Dolar Singapura Hari Ini Rp 14.130, Ringgit Malaysia di Level Rp 4.421

Dolar Singapura menembus Rp 14.100, sedangkan ringgit Malaysia mencapai Rp 4.421. Simak rincian nilai tukar kedua mata uang terhadap rupiah.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 Oktober 2026, 11:45 WIB
Seorang menghitung uang kertas Rupiah di salah satu kantor penukaran uang, Jakarta. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar dolar Singapura menembus Rp 14.100 terhadap rupiah pada Kamis (22/10/2026). Sementara itu, ringgit Malaysia berada di kisaran Rp 4.421. Data Google Finance dan Wise menunjukkan 1 dolar Singapura bernilai sekitar Rp 14.130, sedangkan 1 ringgit Malaysia setara sekitar Rp 4.420 hingga Rp 4.421.

Berdasarkan data Google Finance, nilai 1 dolar Singapura mencapai Rp 14.128,66. Adapun data nilai tukar tengah Wise menempatkan mata uang Negeri Singa tersebut di level Rp 14.130.

Angka tersebut menunjukkan dolar Singapura bernilai lebih dari Rp 14.100 jika dikonversikan ke mata uang Indonesia.

Kurs ini menjadi salah satu acuan bagi masyarakat yang berencana bepergian, berbelanja, atau melakukan transaksi keuangan menggunakan dolar Singapura.

Selain dolar Singapura, ringgit Malaysia juga berada di kisaran Rp 4.421 terhadap rupiah.

Mengacu pada Google Finance, 1 ringgit Malaysia setara dengan Rp 4.419,81. Sementara itu, data nilai tukar tengah Wise menunjukkan 1 ringgit Malaysia berada di level Rp 4.421.

Dengan demikian, nilai 1 dolar Singapura saat ini sekitar tiga kali lipat nilai 1 ringgit Malaysia jika dikonversikan ke rupiah.

Perlu diperhatikan, nilai tukar pada layanan konversi mata uang dapat berbeda dari kurs jual dan kurs beli yang diterapkan bank atau penyedia jasa penukaran uang. Masyarakat sebaiknya memeriksa kurs terbaru sebelum melakukan transaksi.

 

 

Rupiah Melemah ke 18.033 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Teller menghitung lembaran mata uang dolar AS di penukaran mata uang, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (22/10/2026). Pergerakan rupiah dipengaruhi keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen serta sentimen dari pasar keuangan global.

Rupiah dibuka melemah 11 poin atau 0,06 persen ke posisi 18.033 per dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 18.022 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan keputusan BI menahan suku bunga acuan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.

“Rupiah hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh domestik hasil keputusan RDG BI yang menahan suku bunga acuan tetap di 5,75 persen,” ujarnya dikutip Antara. 

Dalam keputusan terbarunya, BI mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen. Sementara itu, suku bunga deposit facility dinaikkan 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen. Adapun suku bunga lending facility dipertahankan di level 6,5 persen.

BI juga menurunkan giro wajib minimum (GWM) rata-rata perbankan sebesar 2 persen untuk memperkuat kecukupan likuiditas rupiah. Kebijakan tersebut mencakup penurunan GWM bank umum konvensional dari 9 persen menjadi 7 persen, serta GWM bank umum syariah dan unit usaha syariah dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen.

Risiko Arus Modal Asing Jadi Perhatian

Selain keputusan suku bunga, perkembangan pasar modal domestik juga menjadi perhatian pelaku pasar. BI disebut terus mewaspadai risiko di pasar saham Indonesia, termasuk kemungkinan arus keluar atau outflow modal asing setelah pengumuman MSCI mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia.

Pergerakan modal asing menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pasar keuangan dan nilai tukar rupiah. Karena itu, perkembangan sentimen investor terhadap pasar domestik turut dicermati di tengah dinamika pasar global.

Dari sisi eksternal, Rully melihat peluang peningkatan permintaan terhadap obligasi pemerintah Indonesia. Peluang tersebut muncul seiring meningkatnya permintaan obligasi pemerintah AS yang mendorong penurunan imbal hasil atau yield menjadi 5,1 persen.

Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor ketika menentukan alokasi investasi di pasar global, termasuk di negara berkembang.

Berdasarkan perkembangan domestik dan global tersebut, Rully memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.120 per dolar AS.

Rentang tersebut menjadi proyeksi pergerakan rupiah sepanjang perdagangan Kamis. Namun, nilai tukar tetap berpotensi bergerak mengi

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya