Uji Coba Prasmanan di 66 SPPG, BGN Targetkan Ribuan Dapur Akhir 2026

Uji coba prasmanan di 66 SPPG pada 10 provinsi diklaim menekan sisa makanan.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 19 Oktober 2026, 20:33 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dalam Rapat Koordinasi Terbatas Menteri Koordinator Bidang Pangan di Ruang Rapat Utama Kemenko Bidang Pangan, Senin (19/10/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Uji coba prasmanan Makan Bergizi Gratis (MBG) di 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada 10 provinsi diklaim menekan sisa makanan.

Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan skema ini meluas ke 1.000 hingga 5.000 dapur akhir tahun. Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan menyebut skema ini lahir dari upaya membenahi masalah lapangan.

"Untuk mengurangi hal-hal yang keracunan dan lain-lain, delivery yang panjang dan seterusnya, makanan yang dingin dan seterusnya," ungkap Zulkifli, Senin (19/10/2026).

Ia menyatakan, tak ada makanan yang tersisa ketika skema ini dijalankan.

"Kelihatan sisa makanan tidak ada, bersih. Ada yang masih lapar, dia bisa tambah lagi," ujarnya.

Meski begitu, Zulkifli menegaskan hasil itu belum final. "Ini masih piloting, baru di 66 tempat," ujar dia.

Sementara, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyebut tambahan porsi masih terbuka. "Kalau masih ada sisa, masih bisa tambah," ujarnya.

Ia menargetkan ada 1.000 hingga 5.000 unit yang berkenan memberlakukan skema tersebut.

"Saya berkeinginan, paling tidak sampai dengan akhir tahun minimal seribu, paling tidak ada sampai dengan lima ribu, Karena kan prasmanan ini dapurnya harus mau, artinya dia memang bisa, karena dia ada nambah sedikit kerepotan. Kemudian sekolahnya juga mesti mau, karena sekolahnya juga ada sedikit kerepotan," katanya.

Ketika ditanya soal biaya, Sudaryono mengungkap hal tersebut masih dalam tahap perhitungan, "Dari sisi operasional sedang kita hitung, kita kaji, kira-kira bisa kurang berapa atau jangan-jangan lebih berapa. Makanya namanya piloting kan kita lihat, kerepotannya di sebelah mana, terus butuh tenaga kerja berapa orang."

 

 

 

Edukasi Sekolah dan Benchmarking

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dalam Rapat Koordinasi Terbatas Menteri Koordinator Bidang Pangan di Ruang Rapat Utama Kemenko Bidang Pangan, Senin (19/10/2026).

Di sisi lain, Sudaryono juga menyinggung soal edukasi lebih lanjut di sekolah mengenai skema prasmanan, terutama terhadap murid kelas satu dan dua yang menurutnya butuh pendampingan lebih.

"Kelas satu, dua masih kecil-kecil, beda dengan kelas lima, enam," kata Sudaryono.

Ia menyebutkan, saat ini di media sosial sedang ramai karena murid-murid yang dilibatkan.

"Ya memang begitu, bagian dari edukasi kita. Kalau kita lihat di banyak negara begitu. Bahkan kalau kita lihat di Medsos juga, orang kagum sama MBG di China, di mana anaknya nyuci ompreng. Sementara di sini dihujat, kok nyuci ompreng?" ujar dia.

Bagi Sudaryono, prasmanan menjadi inovasi penting yang bersifat acuan.

"Sifatnya adalah benchmarking saja, kita lihat success story di banyak negara seperti apa, kita copy, kemudian kita modifikasi sedikit, sehingga harusnya enggak susah karena memang sudah ada best practice-nya," ujar dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya