Rupiah Menguat ke 18.015 per Dolar AS, Sentimen Domestik Ini Jadi Penopang

Sentimen internal dan eksternal seperti geopolitik di Timur Tengah mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Selasa, (20/10/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 20 Oktober 2026, 11:24 WIB
Petugas menunjukkan uang rupiah di penukaran uang, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melesat pada pembukaan perdagangan Selasa, (20/10/2026). Analis menilai, lonjakan rupiah terhadap dolar AS ini dipicu sentimen positif rencana saham-saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dikeluarkan dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 31 poin atau 0,07% menjadi 18.015 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.046 per dolar AS.

“Rupiah walau masih penuh ketidakpastian, namun langkah pemerintah yang di antaranya mengeluarkan saham HSC dari IHSG diharapkan bisa memberikan sentimen positif dan dukungan pada ekuitas domestik rupiah,” ujar Analis Doo Financial Lukman Leong.

Adapun saat ini tercatat 80 saham masuk kategori HSC. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menuturkan, sebanyak 80 saham HSC atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi tersebut memiliki bobot sebesar 18 persen dari IHSG. Jeffrey mengatakan, dikeluarkannya dari IHSG bukan berarti saham-saham HSC tersebut dilakukan delisting (penghapusan pencatatan) dari BEI.

Selain itu, saham-saham tersebut juga masih dapat diperdagangkan namun pergerakan harganya tidak akan mempengaruhi pergerakan IHSG.

Tujuan implementasi kebijakan tersebut untuk memberikan gambaran pergerakan IHSG yang lebih wajar, karena ada potensi risiko dalam saham-saham di dalam HSC.

Sentimen lainnya datang dari eksternal terkait eskalasi di Timur Tengah (Timteng) dan perang Ukraina dengan Rusia turut memberikan sentimen negatif terhadap rupiah.

“Eskalasi Timteng dan perang Ukraina-Rusia yang menyebabkan harga minyak mentah yang masih terus naik akan kembali memberikan tekanan pada rupiah,” kata Lukman.

 

Prediksi Rupiah

Teller menghitung mata uang Rupiah di Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Mengutip Xinhua, West Texas Intermediate untuk pengiriman November harga minyak mentah naik US$ 2,25, atau 2,22%, menjadi ditutup pada harga US$ 103,66 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turun 31 sen, atau 0,28% , menjadi ditutup pada harga 109,55 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.

Berdasarkan sentimen itu, rupiah akan bergerak di kisaran 17.950-18.100 per dolar AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya