Liputan6.com, Jakarta - Penggemar film horor dan semesta DC siap-siap dibuat merinding lewat Clayface! Berbeda dari film superhero yang identik dengan aksi spektakuler, film terbaru DC Studios ini mengusung genre horor psikologis dengan sentuhan body horror yang mengeksplorasi perubahan tubuh manusia secara mengerikan.
Film yang disutradarai James Watkins ini mengangkat kisah Matt Hagen, seorang aktor Hollywood yang mengalami perubahan hidup setelah menjadi korban kekerasan. Demi mengembalikan wajah dan kariernya, Matt menjalani perawatan eksperimental. Namun, keputusan tersebut justru membawanya ke jalan gelap yang penuh penderitaan dan dendam.
Advertisement
Clayface dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 21 Oktober 2026. Film berdurasi sekitar 108 menit ini dibintangi Tom Rhys Harries, Naomi Ackie, David Dencik, Max Minghella, dan Eddie Marsan. Dengan cerita yang lebih kelam dan menegangkan, film ini menawarkan sudut pandang berbeda terhadap salah satu karakter antagonis dari dunia Batman.
Sinopsis Film Clayface, Awal Mula Lahirnya Monster dari Gotham
Cerita Clayface berpusat pada Matt Hagen, seorang aktor yang kariernya sedang menanjak dan berpeluang menjadi bintang besar Hollywood. Sayangnya, kehidupannya berubah drastis setelah seorang bos kriminal merusak wajahnya. Peristiwa tersebut bukan hanya menghancurkan penampilannya, tetapi juga mengancam identitas dan masa depannya sebagai aktor.
Merasa kehilangan segalanya, Matt mencari cara untuk memulihkan wajahnya. Ia kemudian meminta bantuan seorang ilmuwan yang melakukan eksperimen terhadap kulit manusia. Perawatan mutakhir tersebut awalnya tampak menjanjikan karena mampu mengembalikan penampilan Matt.
Namun, keberhasilan itu ternyata datang dengan konsekuensi mengerikan. Tubuh Matt mulai berubah menjadi material menyerupai tanah liat hidup. Ia bukan lagi manusia seperti sebelumnya, sementara kondisi mentalnya juga semakin terguncang. Keinginannya untuk mendapatkan kembali kehidupan lama perlahan berubah menjadi obsesi yang merusak dirinya sendiri.
Di tengah perubahan fisik dan psikologis tersebut, Matt terseret dalam pusaran balas dendam. Ia ingin menghadapi orang-orang yang dianggap telah menghancurkan hidupnya dan merebut kembali apa yang hilang. Kisah ini mengeksplorasi sisi tragis seorang manusia yang terjebak antara ambisi, kehilangan identitas, dan keinginan untuk membalas perlakuan orang lain.