkan, tahun sebelumnya harga tembakau sempat anjlok menjadi Rp 7.500 dari harga awal Rp 13.500 per kilogram. Selain karena curah hujan biasanya harga jatuh juga karena kelebihan produksi.(YYT/Teguh Hadiprayitno dan Kukuh Ariwibowo)
Rencananya, panen raya akan dilakukan Agustus hingga awal Oktober mendatang. Ribuan hektare tanaman tembakau yang tersebar di delapan sentra produksi seperti Temanggung, Kendal, dan Demak yang mulai tanam Mei dan Juni saat ini memasuki usia siap petik.
Hampir seluruh petani merisaukan cuaca yang hingga kini masih sering turun hujan. Bila terkena air hujan daun tembakau yang siap panen akan rusak dan berubah warna kuning kecoklatan. Akibatnya, mutu tembakau merosot dan harganya jatuh. Selain itu, daun matang yang terkena hujan tingkat rendemannya juga turun. Tingkat rendemen yang baik adalah 20 hingga 25 persen atau satu kuintal daun basah menjadi 20 hingga 25 kilogram tembakau rajangan kering.
Toyib Hadiwinoto, petani tembakau di Desa Sumberejo, Kecamatan Mranggen, Demak, menyebutkan, tahun sebelumnya harga tembakau sempat anjlok menjadi Rp 7.500 dari harga awal Rp 13.500 per kilogram. Selain karena curah hujan biasanya harga jatuh juga karena kelebihan produksi.(YYT/Teguh Hadiprayitno dan Kukuh Ariwibowo)