AS Ajak Warga Kuba Kerja Sama dengan CIA untuk Akhiri Pemerintahan Komunis

Ajakan AS terhadap warga Kuba ini disampaikan Menlu AS secara terang-terangan.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 25 Oktober 2026, 11:30 WIB
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio. (Dok. AP/Alex Brandon)

Liputan6.com, Washington, DC - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) Marco Rubio mengajak warga yang menginginkan perubahan di Kuba untuk bekerja sama dengan Badan Intelijen Pusat AS (CIA) guna membantu mengakhiri pemerintahan komunis di negara tersebut.

Selama beberapa bulan terakhir, Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pejabat tinggi pemerintahannya secara terbuka mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer serta kehadiran permanen AS di Kuba. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan tekanan ekonomi, politik, dan hukum terhadap negara itu.

Pada Jumat (23/10/2026), Rubio semakin mempertegas sikap tersebut melalui unggahan di media sosial X.

"Kepada mereka yang menginginkan perubahan positif di Kuba, sekaranglah saatnya," tulis Rubio.

Dalam unggahannya, Rubio menyinggung kekecewaan akibat janji-janji yang tidak ditepati, praktik korupsi, serta kehidupan istimewa yang hanya dinikmati segelintir orang di Kuba.

Ia kemudian mengajak warga sipil untuk "memanfaatkan kesempatan ini guna mewujudkan perubahan yang Anda inginkan melalui kerja sama secara diam-diam dengan CIA".

Seruan Rubio itu mendapat tanggapan bernada sindiran dari sejumlah pejabat Kuba, termasuk Wakil Menteri Luar Negeri Carlos Fernandez de Cossio.

"Sekarang AS sampai harus merekrut orang secara terbuka untuk CIA. Pasti ada keputusasaan atau kondisi yang sangat memprihatinkan di dalam badan intelijen itu, sampai-sampai mereka harus menawarkan jasanya seperti orang menjual pasta gigi," tulis Fernandez de Cossio di X.

Ancaman intervensi militer AS terhadap Kuba bukanlah hal baru.

Bulan lalu, Fernandez de Cossio menyatakan bahwa penggunaan kekuatan militer AS terhadap Kuba akan menjadi kejahatan internasional yang sangat keji.

Pernyataan itu disampaikannya dalam program Washington Journal yang ditayangkan stasiun televisi kabel AS, C-SPAN.

"Akan menjadi kejahatan internasional yang sangat keji jika AS menggunakan kekuatan militer terhadap Kuba, negara tetangga yang cinta damai," ujarnya seperti dilaporkan CNA.

CIA kemudian mengunggah video di X berisi petunjuk dalam bahasa Spanyol bagi siapa saja yang merasa memiliki informasi yang mungkin berguna bagi badan intelijen tersebut.

Dalam video itu, CIA menyarankan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi langsung kedutaan besar AS jika dapat melakukan perjalanan dengan aman.

Perkembangan ini terjadi di tengah kesulitan ekonomi yang semakin berat bagi masyarakat Kuba akibat blokade minyak yang diberlakukan AS sejak awal tahun.

Blokade tersebut menambah beban warga yang harus menghadapi kelangkaan bahan bakar dan pemadaman listrik. Kondisi itu semakin parah akibat buruknya infrastruktur di negara tersebut.

Para pakar hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam blokade minyak tersebut karena dinilai melanggar hukum internasional. Sementara itu, para pegiat hak asasi manusia menilai ancaman pemerintahan Trump mencerminkan pendekatan imperialistis.

AS telah memberlakukan embargo terhadap Kuba selama lebih dari 60 tahun.

Pemerintahan Trump kini semakin meningkatkan tekanan terhadap Havana setelah militer AS menangkap Nicolas Maduro, yang saat itu menjabat sebagai presiden Venezuela, dalam operasi penyerbuan yang memakan korban jiwa pada Januari lalu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya