Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan belanja masyarakat Indonesia untuk berobat ke luar negeri mencapai Rp 150 triliun. Pemerintah terus mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan guna menahan aliran belanja tersebut sekaligus memperkuat industri kesehatan nasional.
Airlangga menyampaikan bahwa KEK Kesehatan di Bali, wilayah sekitar Jakarta, dan Batam berpotensi menggantikan layanan kesehatan yang selama ini dicari masyarakat Indonesia di luar negeri.
Advertisement
"Ini punya potensi untuk substitusi kepada orang Indonesia yang berobat di luar negeri, spending-nya sekitar Rp 150 triliun, dan ini yang bisa kita substitusi dengan KEK," ujar Airlangga dalam konferensi pers Rakernas KEK Triwulan III 2026 di Gedung A.A. Maramis, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Ia menambahkan, pengembangan KEK juga dapat memperluas sumber pertumbuhan ekonomi nasional. Hingga saat ini, sebanyak 25 KEK berhasil mencatatkan investasi kumulatif mencapai Rp 382,1 triliun serta menyerap sekitar 302.000 tenaga kerja.
"Ke depan kita terus mendorong bahwa KEK ini akan terus ditingkatkan," tegas Airlangga.
Mempercepat Pertumbuhan Rkonomi
Menurutnya, peningkatan efisiensi di KEK dan kawasan industri dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. Airlangga menilai target pertumbuhan ekonomi 7,5% dapat dicapai apabila investasi berada di kisaran 30% dari Produk Domestik Bruto (PDB) serta rasio Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dapat ditekan ke level sekitar 4.
Selain sektor kesehatan, Airlangga menilai sektor pariwisata berpotensi menjadi penyumbang devisa yang besar bagi negara. Ia memperkirakan devisa dari sektor pariwisata mampu mencapai sekitar US$ 25 miliar, nilai yang hampir setara dengan total tiga komoditas ekspor unggulan Indonesia.
"Dari pariwisata pendapatan dan devisanya sekitar US$ 25 miliar, itu hampir setara dengan top 3 ekspor kita, yaitu nikel, batu bara, dan kelapa sawit," pungkas Airlangga.