Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan dibayangi pengumuman hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDB BI) soal suku bunga acuan atau BI Rate pada Rabu siang, 21 Oktober 2026.
Mengutip Antara, Rabu, (21/10/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka mendatar 17.992 per dolar AS. Posisi rupiah ini sama seperti penutupan sebelumnya di posisi 17.992 per dolar AS.
Advertisement
"Rupiah hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh domestik antisipasi hasil keputusan RDG BI siang nanti,” ujar Analis Bank Woori Saudara Rully Nova.
Ia menuturkan, perkiraan pelaku pasar terpecah antara kemungkinan suku bunga tidak berubah atau kenaikan 25 basis points (bps) menjadi 6%.
Rully meyakini BI bakal mempertahankan suku bunga tetap di kisaran 5,75% guna menjaga daya beli masyarakat.
“Jika BI menaikkan suku bunganya, mungkin mempertimbangkan antisipasi bila The Fed tanggal 28 Oktober nanti jika jadi menaikkan bunga 25 bps menjadi 4,25 persen,” ujar dia.
Selain itu, ia menuturkan, harga minyak yang masih tinggi meningkatkan ekspektasi inflasi global dan yield obligasi AS.
Mengutip Anadolu, harga minyak mentah Brent turun sekitar 3% menjadi sekitar US$ 106 per barel pada Selasa, membalikkan kenaikan sebelumnya setelah sempat mendekati US$ 112 per barel pada sesi perdagangan yang sama.
Tolok ukur minyak internasional tersebut diperdagangkan pada harga US$ 106,18 per barel, turun US$ 3,37 per barel atau 3,07% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penurunan ini membuat harga Brent berada hampir 6 dolar AS per barel di bawah level tertinggi hariannya, yang menandai perubahan arah harga secara tajam.
Meskipun mengalami penurunan, harga Brent tetap sekitar 6,8% lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan hampir 75% lebih tinggi dibandingkan level pada periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran pada kisaran Rp 17.950 – Rp 18.100 per dolar AS.
Rupiah Menguat ke 17.992 per Dolar AS, Kebijakan Trump Jadi Pendorong
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Selasa. Rupiah naik 54 poin atau 0,30 persen menjadi 17.992 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 18.046 per dolar AS.
Penguatan juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). Kurs JISDOR tercatat menguat ke 18.006 per dolar AS dari posisi sebelumnya 18.050 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai penguatan rupiah dipengaruhi perkembangan kebijakan Amerika Serikat terhadap Rusia, termasuk pencabutan sejumlah sanksi dan tarif.
“Perintah eksekutif yang diterbitkan oleh Trump (Presiden AS Donald Trump) pada Jumat malam (16/10) mencabut sanksi dan tarif utama AS yang berkaitan dengan Rusia, termasuk bea atas barang-barang dari negara tersebut serta penalti bagi pihak yang membeli minyak dan gas Rusia,” ucapnya.
Trump menerbitkan perintah eksekutif terkait penerapan undang-undang baru mengenai sanksi terhadap Rusia, dengan sejumlah pengecualian terhadap tarif dan sanksi tertentu.
Perintah tersebut turut memuat ketentuan tarif tambahan bagi barang-barang dari negara yang membeli minyak dan gas Rusia maupun negara yang dinilai membantu penghindaran sanksi. Namun, Trump mengecualikan penerapan tarif tersebut dengan alasan kepentingan nasional AS.
Konflik Geopolitik dan Harga Minyak Jadi Perhatian
Selain kebijakan AS terhadap Rusia, pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ibrahim menyoroti konflik yang melibatkan Ansarullah Yaman dan Arab Saudi, yang menurut dia meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
“Serangan-serangan baru ini meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan dan menegaskan risiko yang terus ada terhadap pasokan energi dari wilayah tersebut, sehingga menjaga harga minyak tetap berada di atas USD 100 per barel,” kata Ibrahim.
Harga minyak yang bertahan tinggi menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar karena berpotensi memengaruhi biaya energi dan tekanan ekonomi global.
Di sisi lain, investor juga memperhatikan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Pernyataan sejumlah pejabat The Fed mengindikasikan keterbukaan terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut, meskipun belum memberikan sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober.
Ketidakpastian arah suku bunga AS menjadi perhatian pasar valuta asing karena dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara lain, termasuk rupiah.