Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terus mewaspadai ketidakpastian ekonomi global yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan serta likuiditas domestik. Pergerakan nilai tukar rupiah hingga arah kebijakan suku bunga global menjadi faktor utama yang dicermati perseroan.
"Kita perlu mencermati ketidakpastian global yang masih cukup tinggi, pergerakan nilai tukar rupiah serta arah kebijakan suku bunga global masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan, khususnya terkait dampaknya terhadap stabilitas pasar dan kondisi likuiditas domestik," kata Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, dalam Konferensi Pers Laporan Keuangan Kuartal III 2026, Jumat (23/10/2026).
Advertisement
Novita menjelaskan bahwa perekonomian dunia saat ini masih dihadapkan pada sederet tantangan, mulai dari eskalasi ketegangan geopolitik hingga ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Selain itu, potensi tren suku bunga global yang bertahan di level tinggi juga wajib diantisipasi karena berdampak langsung pada lalu lintas arus modal, pergerakan nilai tukar, hingga ketersediaan serta biaya likuiditas di pasar dalam negeri.
"Ketiga faktor tersebut dapat mempengaruhi arus modal, nilai tukar, maupun ketersediaan dan biaya likuiditas di pasar domestik," ujarnya.
Kendati dibayangi tantangan global, Bank Mandiri tetap optimistis memandang prospek perekonomian nasional dan industri perbankan Indonesia. Perseroan berkomitmen menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent), terutama dalam menjaga kecukupan likuiditas guna memastikan ekspansi bisnis berjalan sehat dan berkelanjutan.
Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tumbuh 5,27%
Di tengah dinamika global, fundamental ekonomi Indonesia dinilai memiliki daya tahan yang sangat baik. Setelah berhasil tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026, perekonomian nasional diproyeksikan mampu mencapai pertumbuhan sekitar 5,27% pada kuartal III 2026.
Menurut Novita, proyeksi ini mencerminkan aktivitas ekonomi domestik yang tetap solid sekaligus menjadi fondasi positif bagi ekspansi dunia usaha. Ketangguhan ini juga tercermin dari kinerja solid industri perbankan nasional, di mana penyaluran kredit secara industri tumbuh 13,3% secara tahunan (year-on-year) dan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 8,22% per September 2026.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan dengan baik, didukung kondisi likuiditas industri yang relatif terjaga," pungkas Novita.