Danantara Syaratkan Investor Data Center Bawa Energi Sendiri

BPI Danantara mewajibkan investor data center skala besar menerapkan skema bring your own energy demi menjaga pasokan listrik masyarakat.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 22 Oktober 2026, 15:15 WIB
Managing Director Investment Danantara Investment Management Stefanus Ade Hadiwidjaja. (Foto:Liputan6.com/Immanuel Christian).

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mewajibkan investor pusat data (data center) skala besar di Indonesia untuk membawa sumber energi sendiri. Langkah ini diambil agar proyek berkapasitas raksasa tidak menyedot pasokan listrik masyarakat maupun industri nasional.

Managing Director Investment Danantara Investment Management Stefanus Ade Hadiwidjaja menjelaskan, investor dengan kebutuhan daya tinggi harus menerapkan skema bring your own energy (BYOE). Penggunaan jaringan listrik PLN memiliki keterbatasan, sehingga opsi menarik daya langsung dari jaringan nasional hanya diperuntukkan bagi skala tertentu.

"Kalau itu memang mengambil dari grid, itu harus pricing atau tarif yang menguntungkan buat PLN. Itu nomor satu. Skala besar, konsepnya harus bring your own energy," tegas Stefanus dalam konferensi pers News Asia Forum di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Kewajiban membawa pasokan energi sendiri ini dinilai bakal mendorong lahirnya investasi pembangkit listrik baru di dalam negeri. Proyek pembangkit untuk data center umumnya mengantongi kepastian pembeli (offtaker) lewat kontrak jangka panjang sekitar 10–15 tahun.

 

 

Penyerapan Tenaga Kerja

Setelah masa kontrak berakhir, pembangkit yang dibangun investor akan tetap beroperasi dan menjadi bagian dari aset kapasitas energi nasional.

" Power plant itu akan ada terus di Indonesia. Jadi secara kapasitas energi akan bertambah buat Indonesia, akan ada penciptaan lapangan kerja juga ketika melakukan konstruksinya," kata Stefanus.

Selain memperkuat pasokan energi, masuknya investasi data center dan pembangkit listrik pendukungnya juga diyakini dapat menyerap ribuan tenaga kerja lokal, terutama pada fase persiapan, konstruksi, hingga instalasi fasilitas.

"Setiap 100 megawatt itu bisa beberapa ribu tenaga kerja yang diperlukan pada saat persiapan, dan tentu saja lebih kecil ketika mengoperasikan data center," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya