Liputan6.com, Jakarta - BPI Danantara menargetkan 15–17 kota besar di Indonesia memiliki fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WtE) pada akhir 2028 hingga pertengahan 2029. Danantara menyebut tiga proyek telah memasuki tahap pembangunan, sedangkan delapan kota lainnya masih menjalani proses studi kelayakan.
Managing Director Investment Danantara Investment Management Stefanus Ade Hadiwidjaja mengatakan, Danantara mempercepat pengembangan proyek tersebut melalui kerja sama dengan PLN, pemerintah daerah, dan kementerian terkait. Danantara berperan sebagai katalisator untuk menghadirkan investor, teknologi, dan pembiayaan.
Advertisement
"Proyek tiga sudah mulai membangun, yang tadi saya bilang delapan dalam proses feasibility, dan mudah-mudahan final investment decision untuk delapan kota baru ini akan terjadi segera,” ujar Stefanus dalam konferensi pers News Asia Forum di Wisma Danantara, Kamis (22/10/2026).
Stefanus mengatakan, Danantara juga menyiapkan proses tender untuk empat kota berikutnya. Program tersebut menargetkan penyelesaian persoalan sampah di 15–17 kota besar beserta kabupaten di sekitarnya, dengan cakupan lebih dari 30 daerah.
Danantara juga telah memilih 34 lembaga pembiayaan dari 48 pendaftar untuk menjadi panel pemberi pinjaman proyek WtE. Panel tersebut mencakup bank global, bank pembangunan multilateral, serta bank nasional dan swasta.
“Dari 34 itu lebih dari separuh adalah global financial, baik itu bank dari Prancis, bank dari China, bank dari Singapura, bank dari Jepang, dan juga multilateral development banks,” kata Stefanus.
Selain proyek pengolahan sampah, Danantara menyelesaikan transaksi investasi properti di Mekah pada pekan sebelumnya. Investasi tersebut mencakup satu hotel berkapasitas 1.400 kamar dan lahan freehold yang berpotensi dikembangkan menjadi 13 menara hotel tambahan dengan total kapasitas sekitar 4.500 kamar.
Investasi Danantara
Stefanus mengatakan, pengembangan kawasan tersebut bertujuan menyediakan akomodasi bagi jemaah haji dan umrah Indonesia dengan harga terjangkau. Danantara akan melakukan renovasi hotel yang sudah tersedia sebelum memulai pembangunan menara hotel berikutnya.
“Tujuan kita adalah memberikan akomodasi yang terbaik, dengan harga yang affordable, terutama buat haji atau umrah Indonesia, tapi juga terbuka buat yang non-Indonesia,” ujar Stefanus.
Danantara juga mengembangkan investasi di sektor pangan dan protein melalui kemitraan dengan pemain global. Stefanus mengatakan, kerja sama tersebut diharapkan membawa modal, teknologi, pengetahuan, dan tenaga ahli untuk memperkuat industri protein serta logistik pangan di Indonesia.
“Kita berinvestasi globally, tapi kita mau bawa capital yang lebih banyak lagi. Bukan cuma capital, kita mau bawa teknologi, talenta, pengetahuan, dan kapabilitas di sektor ini,” kata Stefanus.
Menurut Stefanus, pengembangan industri protein dan logistik pangan menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.