Respons Otoritas Menstabilkan Pasar Saham Usai Pengumuman MSCI

Sejumlah langkah otoritas di berbagai lini dinilai berdampak terhadap pergerakan pasar saham Indonesia.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 25 Oktober 2026, 08:00 WIB
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar saham Indonesia mulai stabil setelah aksi jual tajam pekan lalu. Hal ini setelah respons otoritas di berbagai lini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun ke bawah level 5.000 pada Senin, 19 Oktober 2026, tetapi menguat selama empat hari berturut-turut dan ditutup di level 5.439 pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (25/10/2026), Bank Indonesia (BI) memberikan dukungan bagi nilai tukar rupiah sekaligus mengambil langkah untuk melonggarkan penyaluran kredit perbankan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di kisaran 18.057, sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun berada di 7,45%.Selain itu, Bursa Efek Indonesia memperketat metode perhitungan indeks. Di sisi lain, Danantara menyatakan telah membeli saham.

Pada pekan ini, respons domestik menjadi sorotan utama. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga kebijakan di 5,75%, tetapi menaikkan suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%, sehingga memegang rupiah menjadi lebih menguntungkan.

Pada saat yang sama, BI akan memangkas rasio simpanan wajib bank di bank sentral sebesar 2% secara bertahap pada 1 November dan 1 Desember guna menambah likuiditas untuk mendukung penyaluran kredit.

BI juga memperkuat insentif bagi investor untuk melakukan lindung nilai (hedging) risiko mata uang melalui BI, serta menegaskan akan terus melakukan intervensi di pasar mata uang dan obligasi.

Selain itu, mulai awal November, BEI akan mengeluarkan sekitar 80 saham dengan kepemilikan yang sangat terkonsentrasi yang mencakup sekitar 18% bobot indeks dari perhitungan IHSG. Saham-saham tersebut akan tetap tercatat dan dapat diperdagangkan, tetapi tidak lagi memengaruhi pergerakan indeks.

Danantara menyatakan telah membeli saham perusahaan-perusahaan dengan fundamental yang baik, termasuk perusahaan milik negara (BUMN), sementara beberapa perusahaan besar lainnya mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback).

"Langkah-langkah ini memperbaiki sentimen pasar, dengan perhatian kini beralih pada reformasi jangka panjang yang diharapkan oleh MSCI,” demikian mengutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.

 

Aksi Jual Investor Asing

Ilustrasi IHSG (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Adapun investor asing masih mencatatkan posisi jual bersih (net sell) pekan ini. Tercatat aksi jual saham mencapai US$ 299 juta atau Rp 5,40 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.090) mengindikasikan investor global masih menantikan perkembangan lebih lanjut.

MSCI mengharapkan ada penegakan aturan yang konsisten terhadap praktik perdagangan terkoordinasi, transparansi kepemilikan yang lebih jelas, serta kemajuan menuju ketentuan free float (saham yang beredar di publik) minimal sebesar 15%.

“Menghapus saham dengan kepemilikan terkonsentrasi dari indeks merupakan langkah berarti ke arah tersebut, karena hal ini menjadikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai cerminan yang lebih akurat mengenai saham-saham yang benar-benar dapat dibeli oleh investor,” demikian seperti mengutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.

Rapat pemegang saham bursa pada 28 Oktober, yang mencakup rencana demutualisasi, akan menjadi ujian berikutnya bagi momentum reformasi.

 

Sentimen Global

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, ketegangan kembali meningkat di kawasan Teluk seiring dengan serangan kelompok Houthi yang menyasar bandara dan ladang minyak di Arab Saudi, yang mendorong Amerika Serikat untuk memerintahkan sebagian staf diplomatiknya meninggalkan negara tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan Selat Hormuz “tidak akan terbuka bagi semua pihak” tanpa adanya suatu kesepakatan. Ia juga menambahkan “kecil kemungkinan untuk mengharapkan kemajuan saat ini”. Upaya mediasi terus dilakukan melalui Pakistan dan Qatar. Harga minyak mentah jenis Brent naik ke kisaran US$ 112 per barel, level tertinggi sejak Mei.

"Bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga ini menambah beban subsidi bahan bakar serta memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” demikian mengutip dari riset Ashmore.

Di Amerika Serikat, saham sektor teknologi mengalami penurunan tajam pada Kamis karena para investor mempertanyakan imbal hasil dari investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI). Indeks Nasdaq tercatat turun 2,6%. Para investor beralih ke obligasi, yang menyebabkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun turun ke kisaran 4,97%, sempat menyentuh angka di bawah 5%.

 

Hal yang Perlu Dicermati

Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

The Federal Reserve (the Fed) dijadwalkan mengadakan pertemuan pada 27–28 Oktober, dengan pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 9%.

"Secara keseluruhan, pekan ini menjadi periode stabilisasi setelah guncangan bersejarah, yang terbantu oleh respons kebijakan terkoordinasi di dalam negeri, meskipun investor asing belum kembali. Situasi seperti ini menuntut kesabaran dan sikap selektif. Kami tetap berfokus pada perusahaan yang dikelola dengan baik dan transparan, serta obligasi berkualitas tinggi yang memberikan pendapatan stabil. Selain itu, diversifikasi dan kelas aset membantu meredam fluktuasi di pasar mana pun,” demikian mengutip riset Ashmore.

Beberapa poin penting yang perlu dicermati antara lain keputusan The Fed pada 27–28 Oktober, rapat pemegang saham bursa efek pada 28 Oktober, perubahan metode perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal November, serta pemilihan umum paruh waktu (mid-term elections) di Amerika Serikat pada 3 November.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya