Liputan6.com, Jakarta - Kekayaan tidak selalu soal banyaknya uang atau aset yang dimiliki. Cara seseorang menentukan prioritas, menjalankan bisnis, hingga memaknai penghasilan juga menjadi bagian dari cara pandang terhadap kondisi keuangan.
Pandangan tersebut tercermin dari pengalaman dua figur publik, Atiqah Hasiholan dan Aldi Taher. Keduanya memiliki perspektif berbeda dalam memaknai uang dan kekayaan.
Advertisement
Atiqah menyoroti pentingnya menentukan prioritas hidup, sedangkan Aldi menekankan usaha, rasa syukur, dan keberkahan dalam mencari penghasilan.
Atiqah Hasiholan menilai, memahami prioritas merupakan salah satu hal penting untuk menjaga keseimbangan hidup, termasuk dalam mengelola keuangan. Menurutnya, seseorang perlu mengetahui hal-hal yang paling penting agar dapat menggunakan waktu dan sumber daya secara lebih bijak.
“Knowing your priority is very important,” ujar Atiqah dikutip Jumat (23/10/2026).
Menurut Atiqah, ketika seseorang sudah memahami prioritasnya, ia akan lebih mudah menentukan bagaimana waktu dan keuangannya digunakan. Dengan begitu, berbagai kebutuhan dan aktivitas dapat disesuaikan dengan hal-hal yang benar-benar dianggap penting dalam kehidupan.
Selain soal prioritas, Atiqah juga memiliki pandangan tersendiri mengenai makna kekayaan. Baginya, kekayaan tidak hanya dilihat dari jumlah aset yang dimiliki, tetapi juga kualitas dan makna yang menyertainya.
“Kekayaan bukan hanya tentang jumlah aset, tetapi juga kualitas dan makna di baliknya,” demikian terjemahan dari gagasan Atiqah dalam sesi wawancara.
Pandangan tersebut juga tercermin dalam cara Atiqah memaknai warisan untuk generasi berikutnya. Menurutnya, aset materi seperti rumah dan uang memang dapat diwariskan, tetapi ada hal lain yang tak kalah penting untuk diturunkan kepada anak.
Bagi Atiqah, karakter yang baik dan kuat merupakan salah satu warisan berharga. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bekal bagi generasi berikutnya dalam menghadapi berbagai pilihan dan tantangan kehidupan.
Dengan demikian, membangun masa depan bukan hanya tentang mengumpulkan harta, tetapi juga menanamkan nilai yang dapat bertahan melampaui kepemilikan materi.
Namun, bagaimana jika penghasilan berasal dari pekerjaan yang tidak selalu stabil atau bisnis yang belum tentu berhasil? Aldi Taher memiliki pandangan tersendiri mengenai hal tersebut.
Aldi Taher: Bisnis Belum Berhasil Bukan Berarti Rugi
Berbeda dari Atiqah Hasiholan yang menyoroti prioritas dan warisan nilai, Aldi Taher berbicara tentang penghasilan, bisnis, serta bagaimana seseorang menerima hasil dari usaha yang telah dijalankan.
Aldi menekankan pentingnya bersyukur atas rezeki yang diperoleh, terlepas dari apakah usaha yang dijalankan berhasil atau belum sesuai harapan. Baginya, bisnis yang belum berhasil tidak selalu harus dimaknai sebagai kerugian semata.
“Kalau bisnis belum berhasil, ya bukan berarti rugi. Mungkin memang rezekinya segitu dulu. Yang penting kita sudah berusaha, jalani saja dengan ikhlas. Sukses yang sebenarnya itu nanti di surga,” kata Aldi kepada Liputan6.com.
Pernyataan tersebut menggambarkan cara Aldi memaknai hasil usaha melalui sudut pandang spiritual. Ia meyakini setiap orang memiliki bagian rezeki masing-masing, tetapi tetap perlu berusaha dan menerima hasilnya dengan ikhlas.
Meski demikian, dalam praktik bisnis, evaluasi terhadap pendapatan, biaya, dan risiko tetap penting untuk menentukan langkah berikutnya. Kegagalan usaha dapat menjadi pengalaman untuk memperbaiki strategi dan mengambil keputusan yang lebih matang.
Selain cara memandang bisnis, Aldi juga menekankan pentingnya memastikan penghasilan berasal dari sumber yang halal. Ia mengaku memperoleh penghasilan dari dunia hiburan maupun bisnis, dan menilai sumber pendapatan tersebut tidak harus terbatas pada satu bidang.
“Yang penting jangan pemasukan dari setan. Mau dari dunia hiburan, dunia politik, dunia kuliner, selama itu pemasukannya halal, silakan,” kata Aldi.
Menurut Aldi, pekerjaan di dunia hiburan juga tidak selalu menjamin pemasukan besar dan stabil. Ia menanggapi anggapan bahwa artis identik dengan penghasilan tinggi dengan menyebut tidak semua artis selalu memiliki pekerjaan.
“Kata siapa? Artis banyak yang nganggur loh!” ujarnya.
Pernyataan ini menyoroti realitas bahwa popularitas tidak selalu sejalan dengan kestabilan keuangan. Seperti pekerja di bidang lain, pelaku industri hiburan juga dapat menghadapi periode ketika kesempatan kerja dan pemasukan berkurang.
Karena itu, penghasilan yang tidak tetap menjadi tantangan tersendiri dalam mengelola keuangan. Meski Aldi tidak merinci strategi pembagian pendapatannya, pandangannya menunjukkan bahwa ia menempatkan usaha, penerimaan terhadap hasil, dan kehalalan rezeki sebagai prinsip penting.
Pada akhirnya, besarnya penghasilan dan kepemilikan aset bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Bagi Aldi, ada satu hal lain yang lebih penting daripada sekadar menjadi kaya: keberkahan.
Kaya Belum Tentu Berkah
Bagi Aldi Taher, makna kekayaan tidak bisa dilepaskan dari keyakinan spiritual yang menjadi pegangan hidupnya. Ia memandang bahwa memiliki banyak harta tidak serta-merta menjadi ukuran utama keberhasilan seseorang.
Saat ditanya mengenai perbedaan antara menjadi kaya dan memiliki kondisi keuangan yang sehat, Aldi memberikan jawaban yang berangkat dari keyakinannya tentang keberkahan rezeki.
“Orang kaya itu di surga. Di muka bumi ini nggak ada orang kaya. Yang ada adalah kita nyari berkah, jadi orang berkahlah. Enggak usah mikir jadi orang kaya, karena kaya belum tentu berkah,” kata Aldi.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Aldi menempatkan keberkahan sebagai hal penting dalam memaknai penghasilan dan kekayaan. Baginya, besarnya harta bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dalam menjalani kehidupan.
Pandangan Aldi ini memiliki titik temu dengan pemikiran Atiqah Hasiholan, meskipun keduanya menyoroti aspek yang berbeda. Atiqah menekankan pentingnya memahami prioritas, kualitas kekayaan, dan nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Sementara itu, Aldi lebih banyak berbicara tentang usaha, rasa syukur, kehalalan sumber penghasilan, dan keberkahan rezeki.
Keduanya sama-sama memperlihatkan bahwa uang memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar angka dalam rekening atau jumlah aset yang dimiliki.
Dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman mengenai prioritas dapat membantu seseorang menentukan kebutuhan yang perlu didahulukan. Sementara itu, sikap bertanggung jawab terhadap penghasilan dan usaha dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi keuangan dalam jangka panjang.