Liputan6.com, Jakarta - Ketidakpastian mengenai penyelenggaraan MotoGP Qatar 2026 semakin meningkat. Para pembalap dikabarkan akan kembali menggelar pertemuan khusus untuk membahas kelanjutan balapan di Sirkuit Lusail, menyusul kekhawatiran terhadap situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, pada pekan ini
Rencana penyelenggaraan MotoGP Qatar pada 6–8 November 2026 menuai penolakan dari sejumlah pembalap. Bahkan, salah satu petinggi tim MotoGP menilai keputusan untuk tetap menggelar balapan di tengah potensi eskalasi konflik merupakan risiko yang tidak dapat diterima.
Advertisement
Sebelumnya, para pembalap telah mengadakan pertemuan tertutup di sela-sela seri Australia akhir pekan lalu. Pertemuan tersebut secara khusus membahas keamanan dan kelayakan penyelenggaraan balapan di Qatar.
Berdasarkan laporan yang beredar, sekitar dua pertiga pembalap yang menghadiri pertemuan tersebut menyatakan keberatan untuk berlomba di Qatar dalam situasi keamanan saat ini.
Para pembalap juga meminta operator kompetisi memberikan jaminan keselamatan yang jelas apabila balapan tetap dilaksanakan. Salah satu tuntutan utama mereka adalah tersedianya rencana evakuasi darurat jika konflik di kawasan tersebut semakin memburuk.
Meski mendapat penolakan, pihak MotoGP dan penyelenggara di Qatar hingga kini tetap bersikeras bahwa balapan dapat berlangsung sesuai jadwal.
MotoGP dan F1 Bersikeras
MotoGP Qatar sejatinya dijadwalkan berlangsung pada April 2026. Namun, konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah pada Februari memaksa penyelenggara menunda balapan tersebut.
MotoGP kemudian menjadwalkan ulang seri Qatar menjadi 6–8 November. Perubahan tersebut sekaligus membuat dua seri terakhir musim ini, yakni Portugal danValencia, harus diundur untuk memberikan ruang bagi balapan di kawasan Teluk.
Keputusan MotoGP mempertahankan balapan di Qatar juga menjadi sorotan karena sejumlah kejuaraan motorsport internasional lainnya telah memilih membatalkan agenda mereka di kawasan tersebut.
FIA World Endurance Championship (WEC), World Rally Championship (WRC), dan Reli Dakar telah membatalkan sejumlah kegiatan yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung di kawasan Teluk.
Sebaliknya, MotoGP dan Formula 1 masih menunjukkan komitmen untuk melanjutkan agenda balapan di sana.
Risiko Terlalu Besar
Menurut laporan media Italia, GPOne, para pembalap MotoGP berencana mengadakan pertemuan kedua untuk membahas GP Qatar menjelang pengambilan keputusan akhir mengenai kelanjutan balapan tersebut.
Kekhawatiran mengenai keselamatan tidak hanya datang dari para pembalap. Seorang petinggi tim yang tidak disebutkan namanya juga mempertanyakan keputusan MotoGP dan Formula 1 untuk tetap melanjutkan balapan di Qatar.
"Secara pribadi, saya tidak yakin bahwa melanjutkan penyelenggaraan MotoGP dan Formula 1 di Qatar merupakan keputusan yang tepat," ujar petinggi tim tersebut kepada GPOne.
Ia menegaskan bahwa ancaman eskalasi konflik harus menjadi pertimbangan utama sebelum penyelenggara memutuskan untuk tetap menggelar balapan.
"Risiko meningkatnya konflik tentu harus dipertimbangkan dengan sangat serius. Menurut saya, mengambil risiko sebesar itu merupakan sesuatu yang tidak dapat diterima," tegasnya.