Liputan6.com, Jakarta - Harga tembaga mengungguli emas sepanjang 2026 dengan kenaikan 15,8% sejak awal tahun dan lebih dari 30% dalam 12 bulan terakhir. Logam industri ini digunakan dalam elektronik, konstruksi, dan transportasi, serta kerap dipandang sebagai indikator aktivitas ekonomi.
Sebaliknya, kontrak berjangka emas turun 4,11% sejak awal tahun dan 4,52% dalam 12 bulan terakhir. Harga emas spot juga melemah 4,89% selama 12 bulan terakhir dan 4% sejak awal tahun.
Advertisement
CEO Ivanhoe Electric, perusahaan pertambangan dan eksplorasi yang berbasis di Arizona, Taylor Melvin, mengatakan pemerintah, kawasan, dan industri semakin berfokus pada kepastian akses terhadap logam untuk kepentingan keamanan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan infrastruktur teknologi sehingga menopang harga tembaga.
"Ini tentu menjadi waktu yang baik untuk berada di bisnis pertambangan tembaga secara global, khususnya di Amerika Serikat," kata Melvin melansir CNBC, Selasa (20/10/2026).
"Saat ini, kita benar-benar berada di dunia ketika logam yang dulu kita sebut, dan masih kita sebut, sebagai logam kritis, kini menjadi logam strategis dalam segala aspek,” ia menambahkan.
Permintaan AI dan Pertahanan
Permintaan tembaga dari sektor teknologi menjadi perhatian di tengah pertanyaan investor mengenai keberlanjutan belanja kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan infrastruktur oleh perusahaan teknologi berskala besar karena saham sektor tersebut yang melemah.
Namun, Melvin memperkirakan tembaga mampu bertahan menghadapi volatilitas pasar baru-baru ini.
"Ini adalah kantong permintaan baru, dan permintaan tembaga ini hampir tidak elastis,” kata Melvin mengenai sektor teknologi.
"Sulit membayangkan salah satu perusahaan teknologi besar ini akan mengambil keputusan investasi untuk pusat data berskala besar berdasarkan biaya tembaga," ia menambahkan.
Ketidakpastian Tarif Tembaga AS
Menurut Melvin, ketidakelastisan yang sama berlaku untuk sumber permintaan lain seperti keamanan dan anggaran pertahanan nasional. Permintaan tembaga serta dampak teknologi dan infrastruktur AI menimbulkan asumsi bahwa pasar sedang bertumbuh.
"Memang ada sedikit penyesuaian dan penurunan dalam valuasi [saham teknologi]. Namun, dua hal bisa benar pada saat bersamaan: sentimen pasar modal terhadap nilai saham bisa berubah, tetapi industri-industri tersebut juga bisa terus tumbuh dan menjadi sumber tambahan permintaan logam kita,” kata dia.
Kenaikan harga tembaga juga didukung ketidakpastian mengenai rencana Amerika Serikat mengenakan tarif atas tembaga olahan. Pada 2025, Departemen Perdagangan AS merekomendasikan tarif 15% yang mulai berlaku pada 1 Januari 2027. Namun, keputusan final atas usulan tersebut belum diumumkan secara terbuka.
Direktur Investasi Senior Aberdeen Investments sekaligus Pengelola abrdn Future Minerals Fund, Iain Pyle, mengatakan,karena potensi tarif AS, sebagian besar tembaga dunia kini disimpan di AS, dan belum jelas apakah persediaan tersebut akan tersedia bagi pasar lainnya.
Pada saat yang sama, persediaan di China tampak sangat rendah dan premium harga di sana terus meningkat. Dalam catatan tertanggal 15 Oktober, Pyle menyebut tembaga sebagai “contoh paling jelas” yang tidak mampu mengimbangi permintaan.
"Insentif yang lebih tinggi akan diperlukan dalam bentuk harga tembaga yang terus bertahan pada level tinggi,” tulis dia.
Ia menambahkan, masih ada risiko penurunan harga di sekitar pengumuman tarif, meski fundamentalnya positif dan potensi lonjakan harga meningkat.