Bedah Luar Dalam Bitcoin Mining: Masihkah Menjanjikan Saat Ini?

Simak cara kerja Bitcoin mining, skema keuntungan proof of work, tantangan halving, hingga hitungan biaya operasionalnya di sini.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 Oktober 2026, 12:10 WIB
Seorang teknisi melakukan perawatan pada rig pertambangan dari komputer super di dalam pabrik bitcoin 'Genesis Farming' di dekat Reykjavik, Islandia. (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin mining atau penambangan Bitcoin merupakan proses penambahan blok baru ke dalam sistem blockchain sekaligus mencetak Bitcoin baru. Proses ini mengandalkan perangkat komputer khusus yang dikenal sebagai ASIC miner. Perangkat ini bekerja menebak triliunan angka acak setiap detik hingga berhasil menghasilkan hash yang sesuai dengan kriteria jaringan.

Mengutip CoinMarketCap, Kamis (22/10/2026), penambang yang pertama kali berhasil memecahkan kode akan memperoleh imbalan blok (block reward) sebesar 3,125 BTC—besaran yang berlaku sejak fenomena halving pada 20 April 2024—ditambah dengan biaya transaksi dalam blok tersebut.

Cara Kerja Proof of Work

Setiap transaksi Bitcoin mulanya masuk ke ruang tunggu bernama mempool. Penambang akan memilih transaksi dari mempool, memprioritaskan biaya tertinggi, lalu menyusun calon blok.

Guna menjaga durasi penerbitan blok tetap berada di kisaran 10 menit, protokol Bitcoin otomatis menyesuaikan tingkat kesulitan (difficulty) setiap 2.016 blok (sekitar dua minggu). Jika jumlah mesin bertambah, tingkat kesulitan akan naik. Sebaliknya, jika banyak mesin mati, tingkat kesulitan akan menurun.

 

Dampak Halving dan Hitung-hitungan Cuan

Rig pertambangan dari komputer super (kiri) dan filter udara yang berada dalam pabrik bitcoin 'Genesis Farming' di dekat Reykjavik, Islandia. (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Protokol Bitcoin membatasi jumlah maksimal Bitcoin yang beredar di angka 21 juta keping. Mekanisme halving berfungsi menjaga batas ini, di mana imbalan penambang dipangkas separuh setiap 210.000 blok atau sekitar empat tahun sekali.

Saat ini, lebih dari 95,7 persen atau sekitar 20,10 juta BTC telah selesai ditambang. Sisa sekitar 900 ribu BTC lainnya baru akan habis ditambang secara bertahap hingga sekitar tahun 2140.

Tantangan Biaya Listrik

Eksistensi kartu grafis (GPU) dan prosesor biasa sudah lama tergeser dalam aktivitas penambangan Bitcoin. Jaringan saat ini sepenuhnya dikuasai oleh chip ASIC khusus SHA-256.

Di negara dengan tarif listrik tinggi seperti Jerman, aktivitas penambangan terbilang sulit mencetak untung. Perangkat modern seperti Antminer S21 XP misalnya, baru bisa mencapai titik impas (break-even) jika tarif listrik berada di bawah 10,4 sen euro per kiloWatt hour (kWh). Dengan tarif listrik rumah tangga rata-rata 37 sen euro, satu unit mesin justru dapat memicu kerugian hingga 700 euro per bulan.

 

Gagasan Mining Pool dan Peta Lokasi Global

Rig pertambangan dari komputer super di dalam pabrik bitcoin 'Genesis Farming' di dekat Reykjavik, Islandia (16/3). Pabrik yang berada di lokasi rahasia di Islandia ini merupakan salah satu pabrik bitcoin terbesar di dunia. (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Mengingat sulitnya menemukan blok secara mandiri—secara statistik satu mesin butuh puluhan tahun—mayoritas penambang memilih bergabung dalam mining pool.

Lewat mining pool, para penambang menggabungkan daya komputasi mereka. Hasil imbalan kemudian dibagi secara adil sesuai besaran kontribusi daya komputasi masing-masing penambang. Saat ini, pemrosesan blok secara global sangat terkonsentrasi pada beberapa pool besar seperti Foundry USA, AntPool, dan F2Pool.

Pergeseran Lokasi Penambangan

Aktivitas mining sejatinya mengubah energi listrik menjadi keamanan jaringan blockchain. Dengan total daya jaringan yang sangat besar, para penambang cenderung bermigrasi ke wilayah yang menyediakan pasokan listrik murah dan melimpah.

Amerika Serikat saat ini menjadi pusat penambangan Bitcoin terbesar di dunia. Para pelaku industri memanfaatkan berbagai sumber energi terjangkau, mulai dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA), tenaga angin, hingga pemanfaatan sisa gas buang.

 

Waspada Risiko Cloud Mining

Kepala Operasi, Philip Salter mengecek rig penambangan di pabrik bitcoin 'Genesis Farming' di dekat Reykjavik, Islandia. Pabrik yang berada di lokasi rahasia dan merupakan salah satu pabrik bitcoin terbesar di dunia. (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Bagi investor yang tidak ingin repot mengurus perangkat keras (hardware), skema cloud mining atau menyewa daya komputasi di pusat data pihak ketiga kerap menjadi pilihan. Meski terdengar praktis, sektor ini menyimpan potensi risiko dan penyalahgunaan yang tinggi.

Sebelum tergiur penawaran cloud mining, ada tiga hal penting yang wajib dicermati:

  1. Rasionalkan Potensi Imbal Hasil: Bandingkan klaim keuntungan dengan harga hash pasar saat ini. Penawaran bunga harian tetap yang terlampau tinggi patut dicurigai bukan berasal dari hasil penambangan asli.
  2. Perhitungkan Biaya Operasional: Cermati klausa potongan biaya listrik dan perawatan harian agar tidak merugi saat tingkat kesulitan mining melonjak.
  3. Transparansi Penarikan Dana: Layanan tepercaya akan langsung mengirimkan hasil ke dompet digital pribadi tanpa menuntut deposit tambahan.

Pada akhirnya, faktor penentu utama keberhasilan penambangan Bitcoin adalah efisiensi biaya listrik. Jika biaya operasional terlalu mahal, membeli Bitcoin secara langsung di bursa kripto resmi jauh lebih efisien.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya