Elon Musk: Solusi Utang AS adalah AI dan Robot

Miliarder sekaligus CEO Tesla Elon Musk mengatakan tabungan dan efisiensi bukan solusi utang Amerika Serikat (AS).

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 22 Oktober 2026, 21:03 WIB
Elon Musk. (Patrick Pleul/Pool via AP, File)

Liputan6.com, Jakarta - Miliarder sekaligus CEO Tesla Elon Musk mengatakan, Amerika Serikat (AS) tidak akan membayar utang nasionalnya dengan mengurangi pengeluaran, dan mengatakan solusinya adalah robot dan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Lantaran utang negara tersebut mencapai US$ 40,39 triliun, atau Rp 728.635 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.040) pada 15 Oktober 2026, menurut data Departemen Keuangan AS.

Pada percakapan dengan penulis biografi Walter Isaacson dalam sebuah podcast, dia mengatakan, eksperimen DOGE yang dia pernah jalani menunjukkan utang ini tidak bisa diselesaikan dari dalam pemerintahan, karena tidak ada yang mau memangkas biaya.

"Jika Anda coba mengurangi utang dan menghentikan pengeluaran boros, Anda akan memiliki banyak musuh,” ujar Musk, berdasarkan wawancara dengan Axios.

Melansir Yahoo! Finance, Kamis (22/10/2026), Musk menambahkan, Presiden Donald Trump “senang disukai,” dan memangkas keborosan akan menciptakan banyak musuh. Dia juga mengakui telah terlena di DOGE dan tidak fokus pada yang seharusnya, yakni perusahaannya dan AI.

"Satu-satunya cara kita bisa menyelesaikan isu utang nasional adalah dengan AI dan robot,” ujar Musk.

 "Kita tidak akan bisa menyelesaikannya dengan menabung," ia menambahkan.

Perkataan ini muncul dua hari sebelum Musk berjanji akan memberikan setiap anak di AS satu saham SpaceX tahun depan.

Apa yang Telah Diprediksikan Musk Sebelumnya

Elon Musk (Foto AP/Evan Vucci, Arsip)

Ini bukan pertama kalinya Musk menyinggung bahwa AI dan robot dapat membantu menyelesaikan masalah utang AS.

Dalam sebuah wawancara podcast pada November 2025, Musk mengatakan bahwa kecerdasan buatan AI dan robotika adalah “hampir satu-satunya hal” yang dapat mengatasi krisis utang AS. Musk menyebut utang tersebut “sangat tinggi,” sambil menyoroti bahwa pembayaran bunga saja sudah melebihi seluruh anggaran militer AS.

Dalam argumennya, dia mengatakan AI akan mendorong output barang dan jasa melebihi perkembangan dalam pasokan uang, dan mungkin akan menyebabkan “deflasi”.

Jangka waktunya adalah tiga tahun. Namun, ia mengakui bahwa AI belum cukup meningkatkan produktivitas untuk mencapai target tersebut.

Sejak saat itu, tekanan justru semakin meningkat.

Imbal hasil obligasi Departemen Keuangan AS bertenor 10 tahun naik menjadi 5,29% pada akhir September, sementara imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun mencapai 5,61%, level tertinggi sejak 2002.

Peluang Masuk Bitcoin

Elon Musk mengatakan tabungan dan efisiensi bukan solusi utang AS, namun AI dan robot. Musk mengatakan AS juga harus mencetak lebih banyak dolar jika AI dorong produksi, sehingga menjadi jalur masuk Bitcoin. (Foto: Unsplash/Thought Catalog)

Bitcoin telah lama diposisikan sebagai hedging terhadap utang seperti ini.

Rencana Musk tidak tanpa syarat yang cukup menarik. Musk mengatakan jika AI dan robot menaikkan output, pemerintah harus mencetak dolar atau menghadapi “deflasi masif.”

Namun, mencetak lebih banyak dolar berisiko melemahkan mata uang. Inilah di mana pendukung Bitcoin melihat peluang, karena pasokannya mencapai 21 juta koin.

Salah satu pendukungnya adalah pendiri SkyBridge Capital, Anthony Scaramucci. Pada Agustus, dia setuju dengan peringatan Peter Schiff terkait utang dan inflasi AS, namun dia mengatakan jawabannya adalah Bitcoin, bukan emas.

Musk sendiri memiliki hubungan yang rumit dengan Bitcoin. Pada 2021, dia mengatakan dirinya adalah “pendukung Bitcoin.” Namun, beberapa bulan kemudian, Tesla berhenti menerima Bitcoin sebagai metode pembayaran akibat kekhawatiran terkait lingkungan. Tesla juga menjual 75% sahamnya pada 2022.

Namun, Tesla memegang 11.509 Bitcoin, sedangkan SpaceX mencatatkan 18.712 pada pengajuan IPO-nya.

Solusi Musk bergantung pada teknologi dibanding aset fisik, tetapi apakah AI dan robotik dapat menyelesaikan isu utang AS masih menjadi pertanyaan.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya