Dari Penjual Tembakau Jalanan Jadi Raja Kaca Berharta Rp 93 Triliun

Dari anak jalanan yang pernah bertarung melawan kelaparan, Cho Tak Wong bangkit mendirikan Fuyao Group hingga kini berharta Rp93,76 triliun

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 24 Oktober 2026, 07:00 WIB
Cho Tak Wong, Pendiri dan Ketua Kehormatan Seumur Hidup Grup Fuyao. (Dok fuyaogroup)

 

Liputan6.com, Jakarta - Siapa sangka, di balik megahnya jajaran mobil kelas dunia seperti Audi, Ford, hingga Nissan, ada usapan jemari seorang mantan anak jalanan yang pernah bertarung melawan derita kelaparan. Cho Tak Wong (atau Cao Dewang) memulainya dari titik terendah, yaitu melarikan diri dari pusaran perang di Fujian, China, tanpa sepeser pun uang di kantong.

Namun, lewat kejujuran, ketangguhan mental, dan kejelian melihat peluang, bocah miskin yang putus sekolah ini berhasil membalikkan garis takdir hingga menjelma menjadi konglomerat kaca otomotif paling disegani di panggung global.

Mengutip laporan EY, Sabtu (24/10/2026), perjalanan hidup Cho berawal dari kemalangan bertubi-tubi. Keluarganya kehilangan seluruh harta benda saat mengungsi dari perang. Pahitnya kemiskinan memaksa Cho kecil berhenti sekolah di usia 14 tahun.

Demi bertahan hidup, ia melakoni berbagai pekerjaan kasar di jalanan, mulai dari menjajakan tembakau potong, mencangkul di ladang, menjadi juru masak, hingga memotong buah dan tambal ban sepeda.

 

Titik Balik Menjadi Miliarder Global

Ilustrasi kunci sukses menjadi kaya. (Gambar oleh Shahid Abdullah dari Pixabay)

Kerasnya jalanan tidak memadamkan semangat Cho, melainkan mengasah insting bisnisnya menjadi sangat tajam. Titik balik besarnya tiba pada 1987 saat ia mendirikan Fuyao Group. Cho melihat celah pasar yang belum tergarap optimal pada industri kaca keselamatan kendaraan di China.

Mengusung integritas tinggi dan inovasi tanpa henti, bisnis lokal tersebut melesat pesat. Pada 1993, Fuyao mengukir sejarah sebagai perusahaan kaca pertama yang melantai di Shanghai Stock Exchange.

Di bawah komandonya, Fuyao menjelma menjadi pilar utama rantai pasok global bagi raksasa otomotif ternama seperti Audi, Fiat, GM, Ford, hingga Nissan. Prestasi gemilang ini mengantarkan Cho meraih penghargaan bergengsi EY World Entrepreneur Of The Year pada 2009.

Mengutip data Forbes, kekayaan bersih Cho Tak Wong kini menembus US$ 5,2 miliar atau sekitar Rp 93,76 triliun (kurs Rp 18.031,6 per US$). Meski berstatus miliarder self-made, Cho tetap memegang teguh prinsip kepemimpinan yang beretika.

Legenda Filantropi dan Warisan Pendidikan

Keberhasilan finansial tak membuat Cho lupa diri. Demi memastikan keberlanjutan tata kelola perusahaan, ia memilih mundur dari jabatan ketua (chairman) dan menyerahkan estafet kepemimpinan Fuyao kepada putranya, Tso Fai.

Kepedulian Cho terhadap masa depan masyarakat diwujudkan lewat aksi filantropi berskala fantastis. Melalui Heren Charitable Foundation, ia berkomitmen menggelontorkan dana hingga US$ 1,6 miliar untuk mendirikan Fuyao University of Science and Technology di China, sebuah universitas riset yang kini telah resmi menerima angkatan mahasiswa pertamanya.

Kisah Cho Tak Wong membuktikan bahwa latar belakang yang serba terbatas bukanlah penghalang untuk menaklukkan dunia. Berbekal integritas, keberanian mengambil peluang, dan kemurahan hati untuk berbagi, seorang mantan pedagang jalanan berhasil mengukir nama emas di panggung industri global.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya