Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) bersiap menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) hingga 2% yang bakal menambah likuiditas perbankan hingga Rp 190 triliun. Langkah ini diambil untuk mendongkrak penyaluran kredit dan memacu pertumbuhan ekonomi di sektor produktif.
Advertisement
Deputi Gubernur BI, Solikin M. Juhro mengungkapkan, penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh 13,26% secara tahunan hingga September 2026. Lonjakan ini utamanya ditopang oleh kredit investasi dan modal kerja yang menandakan makin aktifnya sektor riil.
"Ini menunjukkan bahwa memang ada perbaikan-perbaikan dan juga geliat di sektor riil," ujar Solikin dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Secara terperinci, BI mencatat kredit sektor pertambangan tumbuh 15,1%, industri pengolahan 14,6%,pengangkutan 13,4%, dan konstruksi 10,6%. Solikin optimistis sektor-sektor ini bakal terus menopang pertumbuhan kredit hingga akhir tahun seiring tingginya permintaan pembiayaan produktif.
"Peluang demand kredit dari sektor produktif tersebut masih tinggi,” tutur Solikin.
Dari sisi penawaran, ia memastikan kapasitas bank untuk menyalurkan pinjaman ke sektor produktif masih sangat terjaga. Tambahan likuiditas dari pemotongan GWM ini diyakini akan memperluas ruang gerak perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasi.
Meski demikian, BI menegaskan bahwa guyuran likuiditas ini tetap harus diimbangi dengan penjagaan stabilitas sistem keuangan agar tren pertumbuhan kredit bisa bertahan secara berkelanjutan.
BI Rate Tetap di 5,75%, Tapi Deposit Facility Naik Jadi 5%
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 21 Oktober 2026. Namun, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5%. Sedangkansuku bunga Lending Facility tetap di level 6,5%.
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa keputusan ini mempertimbangkan tingginya ketidakpastian ekonomi global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta kondisi perekonomian domestik.
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21 Oktober 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,5%, serta menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi sebesar 5%," ujar Destry dalam konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Destry menjelaskan, tingginya ketidakpastian global dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap ketat. Kondisi tersebut menekan pergerakan nilai tukar rupiah, sehingga memerlukan penguatan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter.
"Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter," tegas Destry.