Danantara Siapkan Investasi di Industri Film dan Musik, Ini Fokusnya

Danantara Indonesia membidik bisnis distribusi industri kreatif untuk memperluas pasar film, musik, dan karya lokal ke tingkat global.

oleh Muhammad Yudha PratamaDiterbitkan 22 Oktober 2026, 19:30 WIB
Sesi What Makes Creativity Investable? pada acara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Indonesia. Liputan6.com/ M Yudha Pratama.

Liputan6.com, Jakarta - Danantara Indonesia menaruh perhatian pada bisnis distribusi untuk membantu membawa karya kreatif Indonesia ke pasar global. Strategi ini bertujuan meningkatkan nilai ekonomi talenta lokal, termasuk di industri film dan musik.

“Pertanyaan terpentingnya adalah bagaimana memonetisasi potensi itu,” ujar CIO Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, dalam sesi What Makes Creativity Investable? pada World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Pandu mengatakan Indonesia memiliki banyak talenta kreatif, mulai dari penulis naskah hingga musisi dan pemilik katalog karya. Potensi tersebut perlu dikembangkan agar mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.

Ia membagi rantai industri kreatif menjadi tiga bagian, yakni hulu, tengah, dan hilir. “Bagian hulu mencakup penciptaan karya, bagian tengah meliputi infrastruktur dan distribusi, sedangkan bagian hilir berkaitan dengan konsumsi konten oleh masyarakat,” tambah Pandu.

Menurut dia, pengembangan industri kreatif tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menciptakan karya. Bisnis distribusi juga berperan penting agar konten dapat menjangkau lebih banyak konsumen.

Pandu menyebut Amerika Serikat sebagai salah satu pasar yang patut dipertimbangkan karena konsumennya dinilai memiliki kesediaan untuk membayar konten.

Karena itu, ia mendorong pelaku industri kreatif Indonesia memperluas jangkauan bisnis hingga ke pasar internasional.

 

Danantara Fokus Investasi pada Bagian Tengah dan Hilir Industri Kreatif

Danantara ingin menjalin kemitraan dan berinvestasi pada bisnis di bagian tengah dan hilir industri kreatif. Langkah ini diharapkan dapat membantu karya lokal menjangkau lebih banyak konsumen sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi para kreator.

Pandu menyebut film, musik, dan olahraga sebagai bidang yang relevan dengan strategi tersebut. Menurut dia, sektor-sektor ini memiliki kekuatan sebagai soft power atau daya tarik budaya yang dapat memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia.

Selain membawa karya Indonesia ke luar negeri, Danantara juga ingin menarik modal global untuk mendukung produksi film, penyelenggaraan acara olahraga, serta konser berskala internasional di Indonesia.

 

Dorong Pelaku Industri Kreatif Berpikir Global

CIO Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menyampaikan arah investasi Danantara dalam sesi What Makes Creativity Investable? pada acara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Liputan6.com/ M Yudha Pratama.

Pandu tidak menyebutkan nama perusahaan yang berpotensi menjadi target investasi Danantara.

“Salah satu pertimbangan penting adalah kemampuan bisnis untuk membantu seniman dan musisi Indonesia menjangkau pasar yang lebih besar,” tegas Pandu.

Ia juga mendorong pelaku bisnis yang membangun infrastruktur distribusi konten agar tidak hanya berfokus pada pasar domestik, tetapi turut mempertimbangkan peluang di tingkat regional dan global.

Menurut Pandu, konsumen bersedia membayar konten berkualitas. Karena itu, pengembangan bisnis distribusi dan kemitraan dengan pemain yang memiliki jangkauan pasar luas menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan nilai ekonomi karya kreatif Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya