Dari Bali ke Labuan Bajo, Seaplane Siap Buka Akses Baru ke Destinasi Wisata Kepulauan Indonesia

Seaplane bakal buka akses destinasi wisata baru di Kepulauan Indonesia

oleh Vinsensia DianawantiDiterbitkan 21 Oktober 2026, 18:00 WIB
Ilustrasi destinasi wisata Labuan Bajo. (dok. Biro Komunikasi Publik Kemenpar)

Liputan6.com, Jakarta - Bali selama ini menjadi salah satu pintu gerbang utama pariwisata Indonesia. Namun, di balik popularitas destinasi seperti Bali dan Lombok, masih banyak kawasan pesisir dan kepulauan yang menyimpan potensi wisata besar tetapi menghadapi tantangan akses. Kehadiran layanan seaplane pun membuka kemungkinan baru: perjalanan menuju destinasi terpencil tak lagi sepenuhnya bergantung pada jalan darat atau bandara dengan landasan pacu konvensional.

Peluang tersebut tengah dikembangkan oleh Santai Seaplane, bagian dari Seaplane Asia, melalui kolaborasi strategis bersama Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Inisiatif ini diarahkan untuk memperluas konektivitas udara menuju destinasi pesisir dan kepulauan, sekaligus mendukung pertumbuhan pariwisata berkualitas di berbagai wilayah Indonesia.

Kolaborasi tersebut dibahas dalam pertemuan antara CEO Seaplane Asia Group Dennis Keller dan CEO Santai Seaplane Wirmandi Sugriat bersama Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana serta Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini. Pembahasan mencakup pengembangan jaringan penerbangan seaplane, penentuan titik pendaratan di perairan, hingga peluang mengintegrasikan layanan tersebut dengan strategi promosi pariwisata nasional.

 

Menjadikan Bali sebagai Titik Awal

Seaplane bakal buka akses destinasi wisata baru di Kepulauan Indonesia (dok. Santai Seaplane)

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki destinasi wisata yang tersebar dari barat hingga timur dengan karakter geografis yang beragam. Tidak sedikit di antaranya berada di kawasan pesisir atau pulau yang membutuhkan perjalanan panjang untuk mencapainya.

Santai Seaplane merencanakan pengoperasian awal dari Bali pada 2026, dengan sejumlah titik destinasi yang tengah dijajaki. Jaringan awal tersebut mencakup perairan Benoa di Bali, Pantai Sira dan Mandalika di Lombok, Labuan Bajo, Kepulauan Kangean, Maluku Utara, hingga Danau Toba.

Dengan menggunakan pesawat amfibi bersertifikasi, layanan ini dirancang untuk dapat lepas landas dan mendarat baik di darat maupun di permukaan air. Konsep tersebut memungkinkan perjalanan point-to-point yang lebih fleksibel, terutama menuju kawasan yang belum memiliki akses penerbangan konvensional secara langsung.

“Geografi kepulauan Indonesia yang luas membutuhkan solusi transportasi yang inovatif dan fleksibel. Kemitraan dengan Santai Seaplane memungkinkan destinasi pesisir terpencil terhubung secara lebih efisien dengan pusat-pusat transportasi utama, membuka peluang baru bagi pariwisata bernilai tinggi dan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang bagi masyarakat kepulauan,” ujar Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.

 

Tak Sekadar Mempercepat Perjalanan

Seaplane bakal buka akses destinasi wisata baru di Kepulauan Indonesia (dok. Santai Seaplane)

Kehadiran seaplane tidak hanya menawarkan alternatif transportasi, tetapi juga berpotensi mengubah cara wisatawan merancang perjalanan di Indonesia. Destinasi yang sebelumnya membutuhkan kombinasi perjalanan darat, laut, dan udara dapat memiliki pilihan akses yang lebih langsung.

Bagi wisatawan, konektivitas semacam ini dapat membuka kesempatan untuk menggabungkan beberapa destinasi dalam satu perjalanan. Misalnya, menjadikan Bali sebagai titik awal sebelum melanjutkan perjalanan menuju kawasan pesisir atau kepulauan lain yang memiliki karakter alam dan budaya berbeda.

“Kami ingin menghadirkan alternatif akses yang menghubungkan pusat transportasi utama dengan destinasi pesisir dan kepulauan secara lebih langsung,” kata Wirmandi Sugriat, CEO Santai Seaplane.

Konsep tersebut juga sejalan dengan arah perkembangan pariwisata yang tidak hanya berfokus pada destinasi populer, tetapi mulai membuka peluang bagi kawasan yang menawarkan pengalaman lebih personal dan khas.

Untuk memperkenalkan kemampuan pesawat amfibi kepada mitra destinasi dan pelaku industri pariwisata, Santai Seaplane juga merencanakan sejumlah penerbangan demonstrasi. Salah satunya adalah penerbangan VIP di Labuan Bajo bersama Kementerian Pariwisata. Penerbangan tersebut akan memperlihatkan bagaimana pesawat amfibi dapat digunakan untuk mendukung konektivitas menuju destinasi pesisir dan kepulauan, termasuk melalui pendaratan di permukaan air.

Selain Labuan Bajo, Kementerian Pariwisata turut mendorong pengembangan rute menuju Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Kawasan ini dinilai memiliki potensi wisata yang dapat semakin berkembang dengan dukungan aksesibilitas yang lebih baik.

Menariknya, armada Santai Seaplane juga akan membawa identitas pariwisata nasional Wonderful Indonesia atas undangan Kementerian Pariwisata. Kehadiran branding tersebut diharapkan turut memperkuat visibilitas promosi destinasi Indonesia melalui jaringan penerbangan yang dikembangkan.

 

Membuka Jalan bagi Pariwisata Lokal

Ilustrasi seaplane. (dok. Nico Smit/Unsplash.com)

Konektivitas menjadi salah satu elemen penting dalam mengembangkan destinasi wisata. Ketika sebuah kawasan lebih mudah dijangkau, peluang wisatawan untuk datang, tinggal lebih lama, dan mengeksplorasi pengalaman lokal pun semakin terbuka.

Bagi masyarakat setempat, peningkatan kunjungan wisata berpotensi menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas, mulai dari akomodasi, kuliner, transportasi lokal, hingga aktivitas wisata berbasis komunitas.

Pengembangan jaringan seaplane ini pun menjadi bagian dari upaya menghadirkan pola perjalanan yang lebih terintegrasi di Indonesia. Dari Bali sebagai salah satu pusat pariwisata, akses dapat diperluas menuju berbagai wilayah pesisir dan kepulauan yang selama ini belum menjadi bagian utama dari jalur wisata.

Dengan rencana operasional awal yang dimulai dari Bali pada 2026, Santai Seaplane dan Kementerian Pariwisata membuka babak baru konektivitas udara di Indonesia. Bukan hanya tentang bagaimana wisatawan bisa sampai lebih cepat, tetapi juga bagaimana akses baru dapat membawa lebih banyak orang untuk mengenal destinasi, budaya, dan komunitas yang selama ini tersembunyi di balik luasnya geografis Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya