Kim Jong Un Kunjungi China Lewat Jembatan Baru

Ini merupakan kunjungan pertama Kim Jong Un ke China dalam setahun terakhir.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 25 Oktober 2026, 08:30 WIB
Layar televisi di Stasiun Kereta Api Seoul, Korea Selatan, menampilkan foto arsip pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kanan) dan Presiden China Xi Jinping dalam siaran berita pada Sabtu (24/10/2026). (Dok. AP Photo/Ahn Young-joon)

Liputan6.com, Pyongyang - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi China pada Sabtu (24/10/2026) melalui jembatan baru yang menghubungkan kedua negara. Dalam kunjungan tersebut, Kim juga menyampaikan keinginannya untuk memperluas kerja sama dengan China, negara tetangga yang memiliki pengaruh besar terhadap Korea Utara.

Kunjungan ini menjadi langkah terbaru Kim dalam menjalankan kebijakan luar negeri yang semakin tegas. Ia berupaya mempererat hubungan Korea Utara dengan China dan Rusia untuk bersama-sama menghadapi Amerika Serikat (AS), di tengah situasi yang digambarkannya sebagai "Perang Dingin baru".

Menurut Kementerian Unifikasi Korea Selatan, yang menangani urusan terkait Korea Utara, serta kantor berita resmi China, Xinhua, Kim tiba di Kota Dandong pada Sabtu setelah melintasi jembatan yang baru dibuka tersebut. Dandong merupakan kota di China yang berbatasan dengan Korea Utara.

Korea Utara dan China Sepakat Perkuat HubunganSelama berada di China, Kim bertemu dengan Wang Huning, anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis China, salah satu badan tertinggi dalam kepemimpinan partai tersebut. Keduanya mengunjungi sebuah pabrik mobil dan menyatakan komitmen untuk mempererat hubungan kedua negara.

Menurut Xinhua, Kim menyatakan bahwa Korea Utara siap bekerja sama dengan China untuk mempertahankan persahabatan yang telah terjalin sejak lama.

Kim ingin memperluas kerja sama nyata di antara kedua negara agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Korea Utara maupun China.

Usai pertemuan, Wang mengantar Kim kembali ke jembatan tersebut untuk melepas kepulangannya, menurut Xinhua.

Sementara itu, media pemerintah Korea Utara belum langsung memberitakan kunjungan Kim tersebut.

Jembatan Baru Diharapkan Tingkatkan Perdagangan

Para pengamat menilai pembukaan Jembatan Baru Sungai Yalu (New Yalu River Bridge) pada Oktober ini menjadi simbol semakin eratnya hubungan Korea Utara dan China. Kehadiran jembatan tersebut sekaligus menunjukkan keinginan kedua negara untuk meningkatkan perdagangan.

Jembatan itu diperkirakan dapat melayani lalu lintas dua arah selama 24 jam, termasuk truk pengangkut peti kemas dan muatan berat.

Belakangan ini, Kim berupaya mempererat kembali hubungan dengan China setelah selama beberapa tahun lebih mengutamakan hubungan dengan Rusia.

China sendiri selama ini merupakan sekutu utama sekaligus penopang penting perekonomian Korea Utara.

Di sisi lain, Kim telah mengirimkan ribuan tentara dan persenjataan konvensional untuk mendukung Rusia dalam perang di Ukraina. Dukungan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin itu kemungkinan diberikan dengan imbalan bantuan militer dan ekonomi dari Moskow.

 

Kunjungan Bertepatan dengan Peringatan Perang Korea

Jembatan New Yalu River yang dirancang untuk menghubungkan kawasan Dandong New Zone di China dengan Sinuiju di Korea Utara, terlihat dari Dandong, Provinsi Liaoning, China, pada 5 Oktober 2026. (Dok. AP Photo/File)

Lawatan kali ini merupakan kunjungan keenam Kim ke China sejak mengambil alih kepemimpinan Korea Utara pada akhir 2011, setelah ayahnya meninggal dunia.

Waktu kunjungan tersebut diduga sengaja dipilih untuk menunjukkan eratnya hubungan dengan Beijing menjelang peringatan kemenangan besar pertama China dalam Perang Korea pada 25 Oktober.

Kemenangan itu terjadi beberapa hari setelah pasukan China menyeberangi Sungai Yalu dan memasuki wilayah Korea Utara pada Oktober 1950.

Perang Korea sendiri pecah pada Juni 1950 ketika Korea Utara melancarkan serangan mendadak ke Korea Selatan. Serangan tersebut mendorong pasukan koalisi di bawah pimpinan AS dan mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk turun tangan dan memukul mundur pasukan Korea Utara.

Dalam perang itu, Korea Utara terutama mendapat dukungan dari pasukan China, serta bantuan angkatan udara Uni Soviet.

Pertempuran berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata pada 1953. Namun, karena tidak ada perjanjian damai yang secara resmi mengakhiri perang, Semenanjung Korea secara teknis masih berada dalam keadaan perang.

Menurut Xinhua, Kim mengatakan bahwa kunjungannya ke China pada Sabtu juga bertujuan mengenang mereka yang gugur dalam Perang Korea.

Sebelumnya, Presiden China Xi Jinping mengunjungi Pyongyang pada Juni untuk bertemu dengan Kim. Dalam pertemuan itu, Xi menyampaikan keinginan Beijing untuk memperluas kerja sama di bidang perdagangan, pertanian, konstruksi, dan teknologi.

Sementara itu, Kim menegaskan bahwa hubungan dengan China merupakan prioritas strategis utama Korea Utara.

Kunjungan Kim sebelumnya ke Beijing berlangsung pada September 2025. Saat itu, ia bertemu dengan Xi dan menyaksikan parade militer bersama Putin serta sejumlah pemimpin negara lainnya.

Di tengah upaya mempererat hubungan dengan China dan Rusia, Kim tetap bersikap keras terhadap Korea Selatan.

Ia sejauh ini menolak tawaran Presiden AS Donald Trump untuk menghidupkan kembali dialog antara Washington dan Pyongyang. Upaya diplomasi kedua negara terhenti pada 2019, ketika Trump menjalani masa jabatan pertamanya sebagai presiden.

Pemerintah Korea Utara menuntut AS menghentikan apa yang mereka sebut sebagai "kebijakan bermusuhan". Pyongyang meminta Washington mencabut tuntutan agar Korea Utara menghentikan program senjata nuklirnya sebagai syarat untuk memulai kembali perundingan.

Sementara itu, pemerintah Korea Selatan yang berhaluan liberal dan mendukung pendekatan dialog berharap perundingan antara AS dan Korea Utara dapat kembali dilanjutkan. Seoul berharap langkah tersebut bisa membantu mencairkan ketegangan dalam hubungan kedua Korea.

Korea Selatan telah meminta China memainkan peran yang konstruktif dalam membantu mengatasi kebuntuan hubungan tersebut.

Bulan lalu, badan intelijen Korea Selatan menyampaikan kepada para anggota parlemen bahwa peluang pertemuan Trump dan Kim mencapai 50 persen. Pertemuan itu diperkirakan dapat berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang dijadwalkan berlangsung pada November di Shenzhen, China.

Profesor Universitas Ewha di Seoul, Leif-Eric Easley, menilai hubungan di Semenanjung Korea berpeluang membaik apabila Pyongyang lebih mengutamakan pembangunan ekonomi daripada memperkuat militernya.

"Dari sudut pandang Seoul, jika Korea Utara lebih berfokus pada pembangunan ekonomi daripada memperkuat militer dan melontarkan ancaman, hal itu akan berdampak positif bagi diplomasi dan keamanan," kata Easley.

Namun, Easley mempertanyakan apa yang dapat ditawarkan Korea Selatan untuk menarik minat Korea Utara apabila Kim terus memperoleh keuntungan dari hubungannya dengan China dan Rusia.

"Namun, jika Kim bisa memperoleh semakin banyak keuntungan dari China dan Rusia, belum jelas apa yang dapat ditawarkan Seoul sehingga sepadan dengan risiko politik yang menurut Pyongyang muncul ketika menjalin hubungan dengan Korea Selatan, yang lebih makmur, lebih terhubung dengan dunia internasional, dan lebih bebas," imbuhnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya