Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mendorong pemerataan investasi pariwisata ke luar Jakarta dan Bali karena lebih dari 50% investasi sektor tersebut masih terkonsentrasi di kedua wilayah. Pemerintah mengoptimalkan kawasan ekonomi khusus (KEK), konektivitas penerbangan, promosi investasi, dan penyelenggaraan acara untuk memperluas manfaat ekonomi pariwisata.
Investasi pariwisata mencapai Rp 73,6 triliun pada 2025, tumbuh 56,5% dibandingkan 2024. Tren positif berlanjut pada semester I 2026 dengan realisasi investasi Rp 39,68 triliun, meningkat 16,64% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Advertisement
“Selain meningkatkan nilai investasi, kita juga perlu mendorong pemerataan investasi ke berbagai daerah untuk pembangunan dan manfaat ekonomi pariwisata yang lebih merata,” ujar Widiyanti dalam Rakernas KEK Triwulan III 2026 di Gedung A.A. Maramis, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Widiyanti menyebut keterbatasan konektivitas penerbangan internasional, dukungan lintas kementerian yang belum optimal, minimnya acara berskala internasional, serta kesenjangan keterampilan tenaga kerja masih menjadi tantangan pengembangan KEK pariwisata.
Kementerian Pariwisata bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengupayakan skema insentif bagi maskapai untuk membuka rute penerbangan baru. Pemerintah juga berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur prioritas di destinasi wisata.
Untuk menarik investor asing, Kementerian Pariwisata mempromosikan peluang investasi di pasar strategis, termasuk Abu Dhabi, Osaka, Seoul, dan Beijing. Pada 21 September 2026, kementerian tersebut juga memfasilitasi promosi investasi wisata maritim di Monako yang melibatkan KEK Kura-Kura Bali dan KEK Tanjung Lesung.
Mendorong Perputaran Ekonomi
Pemerintah turut mengandalkan penyelenggaraan acara untuk menggerakkan ekonomi daerah. Hingga September 2026, Kementerian Pariwisata telah mendukung 160 dari 209 acara yang direncanakan, dengan total pengunjung lebih dari 11,7 juta orang, keterlibatan lebih dari 120 ribu tenaga kerja dan 20 ribu UMKM, serta estimasi perputaran ekonomi Rp 22,14 triliun.
“Kami mengajak KEK untuk juga mendorong perputaran ekonomi di kawasannya melalui event yang dapat turut diidentifikasikan dan bersinergi dengan Kementerian Pariwisata untuk program-program event di destinasi tersebut,” kata Widiyanti.
Selain investasi dan promosi, pemerintah memperkuat kualitas sumber daya manusia pariwisata melalui enam politeknik pariwisata. Pada 2025, lembaga tersebut menghasilkan lebih dari 2.900 lulusan siap kerja, sementara program pelatihan dan sertifikasi kompetensi menjangkau lebih dari 2.600 peserta.
Widiyanti mengajak pengelola KEK memprioritaskan tenaga kerja lokal dan memperkuat pelatihan sesuai kebutuhan industri agar pengembangan kawasan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.