Antisipasi Kebocoran Pipa Gas, Pertagas Uji Kesiapan Tim

Pertagas menggelar simulasi tanggap darurat kebocoran pipa gas untuk menguji kesiapan tim menghadapi insiden dan menjaga kelangsungan bisnis.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 22 Oktober 2026, 16:45 WIB
Corporate Secretary PT Pertamina Gas (Pertagas) Sulthani Adil Mangatur dalam Simulasi Tanggap Darurat dan Manajemen Krisis Level 3 (role play emergency drill) di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Gas (Pertagas) menggelar Simulasi Tanggap Darurat dan Manajemen Krisis Level 3 (role play emergency drill), Kamis (22/10/2026). Dalam latihan tersebut, perusahaan menyimulasikan kebocoran pipa gas di wilayah operasional untuk menguji kesiapan tim dalam menangani keadaan darurat sekaligus menjaga kelangsungan bisnis.

Corporate Secretary Pertagas, Sulthani Adil Mangatur, mengatakan simulasi ini mencakup dua kategori penanganan, yakni emergency response dan business continuity. Keduanya dibedakan berdasarkan kecepatan respons yang dibutuhkan serta skala dampak yang ditimbulkan.

"Kondisi emergency sifatnya very quick response. Kalau business continuity, gangguannya bersifat besar, berdampak ke bisnis dengan ukuran lebih besar atau durasi yang lebih panjang," ujar Sulthani.

Latihan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari fungsi di kantor pusat hingga tim di area terdampak. Awak media juga dilibatkan untuk menjalankan peran sebagai media eksternal dalam skenario simulasi.

"Jadi di kantor pusat sendiri, kita lintas fungsi atau divisi itu semua terlibat, siapa memang akan sangat relevan, ataupun juga akan terlibat dalam proses pembinaan keputusan ataupun tindak lanjut," ungkapnya.

Simulasi tersebut turut dipantau oleh pengamat (observer) dari pihak ketiga. Setiap perkembangan situasi dicatat secara terperinci untuk menjadi bahan evaluasi.

Menurut Sulthani, skenario latihan disusun secara acak tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada peserta. Kondisi ini dirancang agar tim terbiasa menghadapi situasi yang tidak terduga, termasuk insiden atau kecelakaan.

"Bentuk skenarionya itu dilakukan secara acak, tanpa memang ada informasi pada kita sebelumnya, dan termasuk di sini kondisi khusus, seperti juga kondisi incident, kecelakaan apapun. Jadi memang bisa dibilang, simulasi itu memang dalam sebuah situasi yang cukup acak," kata dia.

Pertagas menggelar latihan tersebut minimal satu kali dalam setahun untuk mengingatkan sekaligus meningkatkan pemahaman seluruh tim mengenai prosedur penanganan keadaan darurat.

 

Latihan Berbeda Setiap Tahun

PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, berkomitmen untuk terus berinovasi dan berkolaborasi guna memastikan pasokan energi yang stabil, aman, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Sulthani menjelaskan, simulasi tidak hanya bertujuan menguji respons tim, tetapi juga menyegarkan pemahaman karyawan lama dan memberikan edukasi kepada anggota tim yang baru bergabung.

"Tujuannya untuk me-refresh, mengingatkan, dan mengedukasi kalau ada tim yang baru bergabung. Saat eksekusi nyata, semua sudah tahu peran dan alur tindak lanjutnya," tuturnya.

Ia menambahkan, karakteristik industri energi membuat penanganan insiden membutuhkan kesiapan yang matang karena dampaknya dapat meluas.

"Di industri kita sensitif. Kalau terjadi satu hal, potensi dampaknya bisa cukup beragam. Jadi penanganan ini harapannya semua sudah lebih aware, sudah lebih tahu, dan sudah bisa waspada."

Skenario simulasi diperbarui setiap tahun, meskipun prinsip dan alur dasar penanganannya tetap menjadi pedoman.

"Skenarionya tidak sama, tapi paling tidak metode, konsep, prinsip, dan alurnya yang kita lakukan sebagai panduannya," ucap Sulthani.

Penanganan insiden juga dilakukan secara berjenjang, dimulai dari area operasional hingga tingkat perusahaan. Pelibatan pihak eksternal disesuaikan dengan skala dampak yang ditimbulkan.

"Tinggal dilihat magnitude-nya, apakah melibatkan stakeholder lokal, regional, atau nasional," ujarnya.

Sulthani mengingatkan, insiden di sektor energi berpotensi menimbulkan dampak luas sehingga penanganannya dapat melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah pusat.

"Bukan berarti tidak mungkin sebuah kondisi melibatkan sampai skala nasional, termasuk Kementerian ESDM," tuturnya.

Dalam evaluasi tahunan, Pertagas turut mengukur efektivitas respons tim dan mencari peluang perbaikan. Perusahaan berharap waktu respons dapat semakin baik, tetapi kecepatan bukan satu-satunya indikator keberhasilan.

"Bukan berarti semuanya itu harus dilakukan yang cepat adalah yang terbaik. Bisa jadi kita nyari titik optimalnya, supaya juga nanti pada saat eksekusi ataupun juga menyampaikan fakta, informasi itu nggak terlalu melenceng," kata Sulthani.

Selain mengevaluasi respons personel, Pertagas juga terus menyempurnakan proses penanganan, perangkat pendukung (tools), serta kelengkapan yang diperlukan. Dengan demikian, kesiapan menghadapi keadaan darurat diharapkan semakin optimal.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya