Puing Roket China Jatuh di Kebun Sawit Kalimantan

Puing yang diduga berasal dari roket China Zhuque-2E ditemukan di perkebunan sawit Kalimantan Tengah. BRIN menjelaskan bagaimana benda itu bisa jatuh ke Bumi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 20 Oktober 2026, 15:55 WIB
Dua puing logam ditemukan di perkebunan sawit dekat Sampit, Kalimantan Tengah. (AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Indonesia menyelidiki temuan puing logam berukuran besar yang diduga berasal dari roket China. Benda tersebut jatuh di perkebunan kelapa sawit dekat permukiman dan lokasi kerja di Kalimantan Tengah.

Dikutip dari The straits Times, Selasa (20/10/2026), puing pertama ditemukan pekerja perkebunan pada Senin pagi (19/10/2026), setelah warga mendengar suara dentuman keras pada malam sebelumnya.

“Benda itu ada begitu saja di sana. Awalnya, saya mengira itu mungkin puing pesawat,” kata Wardi Tamroni, 51 tahun, yang menemukan benda tersebut di dekat Sampit.

Ia mengatakan puing jatuh sekitar 3 kilometer dari kompleks perumahan perusahaan sawit Agro Bukit tempatnya bekerja.

“Kami biasanya beraktivitas di area tempat benda itu jatuh,” ujarnya.

Beruntung, seluruh pekerja sudah pulang sehingga tidak ada korban. Juru bicara penerbangan sipil, Zachrudien, mengatakan insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan properti. Ia juga menyebut puing itu tidak menimbulkan risiko radiasi atau racun.

 

Dugaan BRIN

Dua puing logam ditemukan di perkebunan sawit dekat Sampit, Kalimantan Tengah. (AFP)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menduga puing tersebut berasal dari roket China Zhuque-2E. Pemerintah China sebelumnya mengumumkan roket itu telah meluncurkan 10 satelit dari lokasi peluncuran komersial di wilayah barat laut negara tersebut.

Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan tidak semua bagian wahana antariksa terbakar saat memasuki kembali atmosfer Bumi. Komponen yang tahan panas dapat mencapai permukaan.

“Fenomena ini merupakan salah satu kemungkinan penjelasan atas penemuan pecahan logam besar di perkebunan kelapa sawit di Sampit,” katanya.

Pada Selasa pagi (20/10/2026), puing kedua yang diduga berasal dari roket yang sama ditemukan sekitar 1 kilometer dari lokasi pertama. Kedua benda tersebut diperiksa di pangkalan udara militer terdekat.

Badan Antariksa Eropa (ESA) menyebut risiko korban akibat jatuhnya puing antariksa tanpa kendali masih relatif kecil, tetapi meningkat seiring bertambahnya aktivitas antariksa. Dalam laporan 2025, ESA mengaitkan peningkatan risiko pada periode 2019–2024 dengan bertambahnya kegiatan di luar angkasa.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya