Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia merosot ke level terendah dalam tiga bulan pada perdagangan Jumat. Logam mulia ini juga berada di jalur penurunan mingguan terdalam dalam lebih dari empat bulan, tertekan kenaikan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS).
Mengutip CNBC, Sabtu (24/10/2026), harga emas di pasar spot turun 0,6% menjadi US$ 3.998,49 per ons pada pukul 14.27 waktu setempat. Harga emas pun jatuh di bawah US$ 4.000 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli.
Advertisement
Sepanjang pekan ini, harga emas telah merosot 4%, menjadikannya penurunan mingguan terburuk sejak Juni. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup turun 1,3% ke level US$ 4.007,90 per ons.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent menyentuh level tertinggi dalam lebih dari lima bulan. Kondisi ini terjadi setelah serangan Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi.
Inflasi dan Suku Bunga The Fed Tekan Emas
Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan kekhawatiran inflasi membuat bank sentral utama dunia berpotensi lebih sulit melonggarkan kebijakan moneter.
“ Meningkatnya kekhawatiran inflasi menunjukkan bahwa bank-bank sentral utama dunia tidak akan dapat melonggarkan kebijakan moneter secepat yang mereka inginkan. Semua faktor itu saat ini menekan pasar emas dan perak,” kata Wyckoff.
Ia juga menjelaskan, aksi jual saham teknologi memicu permintaan tambahan dana jaminan atau margin call bagi para pedagang dan investor saham. Situasi tersebut mendorong mereka menjual aset emas dan perak.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq menyentuh level terendah dalam lima pekan pada Jumat. Investor cenderung berhati-hati setelah saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) mengalami aksi jual tajam.
Pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga dalam rapat 27–28 Oktober. Namun, data inflasi konsumen dan produsen AS yang lebih tinggi dari perkiraan pada pekan lalu memperkuat kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat pada akhir tahun.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pekan depan mencapai 92%, sedangkan probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 78%.
Harga Perak dan Platinum Ikut Melemah
Pasar juga menantikan laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada 29 Oktober. Indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed tersebut berpotensi memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan suku bunga.
Di India, pembelian emas meningkat pekan ini. Harga yang lebih rendah selama festival besar Dussehra mendorong transaksi dan menaikkan premi emas. Sementara itu, permintaan emas fisik di China, sebagai konsumen terbesar, relatif stabil meski konsumen masih berhati-hati dalam membelanjakan uang untuk perhiasan.
Logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot turun 1% menjadi US$ 53,97 per ons, sedangkan paladium melemah 0,5% ke US$ 1.048,31 per ons. Kedua logam tersebut menyentuh level terendah sejak November 2025 dan Juni 2025.
Adapun harga platinum spot turun 0,9% menjadi US$ 1.555,84 per ons, level terendah sejak Juli.
Ketiga logam tersebut juga berada di jalur penurunan mingguan, seiring kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi yang membebani pasar logam mulia.