Liputan6.com, Jakarta - PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menyatakan bahwa seluruh kegiatan operasional dan perawatan kereta cepat Whoosh kini sepenuhnya ditangani pekerja Indonesia. Hal ini merupakan hasil proses transfer pengetahuan bersama tenaga profesional asal Tiongkok yang telah berlangsung sejak 2023.
General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kehadiran Whoosh tidak hanya menghadirkan transportasi modern, tetapi juga menjadi sarana peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia dalam menguasai teknologi kereta cepat.
Advertisement
“Melalui proses transfer pengetahuan yang terstruktur selama tiga tahun, tenaga Indonesia kini telah mampu menjalankan seluruh kegiatan operasi dan perawatan Whoosh secara mandiri,” kata Eva melansir Antara di Bandung, Senin, 19 Oktober 2026.
Eva menjelaskan proses transfer pengetahuan berlangsung sejak 2023 melalui pendampingan tenaga profesional asal Tiongkok yang tergabung dalam Operation and Maintenance Consortium (OMC).
Pada awal operasional, tenaga profesional Tiongkok terlibat langsung dalam kegiatan operasi dan perawatan sekaligus mendampingi pegawai Indonesia.
"Ini merupakan pencapaian penting yang membuktikan kemampuan SDM Indonesia dalam menguasai teknologi perkeretaapian berkecepatan tinggi,” ujar Eva.
Seiring meningkatnya kompetensi tenaga Indonesia, jumlah tenaga pendamping dari Tiongkok dikurangi secara bertahap hingga seluruhnya menyelesaikan masa tugas dan kembali ke negara asal pada Agustus 2026.
Artikel Operasional Whoosh Kini Sepenuhnya di Tangan Pekerja Indonesia menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com?Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Selasa, (20/10/2026):
1. Operasional Whoosh Kini Sepenuhnya di Tangan Pekerja Indonesia
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menyatakan bahwa seluruh kegiatan operasional dan perawatan kereta cepat Whoosh kini sepenuhnya ditangani pekerja Indonesia. Hal ini merupakan hasil proses transfer pengetahuan bersama tenaga profesional asal Tiongkok yang telah berlangsung sejak 2023.
General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kehadiran Whoosh tidak hanya menghadirkan transportasi modern, tetapi juga menjadi sarana peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia dalam menguasai teknologi kereta cepat.
“Melalui proses transfer pengetahuan yang terstruktur selama tiga tahun, tenaga Indonesia kini telah mampu menjalankan seluruh kegiatan operasi dan perawatan Whoosh secara mandiri,” kata Eva melansir Antara di Bandung, Senin, 19 Oktober 2026.
Eva menjelaskan proses transfer pengetahuan berlangsung sejak 2023 melalui pendampingan tenaga profesional asal Tiongkok yang tergabung dalam Operation and Maintenance Consortium (OMC).
2. OJK Siapkan Aturan Konsolidasi Bank
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan kerangka kebijakan dan mekanisme konsolidasi perbankan untuk memperkuat struktur industri keuangan nasional. Dalam proses tersebut, bank yang masuk kelompok berdasarkan modal inti (KBMI) 1 didorong mengevaluasi kondisi bisnis dan memperkuat permodalan, termasuk melalui konsolidasi.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan, OJK menyatakan penguatan perbankan melalui konsolidasi merupakan agenda strategis yang perlu dijalankan secara terarah dan hati-hati.
"Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan serta daya saing bank di tengah perkembangan teknologi, percepatan digitalisasi, ketidakpastian ekonomi global, dan meningkatnya risiko serangan siber," kata dia dalam jawaban tertulis, dikutip Senin (19/10/2026).
OJK menilai bank-bank KBMI 1 masih memiliki ruang untuk memperkuat modal dan memperbesar skala usaha. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pertumbuhan organik maupun langkah anorganik, termasuk penggabungan usaha.
3. Bareskrim Usut Dugaan Beras Fortifikasi Palsu, Potensi Kerugian Rp 89 Triliun
Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Irjen Pol Asep Safrudin, menegaskan pihaknya bakal menelusuri perusahaan yang diduga terlibat dalam praktik penipuan beras fortifikasi palsu. Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut atas potensi kerugian konsumen yang ditaksir mencapai Rp 89 triliun.
Rencana penegakan hukum tersebut diungkapkan Asep usai menggelar pertemuan dengan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Ia memastikan saat ini sudah ada empat laporan polisi yang masuk dan sedang dalam proses penanganan.
"Kami mendapatkan informasi dari Pak Menteri. Kita akan cek penanganannya di Bareskrim seperti apa. Kemudian, ada empat laporan polisi yang sedang kami proses," ungkap Asep saat ditemui di kawasan Kalibata, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Sebagai langkah konkret, Bareskrim Polri akan memeriksa sejumlah perusahaan yang terindikasi terlibat. Proses pemeriksaan ini mencakup tahap penyelidikan hingga tindakan penegakan hukum.
"Sesuai arahan Bapak Kapolri, jajaran kepolisian harus betul-betul menjamin seluruh program pemerintah serta program strategis Bapak Presiden Prabowo berjalan lancar. Sebab, ini berhubungan langsung dengan hajat hidup orang banyak," tegas Asep.
Berita selengkapnya baca di sini