Realita Pahit di Balik Job Fair: Ribuan Lamaran Sedikit Pekerjaan

Perjuangan pencari kerja di job fair Jakarta diwarnai persaingan ketat, penolakan, dan ketidakpastian.

oleh Ahmad ApriyonoWinda NelfiraDiterbitkan 02 November 2026, 06:30 WIB
Di tengah ratusan lowongan yang ditawarkan dalam job fair di Gedung SMESCO, Jakarta Selatan, Eva (24) menjadi salah satu pencari kerja yang terus berjuang mendapatkan pekerjaan setelah berbulan-bulan menghadapi penolakan. (Ilustrasi oleh Djoko Poerwanto)

Liputan6.com, Jakarta - Job fair digelar di banyak tempat. Gedung-gedung dipenuhi pencari kerja, perusahaan membuka stan, dan ratusan lowongan dipajang seolah kesempatan bekerja terbuka lebar. Namun, di balik keramaian itu, ada kenyataan yang jarang terlihat bahwa tidak semua orang yang datang membawa CV pulang dengan kepastian pekerjaan.

Bagi sebagian pencari kerja, job fair justru menjadi tempat lain untuk mengantre harapan, menyerahkan lamaran, lalu menunggu kabar yang tak kunjung datang.

Di Gedung SMESCO, Jakarta Selatan, Sabtu (24/10/2026) lalu, Eva (24), seorang lulusan kampus swasta di Jakarta, masih sibuk berburu lowongan ketika sebagian orang mulai bersiap makan siang. Ia memeriksa satu per satu persyaratan pekerjaan di papan informasi, menggenggam brosur, dan mengirim lamaran ke sejumlah perusahaan melalui stan yang tersedia. Sejak lulus pada Februari lalu, puluhan lamaran sudah dikirimkannya. Ia juga mengikuti berbagai job fair, membeli kelas sertifikasi, hingga mencoba program Magang Hub. Namun, satu hal belum juga didapatkannya, panggilan wawancara.

"Aku sebenarnya enggak terlalu membatasi sektor perusahaannya harus apa. Mau retail, bank, atau kesehatan, yang penting posisinya pas di HR atau Admin sesuai jurusan Psikologi," ungkap Eva.

Berbulan-bulan mencari kerja tanpa kepastian membuatnya lelah dan kehilangan arah. Bahkan, ia mulai mempertimbangkan pekerjaan magang lagi karena merasa pengalaman yang dimilikinya belum cukup untuk bersaing mendapatkan pekerjaan tetap.

Eva tidak sendirian, ada juga Nadiva, freshgraduate lulusan kampus swasta di Yogyakarta. Setelah lulus, Nadiva mengaku sering jemput bola mendatangi beragam job fair. Meski harus berdesakan dan bersaing dengan ribuan orang serta dibayangi selentingan kalau job fair-job fair yang digelar di Indonesia hanya formalitas belaka, dirinya merasa tetap yakin ada satu atau dua perusahaan yang tersangkut kail lamarannya.

"Namanya mah cari kerja, jadi aku juga cari cari peluang yang ada, sekaligus cari infonya langsung perusahaannya seperti apa lewat job fair," katanya.

Meski begitu, Nadiva mengaku harus merogok kocek yang menurutnya tidak sedikit, untuk bisa mendatangi acara-acara job fair. Rinciannya begini, dari Depok dia harus 2 kali naik Transjakarta dan 1 kali KRL, itu kurang lebih Rp 34.000 PP. Belum lagi untuk CV dan lain-lain, bisa sampai Rp 10.000, jadi kurang lebihnya di atas Rp 50.000 untuk sekali menghadiri job fair.

"Bagi aku terasa berat juga karena kebetulan aku anak rantau juga. Kebetulan di Depok ngekost, aku asli Bali, karena pekerjaan lamaku di Depok, jadi aku masih stay di sini," ungkapnya.

Dari begitu banyak lamaran yang sudah disebar saat mendatangi job fair, Nadiva mengaku sampai yang terakhir ini, belum ada panggilan interview atau bahkan konfirmasi bahwa lamaran sedang diproses. Dirinya bahkan menceritakan, ada satu perusahaan menawarkan pekerjaan di brosur, ada lowongan Social Media Specialist untuk entry level, namun saat dirinya mengecek di situs tidak ditemukan sama sekali nama perusahaan itu.

"Harusnya transparan saja kalau memang gak dibuka gak perlu cantumin di list, jadi ngebuat kami banyak berharap," ungkapnya.

Di tengah kegalauan itu, Nadiva masih merasa akan ada titik cahaya terang yang bakal menghampirinya. Dia merasa optimis suatu hari nanti ada pekerjaan terbaik yang bisa didapatnya dari usaha melamar sana-sini.

"Tetap optimis, kalau memang jodoh dan rezeki pasti bakal dapet. Apapun itu gas trabas, yang penting udah mau coba dari pada enggak nyoba sama sekali," ungkapnya.

 

 

 

Usia 59 Masih ke Job Fair

Di tengah ratusan lowongan yang ditawarkan dalam job fair di Gedung SMESCO, Jakarta Selatan, Eva (24) menjadi salah satu pencari kerja yang terus berjuang mendapatkan pekerjaan setelah berbulan-bulan menghadapi penolakan. (Ilustrasi oleh Djoko Poerwanto)

Perjuangan serupa juga dialami Jupri yang pada usia 59 masih berkelana dari satu job fair ke job fair lain. Bedanya, jika Eva dan Nadiva sedang berusaha memulai karier, Jupri berjuang kembali ke dunia kerja setelah tiga tahun menganggur.

Pria asal Pondok Kopi, Jakarta Timur, itu sebelumnya bekerja di perusahaan pelayaran kawasan Tanjung Priok sejak 1998. Namun, pekerjaan itu terhenti setelah perusahaan tempatnya bekerja kalah tender sekitar tiga hingga empat tahun lalu. Sejak itu, ia terus mencari pekerjaan, termasuk melalui job fair. Puluhan tahun pengalaman ternyata belum cukup memudahkan langkahnya. Usia menjadi salah satu hambatan ketika harus bersaing dengan pencari kerja yang lebih muda.

"Jadi saya selama tiga tahun ini cari-mencari-mencari melulu," katanya.

Jupri kini memanfaatkan berbagai saluran untuk mencari lowongan, mulai dari TikTok, situs web, hingga email. Di lokasi job fair, ia mengirimkan lamaran ke sejumlah perusahaan melalui pemindaian barcode. Meski menyadari dirinya tidak lagi semuda pencari kerja lainnya dan harus mengejar perkembangan teknologi, semangatnya untuk kembali bekerja belum padam.

"Tapi saya walaupun umur tapi semangat kerja itu ada," ucapnya.

Kisah Eva, Nadiva, dan Jupri memperlihatkan dua sisi persoalan ketenagakerjaan yang berbeda, tetapi bertemu pada satu titik yaitu sulitnya mendapatkan pekerjaan. Bagi lulusan baru, pengalaman kerja menjadi tuntutan yang kerap sulit dipenuhi. Bagi pekerja senior, usia bisa menjadi penghalang untuk kembali masuk ke pasar kerja.

Di tengah kondisi itu, job fair terus diselenggarakan dan lowongan terus ditawarkan. Namun, seberapa jauh kegiatan tersebut benar-benar mampu mengantarkan pencari kerja ke pekerjaan yang nyata.

Situasi semakin menantang ketika pasar kerja juga diwarnai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Akibatnya, lulusan baru tidak hanya bersaing dengan sesama pencari kerja pemula, tetapi juga dengan pekerja berpengalaman yang kembali mencari pekerjaan.

Seberapa Efektif Job Fair Menyerap Tenaga Kerja?

Di tengah ratusan lowongan yang ditawarkan dalam job fair di Gedung SMESCO, Jakarta Selatan, Eva (24) menjadi salah satu pencari kerja yang terus berjuang mendapatkan pekerjaan setelah berbulan-bulan menghadapi penolakan. (Ilustrasi oleh Djoko Poerwanto)

Berbagai job fair telah digelar di Jakarta dengan ratusan lowongan pekerjaan yang ditawarkan. Namun, di tengah banyaknya kesempatan tersebut, tidak sedikit pencari kerja yang mempertanyakan tindak lanjut dari lamaran yang mereka kirimkan.

Ada pencari kerja yang mengaku telah melamar ke berbagai perusahaan, tapi tidak kunjung mendapatkan panggilan wawancara. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas job fair: berapa banyak pelamar yang benar-benar berhasil mendapatkan pekerjaan hingga menandatangani kontrak kerja?

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertransgi) DKI Jakarta, Syaripudin, menjelaskan, pihaknya merencanakan 13 kegiatan job fair sepanjang 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 11 job fair di tingkat kabupaten/kota, satu job fair tingkat provinsi, dan satu job fair khusus penyandang disabilitas.

Berdasarkan data per 20 Oktober 2026, total perusahaan yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut mencapai 358 perusahaan.

"Dari gelaran job fair itu, data 20 Oktober 2026, total partisipan perusahaan sebanyak 358 perusahaan. Progress dari 11 job fair tersebut meliputi penempatan job fair 750 orang, dalam proses seleksi 6.342 lamaran, dalam proses tes 3.015 lamaran, kemudian dalam proses wawancara 1.102 lamaran," ujar Syaripudin.

Dia, mengatakan, angka tersebut masih berpotensi bertambah karena proses rekrutmen dan seleksi masih berlangsung hingga dua sampai tiga bulan ke depan.

Menanggapi anggapan bahwa job fair hanya menjadi kegiatan formalitas untuk memberikan gambaran seolah-olah tersedia banyak lapangan pekerjaan, Syaripudin menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar.

Menurutnya, Disnakertransgi DKI Jakarta serius memastikan job fair menjadi sarana yang efektif untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan yang benar-benar memiliki kebutuhan tenaga kerja.

"Perusahaan yang diikutsertakan dalam job fair itu tidak dipilih sembarangan," katanya.

Sebelum mengikuti kegiatan, perusahaan harus melewati proses seleksi dan memenuhi sejumlah kriteria. Di antaranya memiliki lowongan pekerjaan yang benar-benar tersedia, mematuhi regulasi ketenagakerjaan, serta siap mengikuti seluruh rangkaian proses rekrutmen.

Disnakertransgi juga mengadakan pertemuan teknis (technical meeting) bersama perusahaan peserta sebelum job fair berlangsung.

Pertemuan ini membahas berbagai hal, mulai dari teknis pelaksanaan, posisi yang dibuka, mekanisme rekrutmen, hingga kesiapan perusahaan menerima lamaran dan melakukan wawancara langsung di lokasi.

Setelah kegiatan berlangsung, Disnakertransgi secara berkala menindaklanjuti perkembangan penyerapan tenaga kerja. Langkah ini dilakukan untuk memastikan jumlah pencari kerja yang benar-benar diterima bekerja melalui kegiatan job fair.

Meski demikian, Syaripudin menilai keberhasilan penyerapan tenaga kerja tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara dan perusahaan.

"Faktor paling besar memengaruhi penyerapan tenaga kerja adalah dari pencari kerja itu sendiri," ujarnya.

Oleh sebab itu, Disnakertransgi kerap menggabungkan kegiatan job fair dengan program pendukung lainnya, seperti peningkatan keterampilan (upskilling) dan career talk. Program tersebut diharapkan dapat membantu pencari kerja meningkatkan kompetensi sekaligus memahami kebutuhan dunia kerja.

 

Indikator Keberhasilan Job Fair

Di tengah ratusan lowongan yang ditawarkan dalam job fair di Gedung SMESCO, Jakarta Selatan, Eva (24) menjadi salah satu pencari kerja yang terus berjuang mendapatkan pekerjaan setelah berbulan-bulan menghadapi penolakan. (Ilustrasi oleh Djoko Poerwanto)

Syaripudin juga menjelaskan bahwa indikator utama keberhasilan job fair memang dilihat dari jumlah pencari kerja yang berhasil mendapatkan pekerjaan. Namun, ada indikator lain yang tidak kalah penting, yakni memperpendek masa transisi lulusan baru dari dunia pendidikan menuju dunia kerja.

Dia merujuk pada hasil kajian LPEM UI yang menunjukkan adanya masa transisi yang harus dilalui lulusan baru sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan.

"Maka indikator keberhasilan lainnya adalah memperpendek masa transisi pencari kerja menuju dunia kerja, karena Job Fair adalah pintu yang paling efektif untuk para pencari kerja berinteraksi dengan perusahaan, melamar pekerjaan, dan mendapatkan pengetahuan, wawasan tentang dunia kerja sehingga masa transisi ini bisa diperpendek," ujarnya.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Disnakertransgi DKI Jakarta berkomitmen menyelenggarakan job fair yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Komitmen itu diterapkan sejak tahap persiapan hingga evaluasi setelah kegiatan berlangsung.

Dalam tahap persiapan, perusahaan peserta diseleksi secara ketat dengan mempertimbangkan sejumlah kriteria, seperti legalitas perusahaan, kebutuhan tenaga kerja yang riil, serta keterbukaan terhadap penyandang disabilitas.

Selain itu, evaluasi juga dilakukan secara objektif dan akuntabel dengan berfokus pada hasil atau outcome kegiatan, khususnya dari sisi penyerapan tenaga kerja.

Syaripudin mengatakan bahwa pemantauan dilakukan melalui komunikasi berkala dengan perusahaan peserta untuk mengetahui jumlah pelamar yang benar-benar diterima bekerja melalui lowongan yang dibuka dalam kegiatan job fair.

"Proses pemantauan ini dilakukan dengan menjalin komunikasi secara berkala dengan perusahaan peserta job fair untuk melaporkan pencari kerja yang benar-benar diterima bekerja dari lowongan kerja pada event job fair ini," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya