81 Tahun Berlalu, Cicit Hasyim Asy’ari Kembali Bacakan Resolusi Jihad

Cicit KH Hasyim Asy’ari, Ipang Wahid, membacakan kembali Resolusi Jihad pada peringatan Hari Santri 2026. Dia mengingatkan bahwa medan perjuangan berubah, tetapi tanggung jawab santri terhadap bangsa tetap sama.

oleh Tim NewsDiterbitkan 22 Oktober 2026, 11:33 WIB
Wakil Ketua PBNU Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid, yang juga merupakan cicit KH Hasyim Asy'ari membacakan naskah Resolusi Jihad, yang menjadi cikal bakal ditetapkannya Hari Santri Nasional.

Liputan6.com, Jakarta - Delapan puluh satu tahun setelah KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, naskah bersejarah itu kembali dibacakan oleh cicitnya, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid, dalam upacara Hari Santri Nasional di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026).

Bagi Ipang, pembacaan naskah tersebut bukan sekadar mengenang sejarah perjuangan para santri.

Dia menilai, pesan Resolusi Jihad tetap relevan sebagai pengingat tentang tanggung jawab santri dalam menjawab kebutuhan bangsa, meski tantangan yang dihadapi telah berubah.

"Delapan puluh satu tahun lalu, buyut saya menulis seruan ini ketika republik baru berumur dua bulan. Hari ini saya membacanya di republik yang sudah dewasa. Zamannya jauh berbeda, tapi pertanyaannya tetap sama, di mana santri ketika bangsanya membutuhkan?” ujar Ipang usai upacara.

Resolusi Jihad dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, ketika Indonesia baru berusia dua bulan dan menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan penjajah.

Seruan tersebut menegaskan kewajiban umat Islam untuk membela kemerdekaan dan menjadi salah satu pemantik perlawanan rakyat yang kemudian memuncak dalam pertempuran 10 November 1945.

Ipang, yang kini menjabat Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), merupakan putra KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah dan cucu KH Wahid Hasyim.

Pembacaan naskah itu pun mempertemukan kembali sejarah perjuangan KH Hasyim Asy’ari dengan generasi penerus keluarganya.

Menurut Ipang, semangat Resolusi Jihad tidak cukup dipertahankan melalui peringatan seremonial. Santri perlu menerjemahkan nilai perjuangan tersebut ke dalam kontribusi nyata sesuai tantangan zaman, mulai dari pendidikan, dunia usaha, hingga ruang digital.

“Dulu santri berjuang dengan bambu runcing. Hari ini santri ada di kampus, di dunia usaha, di ruang digital. Yang berubah adalah medannya. Yang tidak boleh berubah adalah keberpihakannya kepada bangsa,” katanya.

 

Lima Prioritas Majukan Santri

Menag Nasaruddin Umar pimpin peringatan Hari Santri Nasional 2026. (Dok: Kemenag)

Tanggal 22 Oktober kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang peran santri dalam mempertahankan kemerdekaan sekaligus mendorong kontribusi mereka dalam kehidupan berbangsa.

Dalam rangkaian peringatan Hari Santri 2026, Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama juga mengumumkan lima program prioritas, yakni perlindungan santri, rekognisi ijazah pesantren di perguruan tinggi umum, pesantren mandiri, Santri 5.0, dan dakwah digital.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya