Liputan6.com, Washingto, DC- Popularitas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merosot ke titik terendah sepanjang sejarah dua masa jabatannya. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa kemarahan warga AS terhadap kenaikan biaya hidup di tengah perang AS-Israel melawan Iran yang sangat tidak populer dapat merugikan Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu atau midterm elections mendatang.
Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (21/10/2026), mayoritas warga AS tidak puas dengan kinerja Trump, menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis pada Senin. Survei tersebut juga menunjukkan lebih banyak pemilih berencana memberikan suara kepada Partai Demokrat dalam pemilu pada 3 November.
Advertisement
Secara historis, tingkat kepuasan terhadap presiden AS yang sedang menjabat cenderung menurun menjelang pemilu paruh waktu. Penurunan ini kerap beriringan dengan berkurangnya kursi yang dikuasai partai presiden di Kongres.
Dengan tingkat popularitas Trump yang lebih rendah dibandingkan para pendahulunya, sejumlah pakar menilai Partai Demokrat berpeluang mencapai target merebut kendali Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) dan Senat AS.
Seluruh 435 kursi DPR AS dan 33 dari total 100 kursi Senat akan diperebutkan dalam pemilu tersebut.
Saat ini, Partai Republik menguasai mayoritas tipis di DPR dengan 218 kursi berbanding 214 kursi milik Demokrat. Partai Republik juga memimpin di Senat dengan perolehan 53 kursi, sementara Demokrat menguasai 47 kursi.
Namun, Demokrat berupaya keras merebut mayoritas di kedua kamar Kongres. Jika berhasil, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan besar bagi pemerintahan Trump.
Popularitas Trump Turun, Demokrat Unggul 12 Poin
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan hanya sekitar 31 persen warga AS yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump. Angka tersebut menjadi yang terendah sepanjang dua masa jabatannya sebagai presiden, turun dari 32 persen dalam survei dua pekan sebelumnya.
Ketika ditanya partai mana yang akan mereka pilih jika pemilu paruh waktu digelar saat ini, sebanyak 47 persen responden memilih Demokrat, sedangkan 35 persen memilih Republik.
Hasil tersebut memberikan keunggulan 12 poin persentase bagi Demokrat, selisih terbesar yang pernah mereka catat dalam siklus pemilu kali ini. Keunggulan itu meningkat dari tujuh poin dalam survei dua pekan sebelumnya.
Penurunan dukungan terhadap Republik antara lain dipengaruhi meningkatnya jumlah pemilih perempuan yang memilih Demokrat. Sekitar separuh perempuan yang disurvei menyatakan memilih partai tersebut.
Selain itu, lebih banyak responden menilai Demokrat lebih mampu mengelola perekonomian AS. Sebanyak 40 persen responden memilih Demokrat dalam hal pengelolaan ekonomi, dibandingkan 33 persen yang memilih Republik.
Survei tersebut melibatkan 1.679 orang dewasa. Meski memberikan gambaran umum mengenai kecenderungan pemilih secara nasional, survei ini tidak menyajikan perincian dukungan berdasarkan masing-masing negara bagian. Karena itu, hasil pemilu masih berpotensi berbeda dari perkiraan.
Sejarah Pemilu Paruh Waktu Kerap Merugikan Partai Presiden
Penurunan popularitas presiden menjelang pemilu paruh waktu bukan fenomena baru dalam politik AS. Presiden dan partai yang menguasai Gedung Putih umumnya menghadapi penurunan dukungan dalam pemilu tersebut.
Menurut Center for Politics di University of Virginia, pendukung partai yang tidak menguasai kursi kepresidenan sering kali lebih termotivasi untuk memberikan suara dalam pemilu paruh waktu dibandingkan pendukung partai yang sedang berkuasa.
Lembaga tersebut juga menemukan bahwa dalam 12 dari 20 pemilu paruh waktu sejak 1946, tingkat kepuasan terhadap presiden yang sedang menjabat menurun antara Juli dan November, yakni periode menjelang pemungutan suara.
Sebaliknya, tingkat kepuasan meningkat dalam tujuh pemilu. Sementara itu, dalam satu pemilu, yakni pada 2006 di bawah Presiden George W. Bush, tingkat kepuasan terhadap presiden tidak mengalami perubahan.
Penelitian menunjukkan bahwa meskipun penurunan popularitas presiden merupakan pola yang lazim, tingkat kepuasan yang lebih tinggi tetap berkaitan dengan kerugian kursi yang lebih kecil bagi partai penguasa.
Sebaliknya, ketika tingkat kepuasan terhadap presiden merosot tajam, partai yang berkuasa cenderung kehilangan lebih banyak kursi.
Data The American Presidency Project yang dikelola University of California, Santa Barbara, menunjukkan bahwa dalam 18 dari 20 pemilu paruh waktu sejak 1946, partai yang menguasai Gedung Putih kehilangan kursi di DPR AS.
Tingginya popularitas presiden terkadang mampu mengurangi dampak tersebut. Pada pemilu paruh waktu 1990, misalnya, tingkat kepuasan terhadap Presiden George Bush mencapai 75 persen. Saat itu, Partai Republik hanya kehilangan delapan kursi jika menggabungkan perolehan di DPR dan Senat.
Penelitian yang menghimpun data University of California, Santa Barbara, juga menemukan bahwa presiden dengan tingkat kepuasan di bawah 50 persen cenderung menghadapi hasil pemilu yang buruk bagi partainya.
Pada 1994, ketika tingkat kepuasan terhadap Presiden Bill Clinton dalam pemilu paruh waktu pertamanya berada di angka 46 persen, Partai Demokrat kehilangan 52 kursi di Kongres.
Namun, situasinya berbeda pada pemilu paruh waktu berikutnya pada 1998. Ketika tingkat kepuasan terhadap Clinton meningkat menjadi 66 persen, Demokrat hanya kehilangan lima kursi.
Perang Iran Jadi Beban Politik Trump
Para peneliti menilai penurunan tajam popularitas Trump di tengah perang AS-Israel melawan Iran sangat mungkin berdampak negatif terhadap Partai Republik.
Berdasarkan agregasi data University of California, Santa Barbara, tingkat popularitas Trump tergolong yang terendah dibandingkan presiden-presiden AS lainnya dalam sejarah.
Dengan kondisi tersebut, peluang Republik mempertahankan mayoritas tipis di Kongres dinilai sangat kecil. Meski demikian, besarnya kerugian yang akan dialami partai tersebut akibat kebijakan Trump masih menjadi pertanyaan.
Republik masih memiliki sedikit harapan. Center for Politics mencatat bahwa dalam lima pemilu paruh waktu terakhir, tingkat kepuasan terhadap presiden yang tercatat melalui survei setelah pemungutan suara atau exit poll umumnya sedikit lebih tinggi dibandingkan hasil jajak pendapat sebelum pemilu.
Hal ini terjadi karena exit poll mencakup orang-orang yang benar-benar telah memberikan suara.
Dengan demikian, hasil akhir pemilu juga akan bergantung pada kemampuan masing-masing partai meyakinkan para pendukungnya untuk datang ke tempat pemungutan suara.
Demokrat Berpeluang Tambah Kursi di DPR dan Senat
Peluang Demokrat merebut kendali Kongres juga terlihat dalam proyeksi pemilu berdasarkan negara bagian dan distrik pemilihan.
NBC News, yang melakukan jajak pendapat sendiri dengan perincian berdasarkan negara bagian, memperkirakan Demokrat berpeluang merebut kursi Senat di North Carolina dan Maine dari Partai Republik.
Sementara itu, Alaska, Iowa, dan Texas dinilai sebagai negara bagian yang persaingannya masih terbuka bagi kedua partai.
Di DPR AS, NBC News memperkirakan terdapat 15 distrik yang berpotensi beralih dari Republik ke Demokrat. Selain itu, empat distrik yang saat ini dikuasai Republik dan tiga distrik milik Demokrat dikategorikan sebagai wilayah dengan persaingan ketat atau toss-up.
Jika Demokrat berhasil memenangkan seluruh persaingan ketat tersebut tanpa kehilangan satu pun kursi yang saat ini mereka kuasai, partai itu berpotensi menambah 22 kursi di DPR dan lima kursi di Senat.
Perolehan tersebut dapat mengubah peta kekuatan politik di Kongres AS sekaligus menjadi tantangan besar bagi Trump dalam melanjutkan agenda pemerintahannya.