Liputan6.com, Jakarta - Prancis dilanda gelombang aksi jual baru di pasar surat utang atau obligasi dan saham pada Senin, (19/10/2026). Aksi jual saham dan obligasi di Prancis ini seiring protes keras pada akhir pekan lalu yang mengakibatkan gedung-gedung publik Dibakar, ratusan toko dijarah dan ribuan orang ditangkap.
Mengutip the Guardian, Senin, (19/10/2026), Kementerian Dalam Negeri pada Minggu, 18 Oktober 2026, hampir 2.400 orang telah ditangkap. Polisi mengerahkan gas air mata dalam konfrontasi melawan pengunjuk rasa.
Advertisement
Dalam pidato yang disiarkan pada Minggu malam, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengutuk kekerasan yang tak terkendali.
“Melihat gambar-gambar ini, kita semua bertanya pada diri sendiri, apa yang ada di benak mereka? Bagaimana mungkin orang Prancis melakukan ini terhadap Prancis,” kata dia.
Kekacauan ini membuat investor surat utang pemerintah Prancis khawatir. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik tujuh basis poin menjadi 4,849%. Adapun imbal hasil akan naik ketika harga obligasi turun.
Hal ini memperlebar selisih biaya pinjaman tenor 10 tahun antara Prancis dan Jerman, sebuah tolok ukur untuk premi risiko yang melekat pada utang Prancis. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor dua tahun naik 2,5 basis poin menjadi 3,571%.
Kekerasan meletus di seluruh negeri setelah berminggu-minggu berlangsung demonstrasi damai terkait kondisi di sekolah-sekolah serta biaya hidup.
Meskipun puluhan ribu orang telah berpartisipasi dalam aksi damai untuk menuntut penambahan jumlah guru dan perbaikan sekolah-sekolah yang rusak, kelompok-kelompok lain justru terlibat bentrokan dengan polisi di berbagai kota, termasuk Paris, Bordeaux, Nice, dan Marseille.
Jim Reid dari Deutsche Bank mengatakan, protes tersebut tidak akan memudahkan komunitas internasional untuk merasa sepenuhnya nyaman membeli OAT atau obligasi pemerintah Prancis.
"Dengan kondisi fiskal Prancis yang sudah sulit ditambah dengan mendekatnya pemilihan umum tahun 2027, peristiwa akhir pekan ini menambah lapisan risiko politik baru bagi pasar,” ujar Jim.
Obligasi tenor 30 tahun, yang menjadi acuan bagi biaya pinjaman jangka panjang pemerintah Prancis, mencatat kenaikan tiga basis poin menjadi 5,397%.
Euro dan Indeks CAC 40 di Prancis Melemah
Meningkatnya biaya pinjaman akan memberikan tekanan lebih lanjut terhadap keuangan publik di Prancis. Hal ini saat pemerintah berupaya mengesahkan anggaran untuk tahun depan guna mengendalikan defisit.
Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Prancis tercatat 115,6% pada 2025 dengan defisit anggaran 5,1%. Sebagai perbandingan, angka untuk Inggris masing-masing 94,3% dan 4,3%.
Pemerintah Prancis tengah menyusun anggaran yang mencakup pemangkasan belanja pensiun serta pendanaan untuk berbagai departemen pemerintah, kecuali sektor pertahanan. Namun, muncul kekhawatiran bahwa tekanan politik dapat menggagalkan rencana tersebut, yang berpotensi meningkatkan kebutuhan pinjaman dan menambah beban utang negara.
Mata uang euro juga melemah terhadap dolar AS, turun 0,4% dalam perdagangan awal Senin menjadi US$ 1,1197.
Indeks CAC 40 Prancis, yang mencakup perusahaan-perusahaan terbesar yang terdaftar di Paris, turun 1% pada awal perdagangan, sementara indeks pan-Eropa Stoxx Europe 600 mencatat penurunan sebesar 0,4%.