Cara Melindungi Internet Banking dari Hacker

BSSN mengingatkan masyarakat agar mewaspadai pencurian informasi.

oleh Pebrianto Eko WicaksonoDiterbitkan 21 Oktober 2026, 16:52 WIB
Wakil Kepala BSSN Komjen Pol. Albertus Rachmad Wibowo dalam rangkaian Bali Tech Week (BTW) 2026 di Bali, Rabu (21/10/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Kasus peretasan mobile banking maupun internet banking dapat merugikan masyarakat. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan menjaga keamanan data pribadi.

Wakil Kepala BSSN Komjen Pol. Albertus Rachmad Wibowo mengatakan, masyarakat perlu mewaspadai ancaman peretasan terhadap layanan digital, termasuk mobile banking dan internet banking. Pengguna perlu memperhatikan keamanan kata sandi, jaringan internet, serta perlindungan data pribadi agar tidak menjadi sasaran kejahatan siber.

Albertus mengatakan, serangan siber dapat dilakukan dari jarak jauh tanpa kehadiran fisik pelaku. Perkembangan teknologi dan semakin terhubungnya berbagai sistem digital membuat ancaman tersebut perlu diantisipasi, termasuk pada layanan yang berkaitan dengan transaksi keuangan.

"Serangan siber sudah tidak mengenal lagi batas wilayah. Mereka tidak perlu hadir secara fisik. Mereka bisa melakukan dari jarak yang sangat jauh, diam-diam, dan sangat sulit untuk dilacak," kata Albertus dalam rangkaian Bali Tech Week (BTW) 2026 di Bali, Rabu (21/10/2026).

Menurut dia, sistem elektronik yang digunakan masyarakat sehari-hari memiliki kerentanan yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan. Karena itu, perlindungan keamanan siber perlu dilakukan secara berlapis, mulai dari kebijakan dan prosedur hingga pengamanan perangkat, aplikasi, serta data.

 

Waspadai Pencurian Kata Sandi dan Data

Albertus menyoroti pentingnya melindungi data yang digunakan untuk mengakses layanan digital, termasuk kata sandi (password) pada aplikasi perbankan.

Dia menjelaskan, salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah metode harvest now, decrypt later. Dalam metode ini, pelaku mengumpulkan data terenkripsi untuk kemudian mencoba membukanya pada masa mendatang ketika teknologi yang digunakan memungkinkan.

Ancaman tersebut menjadi perhatian seiring perkembangan komputasi kuantum (quantum computing), yang berpotensi melemahkan algoritma kriptografi tertentu yang digunakan saat ini.

"Untuk passphrase, untuk password yang Bapak-Ibu sering gunakan di mobile banking, di internet banking, ketika terhubung dengan jaringan internet yang tidak aman, itu mereka akan melakukan harvest juga," ujar Albertus.

Dia mengingatkan, perlindungan data tidak cukup hanya mengandalkan kata sandi. Pengamanan juga perlu memperhatikan jaringan yang digunakan, perangkat, aplikasi, serta sistem enkripsi yang melindungi informasi.

Albertus menekankan bahwa data perlu dilindungi ketika disimpan, digunakan, maupun dikirimkan melalui jaringan. Dengan demikian, risiko pencurian informasi dapat ditekan pada berbagai tahapan pengelolaan data.

Enkripsi Jadi Kunci Perlindungan Data

Albertus menjelaskan, kriptografi merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga kepercayaan digital. Teknologi ini digunakan untuk menjaga kerahasiaan dan integritas informasi serta membantu memastikan bahwa hanya pihak yang berwenang yang dapat mengakses data tertentu.

Dia menyebut BSSN masih menemukan data sensitif yang disimpan atau dipertukarkan tanpa enkripsi sehingga dapat dibaca dalam bentuk teks biasa (plaintext).

"Data harus diproteksi in transit, in use, and at rest. Baik data itu disimpan, dipertukarkan, maupun ketika data itu diolah," kata Albertus.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya