Alasan Indonesia Gabung Kerja Sama Pertahanan Badr

Kemlu menjelaskan alasan Indonesia bergabung dalam kerja sama pertahanan Badr bersama Turki, Qatar, dan Pakistan.

oleh Septian DenyDiterbitkan 22 Oktober 2026, 22:30 WIB
Menteri Pertahanan Nasional Turki Yasar Guler, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Negara Urusan Pertahanan Qatar Sheikh Saud bin Abdulrahman bin Hasan Al Thani, Wakil Menteri Pertahanan Indonesia Yusuf Jauhari, serta Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif sepakati kerja sama pertahanan Badr, di Doha, Qatar, Rabu (21/10/2026). (Dok. Kepala Direktorat Industri Pertahanan Turkiye Haluk Gorgun)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengungkapkan sejumlah pertimbangan dalam bergabung dengan kerja sama pertahanan Badr yang melibatkan Indonesia, Turki, Qatar, dan Pakistan.

Salah satu pertimbangan utamanya adalah meningkatkan kemampuan nasional, khususnya dalam pengembangan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Juru Bicara Kemlu Vahd Nabyl A. Mulachela mengatakan, negara-negara yang menjadi mitra dalam kerja sama tersebut telah melalui pertimbangan, termasuk dari sisi kualifikasi dan kompatibilitas untuk mendukung peningkatan kemampuan alutsista Indonesia.

“Mengenai pertimbangan Indonesia bergabung dalam kerja sama ini, tentu yang utama adalah kita ingin meningkatkan kemampuan nasional kita. Dan dalam hal ini kita bermitra dengan negara-negara yang tentunya sudah dipertimbangkan, memiliki kualifikasi dan yang tadi saya sampaikan, adanya kompatibilitas dalam mendukung peningkatan kemampuan alutsista di Indonesia,” kata Vahd di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Menurut dia, kerja sama tersebut juga sejalan dengan upaya Indonesia melakukan diversifikasi kemitraan dengan berbagai negara.

Indonesia terus mengembangkan kerja sama dengan negara-negara mitra untuk memperkuat kemampuan nasional di berbagai bidang strategis. Upaya tersebut terutama mencakup transfer teknologi, pendanaan, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM).

“Sehingga intinya bisa memperkuat posisi kita dalam rantai pasok global,” ujar Vahd.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya