Liputan6.com, Deliserdang - Ribuan unit rumah warga di Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, terendam banjir setelah kawasan tersebut diguyur hujan dengan intensitas tinggi, yang memicu meluapnya sejumlah aliran sungai, Kamis (29/10/2026).
Bencana hidrometeorologi ini tidak hanya merendam permukiman penduduk di delapan kecamatan, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur rumah warga yang berada di kawasan bantaran sungai akibat terjangan arus deras serta jebolnya sejumlah tanggul penahan air.
Advertisement
Berdasarkan data resmi yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Deliserdang, bencana banjir kali ini berdampak secara luas pada 16 desa yang tersebar di delapan kecamatan.
Wilayah-wilayah tersebut meliputi Kecamatan Tanjung Morawa, Hamparan Perak, Bangun Purba, Deli Tua, Sunggal, Batang Kuis, Patumbak, hingga Kecamatan Galang. Total keseluruhan rumah yang terendam di seluruh wilayah Kabupaten Deliserdang mencapai 5.403 unit dengan hampir 20 kepala keluarga yang harus merasakan dampak langsung dari musibah ini.
Kepala Pelaksana BPBD Deliserdang, Mukti Ali Harahap, menjelaskan bahwa wilayah yang paling parah terdampak adalah Kecamatan Tanjung Morawa dan Kecamatan Hamparan Perak.
Ia menyebutkan bahwa genangan air sebenarnya telah mulai merata sejak beberapa hari sebelumnya, namun situasi semakin parah akibat datangnya banjir kiriman dari kawasan hulu pegunungan yang mengalami durasi hujan jauh lebih lama.
Menurutnya, hujan di kawasan hulu dan pegunungan dapat berlangsung hingga lima jam, jauh lebih lama dibandingkan wilayah perkotaan maupun pesisir.
"Yang terbanyak Tanjung Morawa dan Kecamatan Hamparan Perak. Banjir sudah ada yang sejak dari tanggal 27 dan hari ini bertambah karena banjir kiriman. Kalau di daerah kota dan pesisir memang hujan tapi intensitasnya gak selama yang di daerah gunung karena bisa sampai 5 jam hujannya," ujar Mukti Ali Harahap saat memberikan keterangan mengenai eskalasi bencana tersebut.
Lebih lanjut, Mukti mengungkapkan bahwa kombinasi antara curah hujan ekstrem dan banjir kiriman membuat kapasitas sungai tidak mampu menampung debit air, yang kemudian berujung pada meluapnya air hingga ke daratan serta jebolnya beberapa tanggul sungai.
Dari sekian banyak wilayah yang terendam, Desa Tumpatan Nibung di Kecamatan Batang Kuis serta Desa Dalu X A dan Desa Dalu X B tercatat sebagai lokasi dengan dampak terparah. Meskipun demikian, menjelang siang hari, kondisi air di desa-desa tersebut terpantau mulai berangsur-angsur surut.
Peringatan Dini Sudah Disebar
Pihak BPBD Deliserdang sebenarnya telah berupaya mengantisipasi potensi bencana ini dengan menyebarkan peringatan dini melalui berbagai platform media sosial, mengingat prakiraan cuaca menunjukkan potensi cuaca ekstrem yang diprediksi berlangsung dari tanggal 27 hingga 30 Oktober.
"Kita sudah sosialisasi juga di medsos jadi dari tanggal 27 sampai 30 Oktober ini cuaca ekstrem," kata Mukti menegaskan langkah mitigasi yang telah ditempuh instansinya.
Namun, ancaman tidak hanya datang dari genangan air semata. Dampak kerusakan fisik juga dilaporkan terjadi di Desa Bandar Kuala, Kecamatan Galang, di mana sebanyak 11 unit rumah mengalami kerusakan berat.
Sebagian dari bangunan rumah warga yang berdiri tepat di kawasan bantaran sungai tersebut bahkan dilaporkan roboh hingga terbawa arus akibat tidak mampu menahan terjangan air.
Pantauan di lapangan pada Kamis siang menunjukkan aktivitas warga di Desa Dalu X B yang mulai bergotong royong membersihkan sisa-sisa lumpur di dalam rumah mereka. Sebagian masyarakat tampak sedikit lega karena genangan air yang berasal dari luapan Sungai Blumai tersebut hanya merendam permukiman mereka selama kurang lebih empat hingga lima jam.
Air mulai tumpah ke rumah-rumah warga sejak pukul 05.00 WIB pagi, dan berselang satu jam kemudian, akses jalan di Dusun 8, 9, dan 10 lumpuh total karena terendam air setinggi lutut orang dewasa.
Meskipun air mulai surut, perasaan cemas masih menyelimuti benak warga karena langit di atas Deliserdang masih tampak mendung dan berpotensi memicu hujan susulan. Warga berharap tidak ada lagi peningkatan debit air sungai dalam waktu dekat agar mereka dapat memulihkan kondisi tempat tinggal mereka dengan tenang.
"Alhamdulillah sudah surut tapi ini cuaca masih mendung. Kita takut tiba tiba air sungai naik lagi. Mau nggak mau sudah surut gini ya harus dibersihkan. Ya di pel lah lantainya. Berdoalah kami ini semua jangan lagi air sungai naik," ungkap Nana, seorang warga setempat yang rumahnya sempat terendam banjir.